GIDI Harus Bersatu Dalam Kasih dan Kebersamaan

TOLIKARA (PT) – Peringatan HUT Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Ke 55 yang diperingati setiap 12 Februari 1963 secara serentak di gelar di seluruh dunia, termasuk di Kabupaten Tolikara yang di gelar di masing-masing klasis yakni 24 Klasis di seluruh wilayah Toli.

Sejumlah hamba-hamba Tuhan dari wilayah Pantura pantai utara Sentani-Jayapura dan Kerom, Sarmi disebarkan di 24 klasis itu satu minggu lebih awal hingga puncak perayaan HUT GIDI Ke 55 tahun.

HUT GIDI di Wilayah Toli, di pusatkan di klasis Konda dihadiri Wakil Bupati Tolikara, Dinus Wanimbo, SH beserta istrinya.

Jemaat GIDI Klasis Konda yang ada di Kota Karubaga Kabupaten Tolikara ini terlihat antusias menghadiri perayaan HUT GIDI Ke 55 tahun itu yang di pusatkan di Aula GIDI Karubaga Senin (12/2/18).

Pendeta Ikar Tabung, S.Th dalam khotbahnya mengajak Jemaat GIDI untuk tidak melupakan sejarah masuk dan lahirnya Gereja Injili Di Indonesia (GIDI).

Ajaran Nasrani yang dibawahkan para penginjil dari negara-negara Eropa menyebarkan ajaran nasrani di seluruh Papua termasuk Tolikara.

“Saat itu orang tua kami di seluruh Tolikara belum mengenal dunia luar dan belum mengenal baca tulis. Namun mereka menerima ajaran Nasrani (injil Firman Tuhan), setelah orang tua menerima Injil dan mulai mempelajari baca tulis dan ajaran nasrani ini berkembang pesat di seluruh wilayah Toli (Karubaga, Kanggime, Mamit dan sekitarnya,” kata Pdt, Ikar Tabung dalam khotbahnya.

Selain itu lanjutnya, juga di wilayah Bogo (Bokondini, Kelila, Eragayam, Kambo dan sekitarnya dan wilayah Wolo dan sekitarnya hingga berkembang di wilayah lain sampai saat ini.

“Setelah itu orang tua kami dengan kemampuan seadanya mereka pergi keluar menginjili di wilayah Yahukimo, Pegunungan Bintang dan wilayah lain di seluruh Papua hingga diluar Papua,” jelasnya.

Bahkan kata Pdt. Ikar, sampai saat ini Gereja Injili Di Indonesia ini sudah berkembang di luar negeri seperti di benua Asia Pasifik, Eropa dan Afrika.

Namun kata Pdt, Ikar,   pelayanan orang tua belum selesai karena itu tanggungjawab kita sekarang. Jadi apa yang harus kita lakukan, itu kita sudah dilahirkan diatas injil dan kita harus kembali kepada Tuhan Allah pencipta langit dan bumi sesuai dengan tema hut GIDI ke 55 tahun ini yakni, Gereja Yang Menabur Injil. Dan sub tema Pulihkanlah Negeri Kami.

“Kita sebagai orang percaya wajib memberitakan injil kepada semua orang, bukan saja kepada orang Nasrani tetapi juga kepada non Nasrani supaya semua orang harus menjadi milik kepunyaan Allah,” pesannya.

Dijelaskannya, Gereja Injili Di Indonesia adalah salah satu Gereja Pribumi yang di bentuk lahir dan bertumbuh dari Tolikara berkembang keluar di seluruh Dunia.

Sementara organisasi Gereja lain seperti Baptis, Katolik, GKI  yang lainnya itu berkembang di Papua dan itu datang dari luar lalu mereka bertumbuh menjadi besar karena sudah di bentuk lebih dahulu.

Namun GIDI dibentuk dan lahir tanpa dukungan dalam kondisi sederhana dari keterbatasan.

“Orang tua membentuk Gereja GIDI hanya dengan semangat kasih dan kebersamaan. Dasar kasih dan kebersamaan ini lah yang harus terus bertumbuh dalam pelayanan GIDI. Orang tua kita yang melakukan pelayanan di sejumlah tempat sudah kembali seiring bertambah usia Gereja GIDI sehingga usia orang tua kita juga semakin bertambah sehingga mereka sudah tidak kuat lagi. Sehingga mereka sudah kembali ke daerahnya sendiri lalu mereka kembali berkomitmen untuk melakukan pelayanan di daerahnya sendiri,” terangnya.

