Pasung

Pemasungan dipakai untuk mengungkapkan kebebasan berekspresi di Tanah Papua sejak integrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Pemasungan berasal dari kata pasung sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut pasung adalah alat untuk menghukum orang, berbentuk kayu apit atau kayu berlubang, dipasangkan pada kaki, tangan, atau leher.

Dengan demikian, orang yang dipasung adalah orang yang dibelenggu dengan alat berbentuk kayu apit yang berlubang yang dipasangkan pada kaki, tangan atau leher. Tak heran kalau pasung ini sangat relevan dengan kasus penangkapan dan penahanan ribuan warga Papua hingga akhirnya dibebaskan.

Meminjam analogi tersebut aktivis HAM Cristian Warinussy menyebut bahwa kebebasan berekspresi orang Papua telah dibelenggu sehingga mereka tak bisa lagi berekspresi soal merdeka harga mati.Ini berarti telah terjadi pemasungan bagi kebebasan bagi orang Papua yang dianggap berseberangan dalam berpolitik.

Warinussy menegaskan menurut data mereka hingga menjelang akhir tahun 2016, sudah hampir 8.000 orang Papua yang senantiasa ditangkap, dianiaya serta ditahan dan diproses secara hukum karena menyampaikan pandangan politik yang berbeda secara damai.

Pemasungan demokrasi semakin lengkap dengan keluarnya maklumat Kapolda Papua sehingga kebebasan semakin terbatas. Apalagi kalau keluar dari batasan-batasan yang ditetapkan, padahal sesuai dengan hak asasi manusia kebebasan berekspresi sama di depan hukum internasional.(*)

(DAM)

Tulisan dengan judul “Pasung” adalah editorial di Koran Jubi Edisi 2 Januari 2017. Editorial ini kembali dipublis oleh Redaksi Tiruupapua.com atas kesepakatan pimpinana Redaksi Tabloid Jubi dan Koran Jubi.

Tinggalkan Balasan