Tajuk: Mampukah Aksi Demo di Mimika Berhasil?

Mengenang demo mahasiswa 1998 yang menumbangkan rezim Soeharto
Demonstrasi massa atau yang biasanya dikenal dengan “aksi demo” adalah hal yang wajar di masa reformasi Indonesia saat ini. Hal itu bahkan dijamin oleh konstitusi dalam sebuah system Negara demokrasi. Namun pertanyaan mendasarnya adalah, seberapa berhasilkah aksi demo tersebut dalam meng-goal-kan aspirasi kepada objek yang dituju? Objek yang dituju tersebut biasanya adalah yang memiliki kewenangan atau kekuasaan dalam sebuah pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah.

Karena dijamin konstitusi, maka setiap kelompok masyarakat (saya berbicara dalam konteks di Indonesia) yang merasa terzalimi hak-haknya oleh sang penguasa, selalu memilih aksi demo untuk menyampaikan berbagai aspirasinya dengan harapan besar bisa didengar dan dijawab oleh sang penguasa tersebut. Sebenarnya dalam studi manajemen aksi, tujuan aksi demo terdiri dari dua sisi, yakni sisi ketersampaian pesan kepada objek yang dituju dan sisi penyadaran kepada masyarakat pada umumnya atas sebuah isu yang sedang disampaikan. Untuk itu, pesan yang disampaikan dalam aksi demo tersebut haruslah bersifat positif dan bertujuan untuk membangun peradaban masyarakat yang semakin baik. Bukan bersifat propaganda yang menyesatkan, provokatif dan intoleran. Dan sebagai salah satu parameter untuk mencapai keberhasilan aksi demo adalah semakin banyak massa yang hadir akan menjadi force power (kekuatan yang sangat besar) bagi aksi demo tersebut.

Tapi ironis… aksi demo di Indonesia sering mempertontonkan tindakan yang tidak mendidik bagi masyarakat pada umumnya. Seperti halnya, aksi demo yang berwujud tindakan anarkis dan berujung chaos. Walaupun saat ini telah muncul tren baru aksi demo tersebut dengan label “aksi demo damai”, tapi tetap juga di beberapa tempat berakhir rusuh. Ditambah lagi dengan adanya beberapa kelompok kecil tertentu yang dikenal sebagai “massa demo bayaran” yang tidak lagi menunjukkan keutuhan aksi demo tersebut karena mereka sebenarnya tidak mengerti jelas pesan yang akan disampaikan. Ya… namanya saja hanya dibayar untuk ikut demo! Kalau sudah seperti itu, akankah pesan yang disampaikan dalam aksi demo tersebut didengar? Dan juga, bisakah aksi demo tersebut mendapatkan simpati di hati masyarakat? Pastinya tidak! Hal itu sebenarnya menghancurkan dan sekaligus menggagalkan realitas aksi demo tersebut.

Di samping itu, aksi demo sering tidak berhasil alias pesan-pesannya tidak diresponi oleh sang penguasa. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Atau mungkin diresponi, tapi hanya dengan bahasa retorika politis belaka dari sang penguasa atau tim koalisi dari sang penguasa namun sesungguhnya tanpa aksi nyata karena hanya sebuah pendekatan psikologis untuk membungkam dan menghentikan aksi demo tersebut. Alias di-PHP-in gitu loh, hehehe…!

Oleh sebab itu, setiap pelaku aksi demo yang benar-benar tulus dan murni serta mengerti dengan seutuhnya pesan yang disampaikan, harus menyadari semua realita di atas. Maka perlu strategi yang lebih jitu disertai pendekatan yang persuasif dalam memperjuangkan keberhasilan pesan yang disampaikan. Mari kita belajar dari dua aksi demo di Indonesia yang pernah viral dan berujung pada hasil yang memuaskan, alias mencapai keberhasilan.

Pertama, aksi demo mahasiswa sebagai aktor intelektual yang paling menonjol pada tahun 1965 yang akhirnya berhasil menumbangkan rezim Soekarno karena mendapatkan simpati dan dukungan dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) selaku pemilik kekuatan saat itu (Firza Koetaradja, Kompasiana 19/4/2010).

Dan kedua, aksi demo rakyat Indonesia yang juga secara dominan dilakukan oleh para mahasiswa dalam menumbangkan rezim Soeharto pada tahun 1998. Lepas dari berbagai kisah tragis karena tindakan anarkisme saat itu, namun ternyata letak keberhasilannya ketika aksi demo tersebut mampu mendapat “simpati” dari beberapa tokoh penting di lingkaran sang penguasa. Seperti halnya para tokoh muslim Indonesia saat itu di antaranya Amien Rais, Nurcholis Madjid (Cak Nur), Abdurachman Wahid, Ma’aruf Amin dan beberapa tokoh lainnya yang sebenarnya saat itu mereka dipanggil ke Istana untuk membentuk Komite Reformasi bentukan Soeharto, tapi tidak ada satupun yang mau. Itulah yang menjadi salah satu alasan yang membuat Soeharto luluh dan akhirnya mengundurkan diri sebagai Presiden RI tepat pada tanggal 21 Mei 1998 (Yus Ariyanto, Liputan6.com 21/5/2014).

Alhasil, kedua aksi demo yang saya sebutkan di atas ternyata mencapai keberhasilannya bukan semata-mata bertumpuh pada aksi massa “yang turun ke jalan” tersebut. Kunci mata rantai keberhasilannya ada pada tokoh-tokoh penting di lingkaran sang penguasa yang bersimpati atau “sekendaraan” dengan aksi demo tersebut dan mampu menyampaikan sekaligus bisa mempengaruhi sang penguasa mengenai pesan-pesan yang dikumandangkan aksi demo. Jadi, kekuatannya terletak pada tokoh-tokoh penting tersebut yang memiliki akses langsung dan melakukan lobi ke sang penguasa. Sedangkan aksi demo sebenarnya hanyalah sebuah mesin pengingat agar pesan atau suara perubahan tetap aktif dan efektif sampai mencapai hasil yang diinginkan.


Akhirulkalam, berbagai aksi demo harus terorganisir dan terkonsep dengan matang, baik dari sisi penyampaian aspirasi melalui aksi turun ke jalan maupun dari sisi tokoh-tokoh penting yang berperan dalam melobi aspirasi tersebut ke sang penguasa. Kedua hal ini harus berjalan secara bersama-sama. Kealpaan salah satu sisi membuat kelumpuhan total usaha meng-goal-kan suara perubahan ke sang penguasa. Thus, bagaimana dengan aksi demo di Mimika, Quo Vadis? Mampukah berhasil? Salam! (Jimmy Rungkat)

Tinggalkan Balasan