Visi 2030 Arab Saudi, Bioskop Dibolehkan, Ini 10 Perempuan Pertama Yang Dapat Izin Mengemudi

Setelah sekian dekade kaum hawa harus keluar Arab Saudi agar bisa membawa kendaraan sendiri, dan ribuan warga Arab Saudi harus ke negara tetangga hanya untuk sekedar menonton di bioskop, sejak pekan kemarin larangan mengemudi bagi kaum perempuan dan bioskop sudah di bolehkan di Arab Saudi. (Foto : dok. SPA)

LINGKARPAPUA.COM, INTERNASIONAL—Untuk pertama kalinya dalam sejarah Arab Saudi setelah sekian dekade lamanya memberlakukan larangan ketat bagi kaum hawa mengendarai atau menyetir kendaraan sendiri, Senin (4/6/2018) kemarin otoritas Arab Saudi akhirnya menerbitkan Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi 10 perempuan pertama Arab Saudi yang telah memiliki lisensi SIM Internasional untuk mendapatkan SIM Arab Saudi, dengan tetap melalui serangkaian tes uji mengendarai.

Kantor berita resmi Arab Saudi, Saudi Press Agency (SPA) menyebutkan Direktorat Umum Lalu Lintas Saudi telah menggantikan 10 SIM Internasional yang di miliki 10 perempuan Arab Saudi dengan SIM Arab Saudi sejak Senin (4/6/2018) kemarin, dan selanjutnya dalam sepekan ini akan menyusul 2.000 perempuan Saudi lainnya juga akan menyusul mendapatkan SIM Saudi, sebelum secara resmi mencabut larangan mengemudi bagi kaum perempuan pada 24 Juni 2018 mendatang.

Rema Jawdat, salah seorang perempuan dari 10 perempuan yang menerima SIM Saudi untuk pertama kalinya itu tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya ketika mendapatkan SIM Saudi dari negaranya.

“Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, saya akan menyetir di kerajaan ini,” katanya, seperti dikutip dari CIC.

“Bagi saya, mengemudi mewakili pilihan, yaitu pilihan untuk bergerak independen. Sekarang kami memiliki opsi itu,” imbunya

Jawdat merupakan seorang pejabat di kementerian ekonomi dan perencanaan yang memiliki pengalaman mengemudi di Lebanon dan Swiss.

“Saya pengalaman 12 tahun mengemudi di Lebanon, Swiss, dan Amerika Serikat. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan di mana saya akan berkendaraan di Kerajaan,” kata Jawdat, seorang analis risiko di Kementerian Ekonomi dan Perencanaan, seperti dilansir Khaleej Times, (4/6/2018), di kutip dari Tempo.co.

Perempuan lainnya kebanyakan memiliki SIM yang diberikan oleh negara lain, termasuk Inggris dan Kanada. Sebelum mendapatkan SIM dari otoritas Saudi, mereka tetap harus melewati ujian mengemudi.

Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia yang melarang perempuan mengemudi. Kritik global terus menghujani Saudi karena dianggap menindas perempuan.

Seperti dilansir republika.co.id, Selasa (5/6/2018), kesepuluh perempuan pertama yang mendapatkan SIM Saudi tersebut awalnya mengonfirmasi validitas lisensi SIM asing yang dikirimkan melalui portal daring http://www.sdlp.sa dan melakukan tes praktis, yang kemudian 10 perempuan pertama itu akhirnya memperoleh SIM. Izin mengemudi bagi perempuan akan mulai diberlakukan pada 24 Juni mendatang.

Sebuah video yang menunjukkan seorang perempuan menerima SIM dari otoritas Saudi menjadi viral secara daring. Media sosial juga dipenuhi dengan berita dan cicitan-cicitan semangat dari warga Saudi yang mengekspresikan perasaan mereka pada hari bersejarah itu.

“Ribuan ucapan selamat kepada putri-putri dari tanah air yang telah mendapatkan SIM pertama di Arab Saudi,” tulis akun @saudalzmanan di jejaring sosial Twitter, dikutip Arab News, dalam lansiran republika.co.id.

“Terima kasih kepada Penjaga Dua Masjid Suci (Raja Salman), kami akhirnya melihat SIM diserahkan kepada saudara perempuan Saudi kami oleh otoritas. Sekarang, kami tidak hanya dapat berkendara ke luar negeri (tetapi juga di Arab Saudi),” kata akun Twitter lainnya, @Louie_alfassi.

Lima universitas Saudi telah membuka sekolah mengemudi untuk perempuan. Universitas-universitas itu adalah Princess Nourah bint Abdulrahman University di Riyadh, King Abdul Aziz University di Jeddah, Tabuk University, Taif University, dan Imam Muhammad ibn Saud Islamic University.

