Teladan dan Kemandirian Mama Shagi

 

“Sanggup Menghidupi Keluarganya dan berhasil Memanusiakan Anak-Anaknya Dengan Usaha Sederhannya.

Jayapura, Tiruupapua.com – Papua tanah yang kaya tetapi kami hanya berjualan buah buah pinang begitulah Lirik lagu ciptaan Frangky Sailatuha yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit.

Kisah mama mama Papua dalam memperjuangkah kehidupan di seluruh Papua tidak jauh berbeda beda. Mereka berjualan di pinggiran jalan, di bawah sombaran Pohon, duduk di tepi jalan. Penuh debu penuh sengsara itulah kisah keseharian yang di lakukan oleh mama-mama pedagang asli Papua di seantero Tanah Papua.

Satu dari sekian cerita tentang mama-mama Papua yang berjuang mempertahankan hidupnya ialah Mama Shagi. Mama Shagi berjualan persis sebelum memasuki pelabuhan engros.

Ia, berjualan dengan atap seng buatanya sendiri tanpa ada uluran tangan dari orang  lain ”pemerintah”. Kesederhanaan tempat jualan tidak menjadi ukuran, yang penting baginya bisa berjualan dan mengais rejeki di tempat yang sederhananya.

Mama Shagi itulah, ciri khas Mama Papua yang selalu tetap tabah komitmen dalam melakukan usahnya. Keresahan mama-mama papua untuk mendapatkan tempat yang layak merupakan aspirasi sederhana yang layak dihormati, sebagi tulang punggung orang papua dalam dunia bisnis, dan proses itu merupakan titik awal proteksi kehidupan orang papua.

Untuk berjualan di sebelah mama Sangi mesti harus menggunakan Spead Boad untuk menyebrangi lautan teluk Yotefa. “Saya berjualan setiap hari kecuali hari minggu. Saya tidak pernah pesimis walau tidak pernah jualannya terjual. Tetapi mala itu ia menjadikan sebagi keindahan alam dan anugerah Tuhan yang patut ia nikmati dan syukuri,” katanya.

Lanjut mama Shagi, “Yah itulah perjuangan kita mama-mama papua untuk menghidupi kitong pu anka-anak  dan mewujudkan impian mereka” ujar mama sanggi kepada tiruupapua.com.

Mama tinggal dimana?

“Saya tinggal di Pulau Engross”.

Lalu Pukul berapa mama berangkat dari kampung enggros ke tempat jualan ini?

“Saya biasanya berangkat Pukul 8.00 pagi kadang pukul 10.00 pagi”

Kira-kira sudah berapa tahun mama jaualan di tempat ini ? “Mama sudah lama  berjualan di lokasi ini dan lokasi pelabuhan engross  ini saya dan bapak yang memunyai tanah ini yang jaga serunya sambil ketawa”.

Kemudian apa pekerjaan mama dan bapak apa?

“Pekerjaan kami nelayan selain itu menjual pinag, es sirup, keripik dan mencari kerang  kadang kita jual dan kadang kita makan untuk keluarga. Kadang ikan yang kita dapatkan itu kita jual sama pedagang  dong….!

“Uang dari hasil jualan itu saya simpan dan bagi dua lain untuk kita gunakan melengkapi kebutuhan kita dan  untuk membiayai sekolah anak anak kami.  Biasanya mama mendapatkan buah pinang dan hasil jualan lainya dari siapa dan jualan lainya? Saya biasa ambil  dari saudara dong di Skow, karena pinang ini di tempat kami tinggal tidak bisa ditami pohonnya, dan kalau keripik kami beli baru jual lagi dengan harga yang berbeda, es siruppun demikian,” kata Shagi.

Lalu hasil yang mama dapatkan ini mama gunakan bagimana dengan kondisi keluarga yang lumayan banyak? “Saya kalau seharian dapatkan 200 ribu rupiah maka 100 saya sisakan untuk anak-anak dan jadi dalam keluaga itu jumlahnya ada 5 tidak terhitung dengan anak lelaki yang bertugas di Fak-Fak.” Katanya.

Hasil yang mama dapatkan dalam keseharian berapa? Tergantung para pengunjung tempat ini kalau hari hari libur itu mama biasanya dapatkan 200 perhari kadang kalau pengunjung kurang berarti mama biasanya dapatkan 50.000 rupiah  kalau tahun tidak sampai lewat juta tambahnya.

Lalu Jumlah keluarga ada berapa? “Jumlah anak kami Semuanya jumalahnya 5 anak, yang tua laki-laki sudah menjadi Polisi di Fak-Fak, dan anak yang kedua perempuan dan sudah bekerja dan tugas di Kantor Lurah Kampong Enggros. Sedangkan yang di bawah perempuan ini maasih SMA kelas 2 dan yang di bawahnya lagi laki-laki masih SMP kelas 1 sementara anak saya yang bungsu masih SD tambahnya lagi,” katanya.

“Saya pelihara juga anak leki-laki dari anak polisis itu disamping saya ini,” katanya menambahkan.

***

Mama Shagi patut dihargai ialah komitmen dan ketabahannya dalam menjalankan tugas mulianya. Sebab mama Papua adalah tulang punnggung orang papua dalam berwirausaha.

Betapa gigihnya mama-mama Papua dalam menjalankan usahanya. Berjuang menghidupi keluarga mulai dari berjualan dan yang usaha lainya, mereka adalah mama yang layak diteladani dan dapat pula kita katakan sebagai tulang punggung “Orang Papua” dalam melakoni bidang usaha.

Untuk menjalankan usaha yang baik tentunya mama juga perlu difasilitasi, Banyak mama-mama papua yang merindukan akan tempat yang layak untuk berjualan. Begitulah kerinduan yang hilang entah kemana ? Mungkin keinginan mama-mama ini, hanya puisi mati yang belum diraba mayatnya oleh pembunuh maklum ragam keinginan mama untuk menghidupkan usahanya. Hanyalah tinggal keiginan. (*)

 

Tinggalkan Balasan