“Jadi kita harus dekat kepada Tuhan Allah dengan mentaati perintah-perintahnya,” tambahnya.

Ketua wilayah GIDI Toli, Pdt. Nayus Wenda diwakili Ketua Klasis GIDI Konda, Pdt. Kogoya mengakui usai Pilkada Bupati dan Wakil Bupati kemarin kehidupan antar jemaat tidak bersatu. Namun kehadiran hamba-hamba Tuhan dari wilayah Pantura ini telah mempersatukan kita kembali dengan pelayanan Firman Tuhan di seluruh Tolikara.

“Terbukti saat perayaan HUT GIDI ini semua jemaat telah berkumpul memuji dan mengagungkan nama Tuhan di seluruh Tolikara. Karena itu kami patut bersyukur kepada Tuhan Allah atas kasihnya telah mempersatukan kami seluruh jemaat Klasis Konda khususnya dan jemaat wilayah Toli pada umumnya untuk memberikan penghargaan yang setinggi – tingginya kepada Ketua Wilayah GIDI Pantura (Pantai Utara Sentani,Jayapura, Darmo dan Keerom) bersama rombongan dari semua pendeta dari Pantura datang melayani kami di seluruh Tolikara,” bebernya.

Sementara itu, Wakil Bupati Tolikara, Dinus Wanimbo, SH mewakili pemerintah dan masyarakat Tolikara memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Pdt. Dorman Wandikbo, S.Th melalui Ketua Wilayah GIDI Pantura pantai utara sentani- Jayapura, Sarmi dan Kerom.

Wakil Bupati Dinus mengatakan, Pdt. Ikar Tabuni, S.Th mengajak hamba-hamba Tuhan dari wilayahnya memperingati HUT GIDI KE 55 tahun 1963 bersama orang tua dan keluarganya di Tolikara.

Apalagi, kata Wakil Bupati Dinus, sebelum perayaan HUT GIDI ini, para hamba-hamba Tuhan dari wilayah Pantura lebih awal melayani kami di seluruh Tolikara.

Sehingga dari hasil pelayanan ini kami bersyukur kepada Tuhan Allah pencipta langit dan bumi karena sampai hari ini kita bisa memperingati HUT GIDI ini dan berjalan lancar  dan sukses sehingga banyak orang Tolikara diberkati.

“Kita telah mendengar sejarah masuk dan diterimanya  injil oleh orang tua kita di lembah Toli ini dan dengan keterbatasannya, orang tua kita membentuk dan mengembangkan pelayanannya dengan nama organisasi Gereja GIDI di seluruh Tolikara dan diluar Tolikara Juga di luar Papua bahkan di luar Indonesia, ” ujar Wakil Bupati Dinus Wanimbo.

Menurutnya, sejarah GIDI itu merupakan salah satu Gereja Lokal yang ada di Indonesia  dan Gereja pribumi, apalagi  GIDI lahir dalam kondisi sederhana, dengan menghadapi tantangan yang sangat luar biasa. Hingga misi penginjilan itu di pengang orang tua lalu mengembangkan pelayanannya ke sejumlah tempat dengan semangat kasih dan kebersamaan.

“GIDI tidak tertinggal, bahkan GIDI telah berkembang sangat pesat di seluruh dunia,” ungkapnya.

Karena itu, lanjut Wakil Bupati Dinus, Pemerintah Tolikara bersama Jemaat GIDI bersatu selain mengembangkan misi penginjilan, kita juga hidup saling mengasihi antara satu dengan yang lain tidak boleh ada perbedaan di antara kita.

Wakil Bupati Dinus menambahkan, perbedaan yang timbul saat pilkada Bupati dan Wakil Bupati kemarin itu hal biasa dalam sebuah proses demokrasi politik dan hal itu tidak dibawah – bawah didalam pelayanan GIDI juga dalam keluarga.

“Untuk itu, saya mengajak para hamba-hamba Tuhan dan para ASN Pemkab Tolikara kembali ke kampung dan hidup bersama Jemaat dalam kasih dan mengembangkan kebersamaan kita sebagai anak GIDI. Jadi tidak diperkenankan menciptakan perbedaan tetapi kita harus bersatu, ” tandas Dinus Wanimbo. (ara/rm)

Tinggalkan Balasan