Sekolah mengemudi di Princess Nourah bint Abdulrahman University adalah sekolah mengemudi pertama bagi perempuan di ibu kota Riyadh. Sekolah ini diluncurkan dalam kemitraan dengan Emirates Driving Institute di Dubai.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman merupakan kekuatan di balik pencabutan larangan itu. Rencana reformasinya yang disebut Visi 2030 untuk era pasca-minyak, berusaha meningkatkan angkatan kerja perempuan menjadi hampir sepertiga, naik dari sekitar 22 persen di angka saat ini.

Arab Saudi akan mengakhiri larangan mengemudi kenderaan terhadap wanita  pada 24 Juni 2018 berdasarkan keputusan Raja Salman bin Abdulaziz pada September 2017.

Sejumlah pameran otomotif baru-baru ini di Riyadh dan kota pelabuhan Jeddah, juga menarik banyak wanita yang ingin belajar tentang budaya mobil, dealer mobil dan perusahaan asuransi.

Peserta juga diberitahu tentang penawaran khusus untuk pengemudi wanita baru, dididik tentang aksesoris mobil dan diberi kesempatan untuk mengambil putaran dalam simulator mengemudi.

Selain pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan, mulai pekan ini pula pemerintah Arab Saudi mencabut larangan pemutaran film di bioskop.

Seperti dilansir www.dw.com, bioskop permanen pertama di Arab Saudi sudah bisa beroperasi sejak awal Maret lalu, setelah pihak kerajaan mencabut larangan pemutaran film. Langkah ini adalah bagian dari upaya reformasi dan liberalisasi, yang juga memperbolehkan perempuan Arab Saudi mengemudi mobil dan menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion.

Untuk saat ini, otoritas Arab Saudi mengeluarkan peraturan sementara dan melengkapi gedung budaya di Jeddah yang dilengkapi dengan proyektor, karpet merah dan mesin popcorn.

“Sampai sekarang, tidak ada infrastruktur untuk bioskop, jadi kami mencoba memanfaatkan tempat alternatif untuk mendekati bentuk sinematik,” kata Mamdouh Salim, yang menyelenggarakan pemutaran film selama satu minggu.

“Kami mencoba menggunakan film-film ini untuk menjadi titik awal setelah keputusan pada 11 Desember untuk mengizinkan bioskop.”

Bioskop dilarang di Arab Saudi pada awal tahun 1980an di bawah tekanan dari kelompok Islam yang ingin masyarakat menuruti aturan yang lebih konservatif dan melarang bercampurnya publik lelaki dan perempuan.

Langkah reformasi yang diprakarsai Putra Mahkota Mohammed bin Salman mencabut berbagai larangan dengan harapan agar bisa mendongkrak kegiatan ekonomi dan mengurangi ketergantungannya negara itu pada minyak.

Film yang akan diputar tetap harus melalui lembaga sensor untuk memastikan bahwa film-film itu sesuai dengan “nilai-nilai moral” kerajaan.

Setelah menonton The Emoji Movie bersama istri dan anak perempuannya pada hari Minggu malam (14/1), Sultan al-Otaibi yang berusia 28 tahun mengatakan bahwa orang-orang Saudi lebih senang melihat film di bioskop ketimbang di rumah.

“Ini lebih nyaman, lebih menyenangkan dengan perubahan pemandangan dan kegiatan di akhir pekan. Ini adalah langkah yang sangat terlambat, tapi syukurlah hal itu terjadi sekarang.”

Ribuan warga Saudi saat ini harus pergi ke Bahrain, Uni Emirat Arab dan negara-negara lain untuk mendapat hiburan serupa. Pemerintah Arab Saudi ingin mempertahankan uang yang dikeluarkan untuk perjalanan tersebut dan kini mengizinkan operasi bioskop.

Pihak berwenang berharap dapat segera membuka 300 gedung bioskop dengan 2.000 layar pada sampai 2030 dan membangun industri perfilman yang diharapkannya akan memberikan kontribusi lebih dari  24 miliar dolar AS untuk menunjang perekonomian dan menciptakan 30.000 lapangan kerja baru.

Jejaring bioskop regional dan internasional mulai mengincar pasar Arab Saudi dan dengan antusias menyasar kaum muda yang jumlahnya sekitar 70 persen dari populasi.

“Saya ingin melihat semuanya karena ini adalah sesuatu yang baru untuk Saudi,” kata pemain film berusia 30 tahun Ibtisam Abu Thalib. “Saya harap semuanya tersedia – aksi, percintaan, film anak-anak, komedi. Semuanya, insyaallah.” (***)

Penulis            : Nugroho
Editor             : Walhamri Wahid

The post Visi 2030 Arab Saudi, Bioskop Dibolehkan, Ini 10 Perempuan Pertama Yang Dapat Izin Mengemudi appeared first on .

Tinggalkan Balasan