Bencana Kesehatan di Papua, KLB Penyakit Menular sekitar 60 orang balita meninggal dunia

Bencana kesehatan itu terulang lagi di Papua. Jumlah korbannya kali ini pun tidak sedikit.

Kejadian luar biasa campak dan gizi buruk dalam empat bulan terakhir di Kabupaten Asmat telah memakan korban anak-anak sangat banyak. Pada awalnya jumlah korban meninggal dalam bencana kesehatan itu. Informasi tentang jumlah anak meninggal dalam bencana kesehatan tersebut meningkat lagi menjadi 58 anak. Dan bertambah lagi menjadi 61 anak meninggal. Itu belum termasuk ratusan anak-anak yang masih dirawat di rumah sakit maupun yang belum tertangani. Kementerian Kesehatan menilai salah satu faktornya adalah imunisasi yang tidak optimal di Asmat. Dalam ungkapan yang lebih lugas, wabah campak muncul lagi karena program imunisasi di wilayah itu belum merata. Tidak semua anak di Asmat terjangkau oleh program imunisasi.

Dalam keadaan itu penularan dan penyebaran campak sangat mungkin terjadi pada saat ada momentum berkumpulnya warga. Wabah campak di Asmat kali ini, seperti diduga oleh Steven Langi–mantan Direktur Rumah Sakit Umum (RSUD) Agats muncul saat pergelaran pesta budaya Asmat yang berlangsung pada akhir 2017 lalu. Dalam acara itu hampir semua warga masyarakat Asmat berkumpul.

Wabah campak tentu akan lebih mematikan jika menjangkiti anak-anak dengan masalah gizi buruk. Padahal khususnya sayuran dan ikan, seperti disampaikan oleh Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito yang dikutip Kompas, makanan bergizi di Asmat sangat kurang.

Mereka yang jauh dari Ibukota Kabupaten Asmat, menurut Murwito, tidak setiap hari mendapatkan ikan. Mereka juga relatif kurang mempunyai kesadaran untuk hidup sehat. Jika menghitung mundur ke empat bulan sebelum Januari 2018, sebetulnya bencana kesehatan di Papua bukan cuma terjadi di Kabupaten Asmat. Pada September 2017 lalu kabar tentang warga Kabupaten Yahukimo yang meninggal karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik sudah terdengar, meski tidak sesanter berita wabah di Asmat kali ini. Jumlahnya pun cukup besar: 38 orang. Semuanya meninggal dalam keadaan sakit dan tak mendapat pelayanan kesehatan yang selayaknya.

Kepala Dinas Kesehatan Papua, Aloysius Giyai, seperti dikutip Suara.com mengakui,

“Kami kesulitan mengetahui penyebab kematian itu. Tetapi berdasarkan wawancara dengan masyarakat di kampung tersebut, analisis kemungkinan penyebab kematian antara lain Bronchopneumoni dan TBC atau penyakit paru-paru, diare atau penyakit saluran pencernaan, malaria dan HIV/AIDS.”

Pada awalnya anak-anak yang meninggal karena “penyakit misterius” di kabupaten itu disebut-sebut berjumlah 41 orang. Belakangan ada juga yang menyebut korban meninggal dalam bencana kesehatan itu adalah 74 anak. Ada juga yang menyatakan jumlah anak-anak yang meninggal itu mencapai 66 orang.

Berdasarkan uji laboratorium atas sampel yang diambil dari warga oleh Kemenkes, penyakit yang dianggap misterius oleh warga itu ternyata disebabkan oleh kuman Pneumococcus dan Japanese encephalitis. Kedua bakteri itu menyebabkan radang paru-paru, gangguan pendengaran, dan bisa juga menyebabkan infeksi di bagian saluran pernapasan lain seperti sinus.

Bencana kesehatan yang terjadi di Asmat telah mendapat perhatian dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kita berharap pemerintah pusat maupun daerah langkah-langkah yang efektif untuk menanggulangi bencana itu dengan segera.

