Sampah yang tak terurus di RSUD Yowari

Jayapura, nirmeke.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari sebagai rumah sakit satu-satunya milik pemerintah di Kabupaten Jayapura dari segi kebersihan dan kesehatan lingkungan belum bisa tampil layaknya rumah sakit.

Sampah berserakan di beberapa lokasi. Bahkan limbah bekas pengobatan yang berbahaya seperti jarum suntik dan sarung tangan berhamburan dari kardus yang digunakan sebagai tempat sampah sementara. Sampah medis seperti ini juga ada yang ditaruh di kotak sampah yang bermerek “Sampah Non Medis”.

Bekas ludahan pinang pengunjung pun terdapat di beberapa tempat, padahal ada peringatan “Dilarang Meludah Sembarangan”.

Beberapa pengunjung kepada Jubi mengatakan, penyebab utama berserakannya sampah di rumah sakit tersebut karena tidak adanya pagar. Ini menyebabkan hewan seperti sapi, anjing, babi, dan kucing leluasa masuk ke lingkungan rumah sakit. Hewan-hewan ini kadangkala membawa sampah ke mana-mana.

“Saya mengkhawatirkan sampah medis itu, kalau anak-anak main dekat sana dan tertusuk jarum suntik yang bertebaran itu bagaimana? Kalau pengguna jarum itu misalnya positif HIV atau penyakit lain yang salah siapa? Jadi yang kerja baik perawat, suster, dan dokter mereka juga harus perhatikan itu sampah medis ditaruh dengan baik pada tempatnya, bukan dicampur,” ucap Bernad, salah seorang keluarga pasien kepada Jubi.

Menurut Bernard, petugas kebersihan terlihat cukup bekerja keras. Sebab ketika dia berkunjung dia melihat mereka ada yang menyapu halaman, membabat rumput, dan mengangkat sampah. Namun yang belum teratur adalah pembuangan limbah rumah sakit, terutama sampah berbahaya.

Ia berharap kebersihan di rumah sakit tersebut dijaga dengan baik. Sebab pasien datang untuk berobat agar segera sembuh dan tidak mengharapkan mendapatkan penyakit.

“Kita datang mau sembuh bukan mau sakit, kita datang ke rumah sakit bukan ke pasar, jadi kalau kebersihan, baik di toilet, lingkungan RSUD, dan selokan, tidak dijaga itu sayang, apalagi dengan kondisi lingkungan yang tidak dipagar ini,” tutur pemuda tersebut.

Dr. Petronella Marcia Risamasu adalah Pelaksana Tugas Harian (PLT) yang baru saja memimpin RSUD Yowari. Saat ditemui Jubi tentang masalah ini pada Selasa (23/1/2018), ia mengatakan sudah ada petugas yang menangani kebersihan. Baik kebersihan lingkungan rumah sakit maupun kebersihan di setiap ruangan.

Sedangkan petugas rumah sakit seperti dokter dan perawat, katanya, adalah melayani dan bukan mengurus sampah.

“Yang menangani kebersihan itu pihak ketiga yang memenangkan tender dan untuk sekarang ini baru dilakukan perekrutan dan yang memenangkan tender itu sedang melakukan pendataan ulang bulan ini,” ucapnya.

Tugas cleaning service, tambahnya, mengangkat sampah dan ketika hendak dibakar nanti ada petugas yang memilah sampah medis dan sampah nonmedis untuk dibakar di inkubator alat pembakar sampah medis.

Petronella mengatakan, dengan terpilihnya pemenang tender, pihak ketiga yang akan menangani cleaning service nanti adalah orang Papua. Karena itu satu kebanggan di mana orang asli Papua bisa memimpin di daerahnya sendiri.

“Saya bangga dengan Domi selaku pemenang tender di mana dia pengusaha Papua, saya ingin hasil yang bagus, tetapi saya ingin dia bekerja dengan keras, karena ini dia kerja bukan di orang punya tanah, ini kita kerja di kita punya tanah sendiri, jadi kita punya masyarakat sendiri harus rasa, kalau mau kerja di tempat lain dan mau protes itu tidak bisa karena orang lain punya tempat sehingga kita harus berikan yang bagus,” tuturnya.

Di tempat terpisah, anggota DPRD Kabupaten Jayapura dari Komisi C yang membidangi kesehatan, Matheis Lewirissa mengatakan, tidak bisa ditutup-tutupi lagi soal pelayanan di RSUD Yowari.

“RSUD Yowari ini belum layak pelayanannya dan masih butuh pembinaan dari Dinas Kesehatan agar bisa meningkatkan pelayanannya,” katanya.

Ia mengatakan, sudah menyampaikan hal tersebut kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura. Namun sejauh ini belum ada tindakan perubahan

“Kita berharap ke depan pelayanan harus ditingkatkan, kalau soal dana itu sudah ada perencanaan dari bawah, jadi mungkin dari segi pengawasan dari dinas saja ke sana, kalau pendanan itu masing-masing SKPD sudah mengusulkan anggaran mereka,” jelasnya.

Menurutnya dalam sekali anggaran DPRD tiga kali melakukan reses melihat ke lapangan, termasuk ke rumah sakit, kemudian melakukan hearing.

“DPRD sudah menyampaikan sesuai kepentingan masyarakat seperti keluhan di rumah sakit ini, tinggal pelaksanaannya di dinas,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan