Diduga Tertembak, Warga Pulau Karaka Tewas Mengenaskan


Isak tangis keluarga dan kerabat almarhumah Imakulata Emakeparo (55), saat peti jenazah disemayamkan di Gedung DPRD Mimika.


SAPA (TIMIKA) – Seorang ibu rumah tangga bernama Imakulata Emakeparo (55) warga Pulau Karaka, Kampung Amamapare, Distrik Mimika Timur, diduga tewas akibat tembakan. Korban mengalami luka pada bagian kepala tembus belakang. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (3/2) sekitar pukul 23.00 WIT di sekitar area penyeberangan area Portsite menuju Cargo Dock, Pelabuhan Amamapare.

Berdasarkan data yang diperoleh Salam Papua menerangkan, peristiwa terjadi ketika adanya keributan antara masyarakat setempat dengan aparat keamanan terkait diamankannya 3 orang pelaku percobaan pencurian konsentrat di area DWP Portsite milik PT Freeport Indonesia (PTFI).

Sekitar pukul 21.40 WIT, petugas keamanan mendapatkan laporan dari pihak security PTFI bahwa telah terjadi aksi pencurian konsentrat yang di lakukan oleh 3 oknum warga Pulau Karaka. Selanjutnya, petugas keamanan security dibantu personel dari Satgas Brimob dan Lanal Timika, mengejar ketiga pelaku pencurian konsentrat. Namun, petugas hanya berhasil mengamankan 1 orang yang berinisial RN (18). Setelah diamankan, dari tangan pelaku tidak ditemukan barang bukti, pelaku selanjutnya di interogasi.

Sekitar pukul 22.30 WIT, pelaku hendak dibawa ke Polres Mimika untuk diperiksa lebih lanjut. Namun di tengah perjalanan, pelaku berusaha kabur dengan cara melompat dari atas speed boat dengan kondisi tangan masih diborgol. Selanjutnya pelaku berteriak meminta tolong ke masyarakat Pulau Karaka yang berada di area sekitar penyeberangan Portsite menuju Cargo Dock.

Petugas yang berada di speed boat selanjutnya memutar haluan hendak menolong pelaku yang melompat, namun petugas malah dihalangi oleh masyarakat setempat dengan cara melemparkan batu. Dari aksi itulah sehingga terdengar suara tembakan sebanyak 3 kali, diduga merupakan tembakan peringatan saat masyarakat terus menyerang petugas. Namun, saat itu masyarakat terus menyerang dan melempar batu ke arah petugas. Karena jumlah masyarakat terlampau banyak, petugas akhirnya meninggalkan lokasi.

Namun, sekitar pukul 23.00 WIT petugas malah mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa seorang warga, yakni korban, mengalami luka robek pada bagian kepala belakang yang diduga akibat terkena tembakan.

Suami korban yang bernama Titus Onamariyuta kepada Salam Papua di Gedung DPRD Mimika menuturkan, saat terjadi keributan ia bersama istrinya sedang mengunakan perahu dayung berangkat dari Pulau Karaka hendak menuju Portsite untuk mengambil air minum. Diperkirakan jarak 100 meter sebelum mencapai portsite, korban mendengar ada suara teriakan meminta tolong.

“Kami cuma dua orang di atas perahu. Saya ada di belakang mendayung perahu, dan istri saya (korban) ada di depan dengan posisi senter di ikat di kepala sebagai penerang jalan. Karena dengar ada teriakan minta tolong, kami langsung berhenti, berniat belok ke arah teriakan,” tutur Titus.

Saat itu korban meminta kepada Titus suaminya berhenti sejenak dan memastikan arah teriakan yang meinta tolong tersebut. Namun, seketika itu Titus mendengar 3 kali suara tembakan yang tidak diketahui dari mana arahnya. Di saat itu juga Titus melihat istrinya telah tertembak.

“Tembakan pertama dan kedua, itu saya masih bingung. Tapi saat tembakan yang ketiga, itu saya langsung meminta istri saya untuk berikan senternya kepada saya, tapi istri saya tidak jawab, dia diam saja. Istri saya itu tewas dengan tembakan ketiga, karena saat pertama dan kedua itu dia masih respon saya. Begitu saya coba dekati, ternyata kepalanya sudah tembus dengan peluru. Saya panik lihat istri saya berlumur darah bercampur otak. Saya teriak dan menangis sambil balik arah perahu kembali ke kampung,” katanya.

“Istri saya tewas dalam keadaan duduk dengan kedua tangan memegang dua sisi perahu. Saya menyesal karena tidak mendengar satu kata pun keluar dari mulut istri saya. Saya juga hanya bisa menangis dan pasrah. Sampai di kampung baru saya sadar, kalau ternyata bercak-an darah dan otak istri saya berhamburan di muka dan baju saya,” katanya lagi.

Titus pun mengakui, setelah tiba di kampung barulah mengetahui banyak warga yang berkumpul. Hal itu karena mereka mendengar adanya penangkapan terhadap salah satu warga di area Portsite. Karena Titus saat tiba membawa kabar lain terkait istrinya yang terkena tembak, kemudian sebagian warga lalu ikut mengevakuasi korban menuju ke rumah sakit yang berada di Portsite.

“Begitu tahu istri saya jadi korban tembakan, mereka langsung ambil perahu dan kembali antar ke RSMM Portsite. Tapi saya sendiri sudah tahu pasti bahwa, istri saya sudah tewas saat ledakan (suara tembakan) ke tiga itu,” tuturnya.

Jenazah korban usai dilakukan outopsi oleh tim medis di rumah sakit Portsite, kemudian dibawa oleh seluruh keluarga dan warga Pulau Karaka untuk disemayamkan di Gedung DPRD Mimika. Setiba di Gedung DPRD sekira pukul 14.50 WIT, sebagian warga mengantar jenazah yang berada dalam peti untuk diletakkan di teras pintu masuk Gedunr DPRD. Sedangkan sebagian warga lainnya langsung memblokade jalan depan Gedung DPRD dengan membakar ban bekas sambil melakukan aksi duduk bersila di tengah jalan.

Terkait hal ini, tokoh masyarakat sekaligus perwakilan dari Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko), Gregorius Okoare mengatakan persoalan ini harus dituntaskan. Ia meminta aparat kepolisian harus menyelidiki pelaku penembakan, hal itu agar korban tidak meninggal sia-sia tanpa ada tindakan hukum terhadap pelaku.

“Ini sangat luar biasa dan menyakitkan hati kami seluruh orang Kamoro. Jadi mohon, harus di tuntaskan, pelaku harus segera ditangkap, entah itu polisi, brimob, security dan aparat keamanan lainnya. Yang jelas mereka menembak dan menghilangkan nyawa keluarga kami,” kata Gregorius Okoare yang akrab disapa Gerry dihadapan Kapolres Mimika AKBP Indra Hermawan di Gedung DPRD Mimika.

Menanggapi penyampaian itu, Kapolres mengatakan pihaknya turut berduka cita atas peristiwa nahas yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Kapolres juga mengakui bahwa peristiwa tersebut juga melibatkan anggota Polri. Maka, ia berjanji pihaknya akan berupaya agar kasus ini dapat di usut hingga tuntas.

“Kami sudah terima aspirasi semua keluarga korban dan akan kami tindak lanjuti. Untuk anggota yang terlibat dalam kasus ini akan kami proses sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Kapolres. (Acik)

Tinggalkan Balasan