Mama dari Timika Tertembak, 7 Anggota Brimob Diperiksa

Metro Merauke – Jenazah Imakulata Emakeparo (62), atau akrab disapa Mama Emakeparo, yang diduga tewas tertembak peluru anggota Brimob, pada Senin (5/2/2018), pukul 11.00 WIT dibawa ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika untuk diautopsi, setelah semalam disemayamkan di Gedung DPRD Mimika.

Permintaan autopsi dari pihak kepolisian guna memperjelas penyebab kematiannya, akhirnya disetujui oleh pihak keluarga korban.

“Dokter forensik baru tiba di Timika pukul 11.00 WIT ini yang akan melakukan autopsi. Sementara, jenazah sudah diantarkan ke RS Charitas (RSMM) menggunakan mobil ambulans,” ujar Kapolres Mimika, AKBP Indra Hermawan.

RSMM sering disebut RS Charitas karena rumah sakit tersebut dikelola oleh Yayasan Charitas Timika Papua (YCTP).

AKBP Indra juga mengemukakan bahwa pemeriksaan tujuh anggota Brimob yang tergabung dalam Satgas Amole pengamanan PT Freeport terkait dugaan penembakan itu masih dilakukan Kepala Bidang (Kabid) Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Papua sejak Minggu, 4 Februari 2018.

Indra mengaku belum dapat memastikan kronologi kejadian. Menurutnya, informasi yang ada masih simpang siur.

Kronologi penembakan yang sebenarnya baru akan diketahui usai pemeriksaan yang dijalankan oleh Kabid Propam. Selama pemeriksaan berlangsung, Kapolres mengimbau warga Mimika untuk tetap menjaga kamtibmas agar tetap kondusif.

Selain itu, warga diharapkan untuk tidak terpancing dengan isu-isu yang tidak benar.

Sementara itu, tokoh suku Kamoro yang juga hadir pada saat pengantaran jenazah dari Gedung DPRD Mimika ke RS Charitas menjelaskan kepada ratusan warga suku Kamoro yang sejak Minggu siang, 4 Februari 2018, memadati kantor DPRD bahwa autopsi tersebut penting dilakukan. Sebab, dapat memudahkan pihak korban terkait adanya bukti cukup dalam proses hukum para pelaku.

Hingga berita ini diturunkan, akses Jalan Cendrawasih depan Kantor DPRD Mimika masih diblokade warga dengan ban yang dibakar dan pintu gerbang masuk DPRD yang digunakan untuk menutup jalan.

Massa keluarga korban juga masih memadati Kantor DPRD Mimika. Rencananya, usai autopsi, jenazah juga akan langsung disemayamkan.

Mama Emakeparo diduga tewas tertembak saat terjadi keributan di sekitar Cargo Dock, Pelabuhan Portsite Amamapare milik PT Freeport Indonesia. Peristiwa bermula saat sekitar tiga warga Pulau Karaka dilaporkan memasuki kawasan pabrik pengeringan konsentrat PT Freeport Indonesia.

Petugas pengamanan internal perusahaan kemudian mengejar dan menangkap NR, pemuda berusia 18 tahun. Saat hendak dibawa ke Polres Mimika menggunakan perahu motor, di tengah perjalanan NR yang tangannya diborgol nekat melompat dari perahu.

Tidak itu saja, NR seketika berteriak meminta pertolongan kepada warga di sekitar area penyeberangan Porsite-Cargo Dock. Sejumlah warga kemudian berusaha melindungi NR dan menghalau aparat dengan lemparan batu.

Sempat terjadi keributan antara warga dan aparat hingga terdengar letusan senjata api milik aparat Brimob Polri. Sekitar pukul 23.00 WIT, warga melaporkan bahwa Mama Emakeparo mengalami luka robek pada bagian kening hingga tembus ke kepala bagian belakang.

Korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika. Namun, setiba di rumah sakit, nyawa korban tidak tertolong.

Uskup Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil Pr mengingatkan aparat keamanan yang bertugas di Papua agar menghentikan pola pendekatan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang berhubungan dengan masyarakat.

Ditemui di Timika, Uskup Saklil mengatakan pola pendekatan yang mengedepankan tindakan represif atau kekerasan hanya menimbulkan perasaan antipati dari masyarakat Papua.

“Hal-hal sepele jangan diselesaikan dengan pendekatan kekerasan, apalagi menggunakan senjata api. Kasus seperti ini sudah terjadi berulang-ulang, tapi masih saja terus terjadi sampai sekarang. Ini tentu melukai hati masyarakat Papua,” kata Uskup Saklil.

Pemimpin umat Katolik Keuskupan Timika itu menyesalkan terjadinya insiden penembakan yang menewaskan Mama Emakeparo, ibu rumah tangga yang bermukim di Pulau Karaka, Distrik Mimika Timur Jauh, pada Sabtu malam, 3 Februari 2018.

“Saya menyesal dengan cara kerja seperti ini. Walaupun kasus ini bisa diselesaikan, tetapi fenomena seperti ini tidak akan bisa disembuhkan,” ujar Uskup Saklil.

Keuskupan Timika akan mengawal proses hukum para penembak yang menewaskan Mama Emakeparo.

Uskup Saklil mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) serta lembaga-lembaga kemanusiaan lainnya untuk bersama-sama menginvestigasi guna menemukan fakta-fakta di lapangan.

Uskup mendukung gagasan untuk mengautopsi jenazah Mama Emakeparo agar kematiannya bisa terungkap secara terang-benderang. “Kami akan mendampingi proses ini. Hukum tetap harus ditegakkan,” ujarnya. (Tim)

Sumber: Liutan6

Tinggalkan Balasan