Polisi “Pi Ajar Sekolah” di Kampung Longsoran Tembagapura

 Polisi gelar kegiatan “pi ajar sekolah” di Kampung Longsoran distrik Tembagapura
SAPA (TIMIKA) – Polisi gelar kegiatan “pi ajar sekolah” di Kampung Longsoran distrik Tembagapura, Rabu (16/5). Kegiatan tersebut bermaksud untuk menumbuhkan semangat anak-anak di daerah tersebut untuk kembali mau belajar di sekolah, yang selama ini sempat terhenti karena di daerah itu pernah terjadi aksi saling tembak antara pihak keamanan dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Melalui kegiatan “pi ajar sekolah”, Polres Mimika melalui Satuan Binmas dan Polsek Tembagapura serta Satgas Noken hadir di tengah anak-anak di daerah yang pernah terjadi aksi saling tembak antara pihak keamanan dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). 

Kasat Binmas Polres Mimika, AKP Frits J. Erari mengatakan, kegiatan “pi ajar sekolah” ditargetkan buat anak-anak di daerah longsoran distrik Tembagapura. Sebanyak 20 anak-anak terlibat dalam kegiatan tersebut, yang di dalamnya ada anak-anak yang sudah sekolah dan ada juga yang belum sekolah.

“Daerah tersebut, sangat kurang mendapat perhatian. Sehingga kegiatan kali ini kita fokuskan ke daerah longsoran,” katanya kepada Salam Papua, Rabu (16/5).

Ia menambahkan, kegiatan ini secara khusus ditujukan kepada anak- anak yang tidak atau belum bersekolah. Dalam kegiatan tersebut, Polisi mengajarkan anak-anak dalam hal membaca dan mengenal Indonesia serta Bendera Merah Putih. Bentuk pembelajaran tersebut diselingi dengan permainan-permainan demi menimbulkan ketertarikan dan semangat anak-anak untuk belajar, serta kegiatan tersebut dilakukan di honai milik bapak Yulianus.

“Di dalam honai ini, kita bermain sambil belajar dengan anak-anak,” ujarnya.

Dalam bentuk permainan, ungkapnya, anak-anak diajarkan cara membuat pesawat dari kertas dengan maksud agar  motorik halus anak bisa berkembang dengan baik.

Selain itu, anak-anak juga diajak bermain tentang komposisi mengatur ruang dan jarak di lapangan, supaya anak - anak bisa lebih aktif untuk bergerak.

“Berbagai permainan kita ajarkan agar motorik halus dapat berkembang  dengan baik dan anak-anak dapat aktif bergerak,” ungkapnya.

Menurutnya, anak-anak yang terlibat dalam kegiatan ini berumur 6-7 tahun bahkan ada yang sudah berumur 11 tahun.  Pada umumnya, anak-anak sudah bisa baca tulis, tapi karena kejadian yang menimpa daerah tersebut, akhirnya anak-anak tidak dapat melaksanakan aktivitas belajar dengan baik. (Tomy)

Tinggalkan Balasan