HMI Zaman Now, HMI Pergerakan Jadul ?

Publik menunggu apa produk pemikiran baru HMI utk bangsa dan keumatan yang ingin ditawarkan pasca Kongres Ke- 36 di Ambon oleh organisasi yang sudah berusia 71 tahun itu. Karena setiap Milad dan Kongres pasti tematiknya tentang diskursus kekuasaan bukan gagasan perubahan bangsa. HMI harus melahirkan gagasan baru bila ia tidak ingin disebut sebagai organisasi tua, renta dan politis yang sudah usang.

Oleh    : Lamadi de Lamato*

Tanggal 4 Pebruari 2018 ini, organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memasuki usia ke 71 tahun. Di Indonesia, usia segitu adalah bonus hidup!! Usia produktif orang NKRI dipatok cuma 58 tahun setelah itu ia harus pensiun. Apakah HMI di usia 71 tahun sudah “tewas?” Sebagai organisasi, HMI diharapkan tetap menjadi pioner keindonesiaan dan keumatan di NKRI. Spirit itu harus hidup karena itulah cita-cita kader HMI dalam mazhab NDP nya.

Di usia ke 71 tahun ini, HMI diberi “dua berkah”, mendapat gelar pahlawan dan melaksanakan Kongres ke XXXVI di kota Ambon, Maluku tanggal 4 Pebruari 2018. Berkah pahlawan diberikan Presiden Jokowi kepada pendiri HMI, Lafran Pane sebagai aktifis dan pelopor organisasi ‘Ijo Itam’ ini eksis dan berkontribusi terhadap kokohnya NKRI dalam rentang sejarah kemerdekaan, Orde Baru hingga Reformasi.

Sementara berkah kongres bisa dimaknai sebagai momentum dan refleksi HMI memaknai perannya dalam konteks kekinian atau HMI jaman now. Sudah menjadi tradisi, setiap kongresnya HMI selalu melakukan refleksi kritis terhadap perannya dalam berbagai bidang kehidupan dan kebangsaan.

Dalam Kongres di Maluku, publik menunggu, apa produk pemikiran baru HMI utk bangsa dan keumatan yang ingin ia tawarkan pada 71 tahun ia berdiri kokoh ditengah2 pluralisme bangsa ini? HMI harus melahirkan gagasan baru bila ia tidak ingin disebut sebagai organisasi tua, renta dan politis yang sudah usang.

HMI mengalami kemodernan gagasan orisinil dan solutif hanya terjadi di jaman Ketum (almarhum) Nurcholis Madjid ( Cak-Nur) pada tahun 70-an setelah itu semua Ketum yang lahir dari HMI seperti umumnya, standar dan biasa – biasa saja. Barangkali hanya di jaman Anas Urbaningrum, HMI kembali “harum” di era reformasi 1998 tapi ternyata episodenya pendek dan berakhir di hotel prodeo Sukamiskin, Bandung.

HMI pun identik dengan produk kaderisasi yang buruk atau HMI Connections kendati ada satu, dua personal kadernya yang berintegritas. Di era reformasi hingga “rasisme” yang ingin mengoyak2  pluralisme dan kebangsaan, HMI ikut terjebak dalam politik gontokrasi bukan menjadi kelompok tengah dan moderat yang solutif. Kader HMI ikut dalam demo 212 dan berpolemik dalam wacana kriminalisasi kadernya yang terbukti memprovokasi.

Dengan kejadian itu, HMI yang dikenal matang dalam gerakan intelektual dan moral tampak berhadap – hadapan dengan kekuasaan pemerintah Jokowi. Benarkah HMI kontra Jokowi seperti yang ia tunjukan dalam aksi 212? Sepertinya tidak! HMI justru terlihat bermain dua kaki; melawan Jokowi tapi ia menerima pemberian seniornya jadi pahlawan dari Jokowi. Kenapa HMI bisa ambigu seperti itu? Prediksi saya, HMI “tersandera” dalam simbol Wapres JK yang nota bene alumninya sendiri.

Wacana HMI yang suka bermain “dua kaki” dalam gerakan aktifis di atas bukan barang baru dalam tradisi aktifis jaman now; mengkritik tapi diberi mau adalah fenomena umum. Tradisi ini seperti sebuah budaya tidak tertulis sejak era idealis Cak-Nur hilang. Budaya ini jejaknya mulai terjadi saat HMI “di obrak abrik” menjadi dua HMI: HMI Dipo dan HMI MPO di era Presiden Soeharto.

Di era HMI di obrak abrik, ada HMI pro kekuasaan dan ada HMI yang mengklaim independen. Jejak aktifis HMI yang dua mainstream inilah yang mungkin menelorkan kader HMI “abu-abu” jaman now. Dalam konteks itu, HMI seperti kehilangan basis pijakan gerakannya. Selain itu konsep keindonesiaan dan keumatan produk Cak Nur juga sudah tidak pas dengan semangat jaman.. Di konsep itu, NKRI dan keumatan yang cocok dijaman dulu, saat ini sudah dikritik habis-habisan.

Dari dua masalah itu, Dies Natalis HMI yang Ke 71 serta Kongres HMI di Ambon yang ke XXXVII, HMI harus kritis dan tanggap dengan fenomena dirinya dan relasinya dengan kekuasaan.

HMI memang sangat hebat menyuplai kader terbaiknya disemua lini kehidupan kebangsaan dan keumatan sehingga ia pantas mendapat predikat pahlawan nasional melalui Lafran Pane sebagai pendiri organisasi ini.

Lafran Pane, Ahmad Tirto Sudiro, Bintoro Tjokroamidjojo, Cak-Nur,  Akbar Tandjung, Jusuf Kalla dll, telah membuat HMI disegani sekaligus dikagumi. Mereka ini “sudah pergi dan akan pergi” dan akan menjadi album kenangan HMI saja. HMI Conection yang terpatri di kader HMI hanya cerita sukses mereka bukan kerja keras, gigih dan konsistensi mereka.

Seharusnya kader dan aktifis HMI belajar dari kegigihan dan kejatuhan mereka sebagai refleksi dari potret HMI hari ini dan esok.

Refleksi ketokohan kader HMI terhadap para perintis sangat penting dilakukan demi memperbaiki organisasi ‘Ijo Itam’ yang dari waktu ke waktu makin tidak menarik. Setiap Milad dan Kongres pasti tematiknya tentang diskursus kekuasaan bukan gagasan perubahan bangsa. Perubahan bangsa dari HMI hanya di jaman dulu saja yang brilian. Setelah itu dan kesini-kesininya tetap itu- itu saja alias gagasan jadul yang sdh usang!!!

Selamat Milad dan Kongres HMI 2018!! *(Penulis adalah pengamat masalah social politik, Bukan HMI, tinggal di Papua)

The post HMI Zaman Now, HMI Pergerakan Jadul ? appeared first on .

Tinggalkan Balasan