PEMERINTAH Provinsi Papua menurunkan tim khusus dan Tim Media untuk melakukan tindakan pengobatan dan pendataan terhadap korban meninggal, akibat wabah campak dan gizi buruk yang menyerang sejumlah distrik di Kabupaten Asmat, Papua. Sebab, pendataan ini dirasa penting guna memastikan data korban meninggal dan mencegah terjadinya kesimpangsiuran data yang selama ini terlanjur dipublikasikan berbagai pihak.

“Saya sudah tugaskan Dinas Kesehatan, untuk membentuk tim Khusus dan Tim Medis yang turun ke sana (Asmat) untuk memastikan tempat tinggal korban meninggal, siapa nama orangtuanya. Kita harus pastikan semua identitasnya, karena ini sudah jadi berita nasional,” ( Lukas Enembe Rabu (17/1) )

Hingga kini, tercatat jumlah korban meninggal akibat wabah campak telah dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Gubernur menuturkan, salah satu kendala yang dihadapi pemerintah dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan bagi warga setempat ialah kebiasaan hidup mereka yang suka berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Apalagi, mereka hidup di pinggiran sungai yang lebih memudahkan akses mereka untuk berpindah tempat. Karena itu, ujarnya, pihaknya berharap ke depan tak terjadi lagi kasus seperti ini. Pasalnya, kasus kematian anak akibat wabah penyakit bukan baru kali pertama terjadi di Papua. Ia mengatakan, di beberapa Kabupaten lainnya juga pernah terjadi kasus seperti ini seperti di Kabupaten Nduga, Dogiyai,Yahukimo, Deyai.

“Saya minta tolong jangan dikaitkan dengan masalah politik, karena memang ya kondisi Papua seperti ini,” ( Lukas Enembe )

” Sebenarnya dana kesehatan paling besar dikirim ke kabupaten, baik melalui dana Otonomi Khusus, Dana Alokasi Khusus, dan dana lainnya dari pemerintah pusat. Bahkan program Gerbang Mas Hasrat Papua, program 1.000 hari kehidupan, Kartu Papua Sehat (KPS) juga telah diberikan ke setiap kabupaten, termasuk Asmat ” ( Lukas Enembe )

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Papua, Aloysius Giyai, mengungkapkan, pihaknya telah menurunkan tim medis yang terdiri atas dokter dan perawat ke daerah yang terkena wabah. Selain itu, juga telah dikirimkan logistik berupa makanan tambahan seperti bubur instan dan susu, obat obatan, termasuk obat untuk imunisasi. Dikatakannya, pendataan korban meninggal mencakup nama, jenis kelamin, umur, nama orangtua, serta alamat. Selanjutnya, segera dilakukan evaluasi untuk mengambil langkah langkah konkret.

Polda Papua membentuk satuan tugas terpadu untuk menangani dampak kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua.  Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, Satgas yang dibentuk sejak 15 Januari 2018 itu terdiri dari personel kepolisian, TNI, dan pemerintah daerah.

“Kemarin sudah berangkat melalui jalur Mimika, jalur laut. Karena Pulau Tiga posisinya lebih dekat dari jalur Asmat,” ujar Kamal di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Akses yang bisa dilewati untuk mencapai Asmat hanya jalur laut dan sungai. Tim tersebut membawa bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan susu untuk menunjang gizi mereka. Ada pula bantuan makanan untuk balita dari Pertamina dan sejumlah bank.

“Di sana kami bukan (menangani) yang sakit saja, tapi bagaimana kondisi kesehatan ini akan menjadi lebih baik,” kata Kamal. 

Oleh karena itu, selain menanggulangi, diperlukan juga upaya mencegah seperti pemberian vaksin dan sebagainya.  Kamal mengatakan, wabah campak dan gizi buruk terjadi karena kekurangan makanan dan lingkungan yang tidak sehat.  Selain itu, fasilitas kesehatan juga masih sangat minim.

“Kan di sana itu rawa-rawa. Untuk masyarakat Asmat dari rumah ke rumah itu jauh sampai setengah kilometer,” kata Kamal.

Menurut pemerintah daerah setempat, tercatat ada 61 anak sejak bulan September 2017 hingga saat ini dikabarkan meninggal dunia akibat terkena penyakit tersebut. Tim kesehatan dari Pemda setempat sudah diterjunkan ke 23 distrik (kecamatan) yang mencakup 224 kampung (desa). Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan wabah campak yang lebih besar.

Hingga kini, telah didistribusikan 1,2 ton obat dari pihak Kementerian Kesehatan dan TNI sebagai kebutuhan penderita gizi buruk dan campak di Distrik Sawa Erma, Kolof Brasa, dan Pulau tiga. Pada rapat koordinasi KLB gizi buruk dan campak di Asmat yang dihadiri oleh tim dari Kemenkes, Kapolda, Kementerian Sosial, Bupati Asmat, Danrem, KSP, Keuskupan, dan ketua adat, telah dilaporkan sudah ada sebanyak 1,2 ton obat yang terdistribusikan.

Berdasarkan rilis Kemenkes RI, Kamis 18 Januari 2018, Kementerian Kesehatan sendiri telah mengirimkan 142,2kg obat pada Selasa kemarin, 16 Januari 2018. Selain Kemenkes, TNI ikut membantu dalam memenuhi stok obat sesuai kebutuhan, dengan prioritas vaksin campak dan difteri serta alat kesehatan lainnya.  Obat-obat tersebut di antaranya berupa amoksisilin, salep antibakteri, parasetamol, infusion, vitamin, dan obat-obat lainnya yang dikemas dalam bentuk tablet, kapsul, botol, dan boks. Jumlah dan jenis obat yang dibawa sesuaikan dengan permintaan dari Asmat untuk mengendalikan KLB gizi buruk dan campak.  Namun demikian kondisi geografis dan faktor ekonomi diharapkan tidak menjadi kendala signifikan dalam upaya pengendalian masalah kesehatan di Asmat ini. Sebelumnya, telah dikirimkan 3 ton PMT ke Asmat dari Kemenkes pada Selasa, 16 Janùari dan 10 koli obat campuran dari TNI pada Sabtu, 13 Januari menggunakan 1 unit pesawat Hercules TNI AU dari Bandara Halim Perdana Kusuma.

Polda Papua membentuk satuan tugas terpadu untuk menangani dampak kejadian luar biasa (KLB) campakdan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua.  Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, Satgas yang dibentuk sejak 15 Januari 2018 itu terdiri dari personel kepolisian, TNI, dan pemerintah daerah.

“Kemarin sudah berangkat melalui jalur Mimika, jalur laut. Karena Pulau Tiga posisinya lebih dekat dari jalur Asmat,” ujar Kamal di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Akses yang bisa dilewati untuk mencapai Asmat hanya jalur laut dan sungai. Tim tersebut membawa bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan susu untuk menunjang gizi mereka. Ada pula bantuan makanan untuk balita dari Pertamina dan sejumlah bank.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal.

“Di sana kami bukan (menangani) yang sakit saja, tapi bagaimana kondisi kesehatan ini akan menjadi lebih baik,” kata Kamal. 

Oleh karena itu, selain menanggulangi, diperlukan juga upaya mencegah seperti pemberian vaksin dan sebagainya.  Kamal mengatakan, wabah campak dan gizi buruk terjadi karena kekurangan makanan dan lingkungan yang tidak sehat.  Selain itu, fasilitas kesehatan juga masih sangat minim.

“Kan di sana itu rawa-rawa. Untuk masyarakat Asmat dari rumah ke rumah itu jauh sampai setengah kilometer,” kata Kamal.

Menurut pemerintah daerah setempat, tercatat ada 61 anak sejak bulan September 2017 hingga saat ini dikabarkan meninggal dunia akibat terkena penyakit tersebut. Tim kesehatan dari Pemda setempat sudah diterjunkan ke 23 distrik (kecamatan) yang mencakup 224 kampung (desa). Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan wabah campak yang lebih besar. Sejak September 2017 hingga 11 Januari 2018, RSUD Asmat dilaporkan merawat ratusan pasien campak. Sebanyak 393 orang menjalani rawat jalan dan 175 orang rawat inap. ( Adrian Indra )

Tinggalkan Balasan