Dominasi Generasi Millennial di Era Demografi Indonesia Dalam Konteks Marketing Politik

Ilustrasi generasi millenial. (Foto : fuzher.com)

 

Generasi Milenial atau Generasi Y merupakan kelompok terbanyak saat ini, mereka lebih mempercayai komunikasi dua arah ketimbang satu arah. Generasi ini sangat produktif, lebih percaya testimoni yang individualistic dan tidak segan- segan untuk membagikan persepsi mereka tentang sesuatu melalui jejaring social yang bisa merubah persepsi public, sehingga mereka lebih akrab dengan gadget dan internet. Indonesia masuk urutan keempat negara pengguna Facebook dengan 111 juta orang, 50 juta pengguna Twitter dan 45 juta pengguna Instagram, dan itu bisa jadi tolak ukur bagi semua infrastruktur dan suprastruktur politik wajib menggunakan media social guna menjangkau dan merebut market generasi ini

 

Oleh: Karmin Lasuliha*

Berawal tahun 2010 perkembangan demografi dimulai, catatan jumlah dan perkembangan kependudukan secara nasional mulai ditata dan di dokumentasikan secara baik.

Hal tersebut sangat bermanfaat untuk pengembangan kependudukan dari segi social ekonomi, budaya, politik dan tentunya untuk kesejahteraan rakyat.

Menurut Guru Besar Demografi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sri Moertiningsih Adiotomo, Indonesia akan mencapai puncak bonus demografi sekitar tahun 2020 hingga 2030 yang berawal dari tahun 2010.

Dalam Jurnal Ilmiah berjudul ‘20 Kebijakan Pembangunan Kependudukan dan Bonus Demografi’ yang di tulis oleh Munawar Noor berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Sensus Penduduk Tahun 2010, angka Rasio Ketergantungan Indonesia sebesar 51,3%. Hal ini berarti 100 orang usia produktif menanggung 51-52 orang usia tidak produktif.

Menurut Sugiharto dalam Jurnal Pendidikan dan Ilmu Social, bahwa bonus demografi adalah peluang kemakmuran ekonomi suatu negara karena besarnya proporsi penduduk produktif (15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan dengan pola siklus se-abad sekali.

Peluang ini harus dimanfaatkan dengan baik, karena jika gagal maka akan terjadi anti bonus yaitu badai bom (bomb disaster) demografi.

Berdasarkan data, kelompok orang yang berusia antara 15-34 tahun menjadi kelompok dengan jumlah terbanyak. Dimana kelompok tersebut dikenal sebagai ‘generasi millennial’ atau generasi Y. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir antara 1980-2000 sebagai generasi millennial.

Studi tentang generasi millennial telah banyak dilakukan, khususnya di Amerika. Di antaranya studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 yang bertema American Millennial: Deciphering the Enigma Generation.

Sebelumnya, pada tahun 2010, Pew Research Center juga menulis laporan riset yang berjudul Millennials: A Potrait of Generation Next. Berdasarkan penelitian-penelitan itu, karakteristik dari generasi millennial seperti yang ditulis Agnes Winastiti.

Bahwa seorang millennial lebih percaya User Generated Content (UGC) ketimbang informasi yang bersifat satu arah, bahkan mereka tidak mempercayai perusahaan-perusahaan besar sebagai penyedia iklan karena telah terkontaminasi desain proyek market.

Generasi ini sangat produktif tetapi juga sangat apik mempelajari pola konsumsi. Mereka lebih percaya testimoni yang individualistik terkait merk atau brand.  Dan tidak segan-segan secara vulgar membagikan pegalaman buruk mereka dalam menkonsumsi sebuah produk maupun merk. Persepsi dari para millennial akan membentuk jejaring asumsi-asumsi dan kepercayaan yang bisa mendominasi pasar.

Berikutnya dari cara dan kebiasaan mereka di bidang teknologi adalah lebih memilih ponsel dibanding televisi. Internet sebagai kebutuhan primer karena pekerjaan dan sebagaian besar aktifitas dilakukan di dalam beranda baik media convensional maupun media social.

Data terbaru yang di sampaikan oleh Direktur Eksekutive Perkumpulan Untuk Pemillu dan Demokrasi (PERLUDEM) bahwa Indonesia adalah negara keempat pengguna Facebook dengan 111 juta orang pengguna, 50 juta pengguna Twitter dan 45 juta pengguna Instagram, sehingga dari data tersebut semua infrastruktur dan suprastruktur politik seyogianya wajib menggunakan media social selain media convensional untuk menjalankan sosialisasinya.

Ini menjadi catatan penting bahwa di tahun 2018 pengguna media social sudah mencapai total 206 juta jiwa dari total penduduk Indonesia yang kurang lebih 262 juta jiwa.

Demografi sesuai yang disampaikan di atas mengenai usia ketergantungan akan menjadi pressure informasi yang akan mendominasi. Mereka adalah generasi millennial yang proaktif dengan produktifitas tinggi serta sangat tinggi tingkat pengaruhnya dengan terbukanya penguasaan informasi.

Diperkirakan pada tahun 2025 mendatang, generasi ini akan mendominasi penyerapan tenaga kerja sebanyak 75 persen di dunia. Posisi mereka pun tidak sedikit menduduki posisi-posisi top leader.

Seperti diungkap oleh Riset Sociolab, kebanyakan dari millennial cenderung di hargai dengan upah cukup tinggi, meminta jam kerja fleksibel, dan meminta promosi dalam waktu setahun, bisa dikatakan mereka akan mendominasi tanggung jawab dibidang ekonomi, teknologi informasi dan komunikasi, politik dan pemerintahan.

Dalam konteks marketing politik baik di tingkat nasional maupun lokal, tentunya Generasi Millenial ini merupakan ‘pasar politik; yang sudah seharusnya di lirik dan di berdayakan melalui pola – pola komunikasi yang sejalan dengan saluran komunikasi yang familiar bagi mereka yang tidak bisa di lepas dengan urusan gadget dan internet.

Dengan daya kritis dan penguasan memadai terhadap teknologi dan berbagai macam saluran komunikasi public, Generasi Mileniall berpotensi besar sebagai ujung tombak dalam kerja – kerja marketing politik yang bertujuan mendongkrak elektabilitas dan pencitraan positif dalam segala macam urusan politik baik bagi seorang politis maupun partai politik.

Keberadaan generasi millenial di tengah musim politik yang lagi berkecambah saat ini tidak bisa di abaikan apalagi di pandang sebelah mata, sehingga kandidat maupun tim sukses di harapkan mampu mengelaborasi potensi mereka melalui saluran – saluran komunikasi politik yang memang sejalan dengan cara pikir dan selera mereka, kalau tidak ingin di tinggalkan oleh pemilih abad millennium tersebut. *(Penulis adalah pegiat politik, Direktur Lembaga Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik LINGKAR PAPUA tinggal di Jayapura)*

The post Dominasi Generasi Millennial di Era Demografi Indonesia Dalam Konteks Marketing Politik appeared first on lingkarpapua.com.

Tinggalkan Balasan