Inilah Warisanmu (3); Semua Butuh Makanan

Oleh: Mikael Tekege)*

Malam itu, suasana tenang tanpa bisikan apa pun, membiarkan kedua telinga meresap cerita mengisi keheningan malam di Emaawaa. Duduk bersila di dekat tungku api, Bapak Tua sambil sesekali canda tawa menghiasi tuturan, masih lanjutkan ceritanya.

Semua Butuh Makanan

Anakku, pernahkah engkau tahu sebagian anggota tubuhmu membutuhkan makanan yang menuntut kita memenuhinya?

Anakku, makanan itu tak bisa kita berikan sembarangan. Kita harus berikan secara baik dan benar agar tetap sehat. Anakku, berikanlah makanan yang bergizi bagi anggota tubuhmu agar ia dapat menghasilkan sesuatu yang baik dalam perjalanan hidupmu.

Anakku, anggota tubuhmu yang membutuhkan makanan bergizi adalah mata, otak, mulut, dan tangan. Meskipun anggota tubuh lainpun perlu mendapat makanan yang bergizi, tetapi yang paling penting adalah keempat bagian tubuhmu itu.

Anakku, tahukah engkau makanan dari keempat anggota tubuhmu itu?

Anakku, jika mata membutuhkan makanan, berikanlah hasil usahamu. Bukan hasil usaha orang lain, karena itu akan berpengaruh terhadap mata itu sendiri.

Anakku, makanan dari mata adalah “melihat” secara baik dan benar. Kamu harus melihat sendiri terhadap persoalan apapun yang terjadi dalam kehidupan sosial, karena orang bisa membohongi kita demi kepentingan tertentu.

Jika kamu melihat sendiri secara baik dan benar tanpa perantara, berarti kamu telah memenuhi tuntutan matamu. Dan matamu akan puas atau kenyang atas apa yang telah diberikan itu. Tetapi, ia (mata) tidak puas ketika hanya mendengar orang lain tanpa melihat sendiri.

Anakku, jika otak meminta makanan, berikanlah secara baik dan teratur, jangan pernah mengambil makanan yang bukan milikmu untuk memberikan pada otak yang membutuhkan makanan tersebut.

Jika tidak ada makanan untuk otak, mintalah kepada yang memiliki banyak makanan dan makanan itu adalah “berpikir” yang baik dan benar. Kamu harus berpikir secara baik dan benar dalam menghadapi tantangan hidup.

Anakku, berpikir yang baik dan benar akan menentukan hidupmu kedepan. Jika mengalami kesulitan, kamu harus mencari jalan keluar dengan cara meminta pikiran dari orang lain yang kamu percaya. Otak akan kenyang dan puas ketika kamu berpikir mencari solusi atas suatu persoalan secara baik dan benar.

Anakku, mulut juga membutuhkan makanan yang enak. Mulut itu akan baik jika kamu memberikan makanan yang baik dan benar. Berikanlah makanan secukupnya secara teratur, jika mulut meminta makanan dan makanan itu adalah “berbicara” yang baik dan benar. Perkataan itu akan menentukan dalam menyelesaikan persoalan apapun dalam hidup ini.

Kamu harus mengatur kata-kata yang enak didengar oleh orang lain dalam membahas masalah tertentu. Karena perkataan dan pembicaraan kamu akan menentukan pikiran, pembicaraan dan tindakan bagi pihak lain. Orang bijak mengatakan: kata adalah senjata. Dan, senjata itu akan membuat mulut itu kuat dan kenyang.

Anakku, tangan pun membutuhkan makanan sesuai dengan kebutuhannya. Memenuhi kebutuhan dari tangan adalah tugas kamu, termasuk  dia dan juga mereka. Berikanlah makanan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Anakku, makanan dari tangan adalah melakukan “ perkerjaan” atau “bekerja” yang baik dan benar. Kerja merupakan aktivitas yang melekat pada setiap orang untuk memenuhi kepentingan masing-masing.

Dan, bekerja merupakan suatu keharusan bagi setiap orang, entah itu pria dan wanita, baik tua maupun yang muda. Lakukan pekerjaan sesuai kemampuan tanpa mengorbankan pihak lain, karena itu akan memenuhi makanan dari tangan itu sendiri.

Begitu juga dengan anggota tubuh lain. Jika semua anggota tubuhmu membutuhkan makanan, berikanlah sesuai dengan kebutuhan secara baik dan benar.

Anakku, itulah arti filosofi hidupmu: “Dou Gai Ekowai” (melihat, berpikir, lalu bertindak).

Anakku, melakukan sesuatu berdasarkan filosofi hidupmu membuat kamu lebih bijaksana dalam mengambil setiap keputusan, tindakan, pembicaraan maupun pekerjaan. Anakku, orang harus menjalani kehidupan ini atas dasar filosofi hidup, karena itu akan membuat kita mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk serta benar dan yang salah.

Anakku, jika orang mengatakan budayamu kolot, primitif dan tertinggal, jangan menghayati, karena itu bagian dari usaha mereka untuk menghancurkan tatanan hidupmu dan hidup bangsamu. Mereka sengaja mengatakan demikian supaya hidupmu dan bangsamu mudah dikendalikan oleh mereka.

Karena itu, anakku, lestarikanlah budayamu berdasarkan filosofi hidup yang telah diwariskan kepadamu. []

Bersambung ke bagian keempat – Jangan Benci Dirimu

)* Penulis adalah salah satu penulis buku “Anomali Negara, Kawin Paksa Burung Garuda dengan Cenderawasih”

Tinggalkan Balasan