Kepribadian Itu Unik, Buat Apa Berselisih?

Oleh: Irwan Suhanda

Kita pasti pernah melihat orang yang mudah naik pitam,”Lo mo nyari gara-gara, ya!!” atau melihat orang yang sangat pemberani, “Gila, nekat amat tuh orang!” atau orang yang mudah dendam,”Tunggu pembalasan gua, lebih menyakitkan!” atau juga “Wah, gak lagi deh gaul ama orang kayak gitu, resek!”

Bermacam orang, bermacam kepribadian. Ada orang yang mudah tersinggung, keras kepala, ambisius, ceroboh, mudah dihasut. Sebaliknya, ada yang sangat penyabar, pendiam, pemurung, sensisif, pemalu, senang bercanda.

Adanya sifat-sifat beragam tersebut, terkadang membuat kita terjebak dalam perselisihan, pertengkaran, mau menang sendiri, saling menyalahkan, mengejek.

Hal ini karena kita belum paham benar sifat dan kepribadian orang tersebut. Sekiranya kita sudah mengenal, maka akan lebih mudah dalam berkomunikasi.

Memang tidak semua orang menyenangkan, tidak semua juga menyebalkan. Ada yang begitu perhatian, ada juga yang cuek. Ada yang sabar, ada juga yang cepat marah. Ada yang usil, ada juga yang tengil. Manusia itu unik, kata psikolog Gordon Williard Allport (1897-1967).

Tipe Kepribadian
Beragam karakter di atas disebut kepribadian (personality). Kepribadian merupakan ciri khas seseorang dalam berpikir dan bertindak yang meliputi kebiasaan, sikap, emosi, dan tindakan.

Untuk memahami dan menjelaskan tipe kepribadian, maka diperlukan teori-teori kepribadian. Dari sekian teori kepribadian, ada teori kepribadian yang disampaikan Gerardus Heymans (1857-1930).

Heymans membagi tipe kepribadian menjadi tujuh tipe, yaitu

1. Gapasioneerden (hebat): sifat keras, emosional, gila kuasa, egois, suka mengecam, suka menolong.
2. Cholerici ( garang): lincah, rajin bekerja, periang, pemberani, optimistis, suka kemewahan, pemboros, ceroboh.
3. Sentimentil (perayu): emosional, impulsif (menuruti kata hati), pintar bicara, menyukai alam.
4. Nerveuzen (penggugup): emosional, suka protes/mengecam orang lain, tidak sabaran, tidak berpikir panjang, agresif, tidak pendendam.
5. Flegmaciti (tenang): tenang, sabar, tekun bekerja, tidak lekas putus asa, bicara singkat, senang membaca, rajin, cekatan, mandiri.
6. Sanguinici (kekanak-kanakan): peragu, pemurung, pendiam, senang menyendiri, pendendam, konservatif.
7. Amorfem (tidak berbentuk): picik, tidak praktis, selalu membeo, canggung, ingatannya buruk, mudah galau, pemboros, mudah dikuasai orang lain. (Alex Sobur, 2016:276).

Tidak sama
Dari ketujuh tipe ini, setiap orang bisa merasakan mana yang cocok dengan dirinya. Sebaliknya, kita sendiri pun akan merasakan tipe apa yang kita miliki.

Implementasi kepribadian merupakan kesatuan aspek jiwa dan raga yang menyebabkan timbulnya tingkah laku dan tindakan seseorang. Di samping itu, menurut Henry Murray (1893-1988) faktor genetika dan pematangan memiliki pengaruh terhadap perkembangan kepribadian. Faktor lingkungan juga berperan besar dalam membentuk kepribadian seseorang.

Bahkan, bukan mustahil seseorang bisa saja memiliki beberapa kepribadian. Juga tidak aneh kalau kepribadian seseorang pun bisa berubah. Clyde Kluckhohn (1905-1960) dan Henry Murray (1893-1988) mengatakan bahwa setiap orang dalam segi-segi tertentu adalah (1) Seperti “semua” orang lain. (2) Seperti “sejumlah” orang lain. (3) Seperti “tidak” seorang pun. (Alex Sobur, 2016:276).

Dengan demikian, individu pada sisi tertentu memiliki persamaan dan perbedaan. Dikatakan sama, mungkin sama tipenya, dikatakan berbeda bisa jadi berbeda sikapnya.

Alex Sobur dalam buku Psikologi Umum memberikan contoh, dua orang mungkin sama-sama jujur, tapi bisa berbeda dalam hal kejujuran berkaitan dengan sifat lain.

Orang pertama mungkin peka terhadap perasaan orang lain sehingga tidak berani mengatakan secara langsung, sedangkan orang kedua mungkin kejujuran lebih tinggi, sehingga mengatakan apa adanya walaupun melukai orang lain. Dengan adanya pengertian ini, dengan perbedaan yang dimiliki tiap orang, maka diharapkan kesalahpahaman bisa dihindari.

Bahkan dengan mengenal tipe kepribadian, kita akan tampak lebih sabar, luwes, bisa mengambil jalan tengah, lebih perhatian, waspada, dan bisa bersikap bijaksana. Hal ini berguna baik untuk diri sendiri maupun orang lain. (Penulis adalah Lulusan Strata-1 Fisipol jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Indonesia. Sebagai editor di Penerbit Buku Kompas. Sejak tahun 2017 bergabung dengan Litbang Kompas)

Sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan