Pemuda anti kekerasan membentuk e-learning sistem konflik

Jayapura, Tiruupapua.com – Pemuda dan mahasiswa anti kekerasan membentuk sistem e-learning  atau pembelajaran dini antisipasi konflik di Papua berbasis aplikasi ineternet. Sistem itu terbentuk paska pelatihan yang digelar bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat penggerak perdamaian.

“Sistem peringatan itu mendeteksi mulai dari pengaruhnya dan peluang konflik kemudian respon dini sebelum konflik itu benar terjadi dan menjadi besar,” kata  Koordinator Lembanga Penelitian Penerangan Pengembangan, Sosial (LP3S) Zainal, kepada Jubi, Rabu (6/11/2017).

Menurut Zaenal, pemuda dan mahasiswa sebelumnya mengikuti pelatihan menganalisa konflik, yang diharapkan  mampu mendeteksi konflik yang akan terjadi di lingkungan sekitarnya. Sejumlah rangkaian kegiatan mencegah konflik di Kota Jayapura itu dilakukan dengan rangkaian penelitian, seminar, pembekalan dan  membentuk sistem e-learning.

“Salah satu e-learning sistem ini berisi sejarah konflik lokal, instrumen untuk memahami sejarah lokal,” kata Zaenal menambahkan.

Sistem itu juga mampu melatih anak-anak muda menguasai metodologi penelitian sebagai salah satu cara memahami sejarah konflik.  Secara umum sistem aplikasi itu mampu merekam konflik yang sifatnya laten sehingga mudah diingat atau ditulis, tapi  ia menyebutkan tidak akan dipakai dalam proyeksi dalam konflik lain.

“Proyeksi ini adalah lagkah awal untuk membangun sistem deteksi dini. Anak anak yang bisa melengkapi dengan pelatihan monitoring terhadap konflik,” katanya.

Direktur Ilalang Papua, Hardin Halidin, mengatakan, peran anak muda dan mahasiswa digelar di Jayapura itu sebagai upaya mencegah konflik masyarakat di Papua. “Ketika kita sudah mengetahui konflik harus dicegah. Agar tidak merembes kemana mana,” kata Hardin.

Menurut dia, terdapat  empat sumber konflik yang harus dicegah, yaitu isu agama, isu suku etnis, isu Otsus, politik di Papua. “Ini  perlu diperkaya kearifan lokal untuk mencegah konflik,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan