Serbanya Reformasi

Oleh: Maiton Gurik

DULU, revolusi memakan anaknya sendiri. Kini, reformasi memakan bapaknya sendiri. Yang membedakan revolusi telah menyatuhkan segenap anak bangsa menghadapi penjajahan asing dan berorientasi ke masa depan. Sedangkan dalam hal reformasi anak bangsa cenderung dipecah-bela oleh kepentingan asing dan berorientasi ke masa lalu. Dulu, banyak tokoh revolusi dibui karena perjuangan politiknya. Kini, banyak tokoh dibui karena kelakuan atas korupsinya.

Dalam konteks itu, setelah 20 tahun mendominasi kancah politik Indonesia dimasa terpimpin hingga orde baru, kata revolusi pelan-pelan pundar lalu tenggelam seiring lengsernya sang tokoh Soeharto. Kini, sudah 9 tahun kata reformasi juga mengalami nasip serupa. Sampai-sampai seorang tokoh memberi nasihat pada parpol dibidaninya agar pilkada yang akan datang tidak lagi mengangkat slogam sebagai partai reformasi, karena sudah tidak laku dijual.

Sebuah nasehat yang jeli dan jujur, terbukti sejak masa era reformasi (1998) dengan pemilu yang dihasilkannya (1999 & 2004), partai-partai reformasi tidak memenangkannya. Suara terbanyak masih tetap didukung parpol lama. Memang diprihatinkan semakin lama kata reformasi semakin berkonotasi negatif.

Lebih-lebih dimata rakyat yang selama 9 tahun terakhir ini hidupnya semakin miskin dan susah sehingga refornasi sering diplesetkan “repot (cari) nasi”. Sejak reformasi rakyat merasakan dan mencacat banyak hal. Harga-harga sembako terus meningkat seperti beras, gula pasir, tepung terugi dan minyak goreng, sehingga pendapatkan rakyat rill menurun.

Gizi buruk meluas (saat ini di Asmat Papua), bahkan sudah didepan mata pemerintah pusat dan daerah. PHK dimana-mana mencari kerja agak sulit. Demo, bentrok dan tauwuran sesama anak negeri meluas dan terjadi dimana-mana dengan asal muasal atau sebab yang tidak jelas atau sepela. Elit politik tanpa malu-malu merebut kekuasaan, pangkat dan uang negara. KKN terdapat dimana-mana sementara persoalan rakyat terlantar dan tidak dituntaskan seperti kasus pengusuran rumah warga, reklamasi, pelanggaran HAM berat masa lalu, bahkan bencana alam lainnya.

Konon revolusi bundar sebelum selesai dan kini reformasi layu sebelum berkembang. Karena itu rasanya tidak salah bila pada setiap diskusi tentang negara ini selalu ditutup dengan kesimpulan bangsa ini perlu seorang pemimpin yang bukan sekedar presiden, namun sebaliknya.*** Semoga!

 

Jakarta, 20 Januari 2018

Penulis: Mahasiswa asal Kab.Lanny Jaya, Papua dan sedang menempuh Studi Pascasarjana Universitas Nasional, Jakarta.

Tinggalkan Balasan