Kasus Postingan di Facebook, Nasib Saly Maskat dan Panji Agung Tunggu Hasil Gelar Perkara

Kombes (Pol) Edy Swasono, Direktur Reskrimsus Polda Papua. (Foto : Titie/ Lingkar Papua)

LINGKARPAPUA.COM, JAYAPURA— Hingga kini Polda Papua belum melakukan pemanggilan untuk pemeriksaan ataupun menetapkan status hukum terhadap dua pemilik akun yang di laporkan oleh pasangan Calon Gubernur Papua Nomor Urut 2, John Wempi Wetipo – Habel Melkias Suwae (JOSUA) dengan dugaan pelanggaran terhadap UU ITE tentang tindak pidana ujaran kebencian dan pencemaran nama baik melalui social media.

Nasib pemilik dua akun tersebut, Saly Maskat dan Panji Agung Mangkunegoro apakah akan ditetapkan sebagai tersangka dengan ancaman hukuman penjara maksimal hingga 7 tahun tersebut baru akan di ketahui setelah Polda Papua melakukan gelar perkara yang direncanakan pekan depan.

“Polda Papua menjadwalkan proses gelar perkara dilakukan dalam pekan ini, menyusul proses pengumpulan bukti dan informasi dari pihak penyidik”, kata Kappolda Papua, Irjen (Pol) Boy Rafli Amar, dalam jumpa pers dengan sejumlah awak media di Mapolda Papua, Senin (9/4/2018).

Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, terhadap dua kasus berbeda laporan tersebut sedang dalam penanganan Tim Cyber Polda Papua.

“Kasus ini masih dalam proses penyelidikan, Tim Cyber sudah bekerja dengan melakukan pemeriksaan bukti awal dan saksi-saksi,” kata Irjen Pol Boy  Rafli Amar dalam jumpa pers dengan wartawan di Mapolda Papua, Senin (9/4/2018).

Boy Rafly Amar menjelaskan bahwa penyidik Cyber Polda Papua sudah meminta keterangan lebih dari tiga orang saksi, pengumpulan bukti serta petunjuk atas kasus tersebut untuk selanjutnya masuk dalam tahapan gelar perkara.

Lebih lanjut ditambahkan Direskrimsus Polda Papua, Kombes Pol Edy Swasono, gelar perkara sendiri menjadi penentu apakah kasus tersebut memenuhi syarat untuk ditingkatkan ke proses penyidikan, sebagaimana hasil pengumpulan bukti permulaan, petunjuk dan saksi

“Nah saat ini kita masih dalam proses itu, petunjuk saksi dan alat bukti dari itu semuanya, dimana Polda sudah melakukan interview kepada beberapa pihak yang terlibat maupun yang dirugikan, setelah itu barulah dilakukan gelar perkara,” kata Edy menegaskan jika hasil gelar perkara menunjukan kedua kasus tersebut cukup bukti untuk di sidik, barulah Polda Papua melayangkan panggilan resmi terhadap kedua terlapor.

Ia mengatakan, dua kasus tersebut Polda belum dapat memastikan apakah Saly maupun Panji ditahan atau tidak, meski ancaman tujuh tahun penjara.

“Kepastian itu ditentukan dari hasil gelar penyidikan nantinya,” katanya.

Terhadap laporan keduanya, kata Kombes Edy, laporannya bersifat personal, sebab subjek hukum IT itu tidak ada badan usaha atau lembaga, tapi secara perseorangan.

Ia menjelaskan, lamanya proses untuk kedua kasus tersebut, lantaran peliknya UU ITE, harus ada digital forensik yang memerlukan keahlian dan alat. Sementara untuk Polda Papua masih mengalami keterbatasan untuk alat tersebut.

“jadi untuk kasus ini Polda melakukan koordinasi dengan divisi Cyber Crime Mabes Polri karena hanya Mabes yang punya alat itu,” katanya menambahkan kriteria pelanggaran UU ITE adalah seseorang yang menviralkan sesuatu melalui media sossial seperti FB, Instagram dan lainnya, dan itu tidak berlaku jika sumber berita dari media resmi, sebab jika ada dugaan berita resmi itu tidak benar, maka ranah hukumnya masuk dalam UU Pers.

“Jadi ITE ini berlaku pada subjek hukum yang memanfaatkan media sosial untuk menviralkan sesuatu yang terkait SARA, berita yang mengandung fitnah, pencemaran nama baik dan lainnya”, kata Direskrimsus Polda Papua, Kombes Pol Edy Swasono. (***)

Reporter         : Titie
Editor              : Walhamri Wahid

The post Kasus Postingan di Facebook, Nasib Saly Maskat dan Panji Agung Tunggu Hasil Gelar Perkara appeared first on .

Tinggalkan Balasan