BPOM Temukan Dua Bahan Kimia Ini pada Jajanan Pasar Selama Ramadhan

Kalau Anda menemukan jajanan pasar dengan warna – warna mencolok dan menggoda seperti ini, waspada, bisa jadi mengandung Rhodamine B, zat pewarna tekstil yang sudah di larang oleh WHO, seperti temuan BPOM Magelang belum lama ini di sejumlah pasar tradisional selama Ramadhan. (Foto : infoherbalis.com)

LINGKARPAPUA.COM, NUSANTARA— Selama bulan Ramadhan berbagai macam jajanan pasar bermunculan di tepi jalan, terkadang kita tidak menyadari, bisa jadi dari beberapa jajanan pasar yang biasa kita konsumsi ternyata mengandung sejumlah bahan kimia yang bisa membahayakan tubuh kita seperti yang baru – baru ini di temukan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Magelang, Jawa Tengah.

Seperti lansir actual.com, BPOM Jawa Tengah menemukan produk makanan ringan mengandung bahan kimia berbahaya, yakni Rhodamin B dan formalin.

Sesuai hasil sampel yang di ambil dari Pasar Rejowinangun, Magelang, sejumlah ikan asin mengandung formalin, sedangkan kandungan Rhodamin B ditemukan pada makanan ringan rengginang singkong dan selondok.

Staf Bagian Layanan Informasi Konsumen Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jateng Eni Zuniati mengatakan, 31 sampel makanan diambil secara acak oleh petugas dari sejumlah pedagang di Pasar Rejowinangun.

Petugas menemukan ikan asin teri nasi dan ikan cumi-cumi mengandung bahan kimia berupa formalin sebagai pengawet.

Seperti dikutip dari halosehat.com, Rhodamine B adalah salah satu bahan pewarna sintesis makanan dan tekstil yang dilarang penggunaannya di Indonesia utamanya sejak 1985 melalui Peraturan Menteri Kesehatan.

WHO secara resmi juga telah mengumumkan bahwa zat tersebut berbahaya karena kandungan logam berat dan sifat kimiawinya. Di Eropa, zat ini telah lama dilarang karena digolongkan dalam kategori karsinogen yang dapat memicu kanker.

Karena efek samping yang begitu besar, zat ini bahkan tidak hanya berbahaya jika dijadikan pewarna makanan, akan tetapi juga pada produk kosmetik. Bahkan, unsur berbahaya dalam Rodhamin B tidak hanya terdapat dalam senyawa organiknya, akan tetapi juga senyawa anorganik ataupun ketika terkontaminasi oleh senyawa anorganik lainnya. Untuk itu, sangat penting kiranya mengetahui informasi-informasi inti mengenai zat satu ini.

Rhodamine B pada dasarnya merupakan zat pewarna yang digunakan dalam industri tekstil dan pembuatan kertas untuk menghasilkan warna cerah mencolok sehingga menggoda konsumen.

Bentuknya tak beda dengan kristal dan berwarna hijau atau merah keunguan serta mudah larut dalam air. Jika terlarut dalam konsentrasi tinggi, zat ini akan membuat cairan merah keunguan sedangkan dalam konsentrasi rendah, Rodhamine B akan membuat cairan berwarna merah menyala.

Salah satu cara mengenali zat ini adalah warna yang menebarkan cahaya cerah mencolok (bahkan tidak pudar oleh cahaya matahari) dan berpendar serta tidak meratanya taburan warna.

Adapun bahayanya kita mengkonsumsi makanan yang mengandung Rhodamine B adalah kemungkinan bisa terkena iritasi saluran pernapasan, bibir pecah, kering, terkelupas gatal dan iritasi kulit, iritasi mata, keracunan,

Pada umumnya makanan yang tercampur Rhodamine B biasanya memiliki sedikit rasa pahit, memiliki gumpalan-gumpalan warna serta tidak mencantumkan keterangan merk, produsen dan komposisi yang jelas.

Tak jarang, makanan yang tercampur Rhodamine B menebarkan bau aneh yang tidak sesuai dengan bau makanan seperti biasa serta menyebabkan tenggorokan gatal beberapa saat setelah mengonsumsinya.

Namun demikian, tampilan dari makanan yang menggunakan zat ini cenderung menarik dan terkesan menawarkan cita rasa tinggi sehingga ketika harga jualnya tidaklah semahal tampilannya, banyak yang tertarik untuk membeli dan mengonsumsinya.

Sedangkan formalin sebagaimana di kutip dari halosehat.com, merupakan zat yang tidak berwarna, mudah terbakar, namun memiliki bau yang sangat menyengat.

Formalin biasa digunakan sebagai bahan untuk cairan pembersih dan juga digunakan juga dalam pembuatan perkakas rumah tangga, furniture, atau kayu lapis. Bahan perekat seperti lem juga menggunakan formalin untuk membuatnya. Formalin juga digunakan untuk bahan desinfektan, fungisida dan germisida.

Di Indonesia, formalin yang digunakan untuk pengawet makanan sebenarnya sangat dilarang oleh Kementrian Kesehatan kita. Bahkan beberapa undang – undang dan permenkes juga diterbitkan untuk melarangan penggunaan formalin ini. Berikut ini beberapa bahaya formalin pada makanan bagi kesehatan manusia.

Adapun dampak dari konsumsi formalin yang berlebihan diantaranya bisa menyebabkan iritasi mata, iritasi saluran pernafasan, mual, kulit kemerahan, kerusakan organ pencernaan, gangguan menstruasi, kanker hidung, diare, susah tidur, kanker otak, menghambat proses pertumbuhanm kanker paru – paru, sakit kepala, gatal, bahkan bisa menyebabkan koma.

Bila Anda menemukan ada jajanan dengan ciri – ciri seperti diatas di sekitar Anda, sebaiknya segera beritahukan kepada petugas kesehatan setempat atau kepada BPOM. (***)

Penulis            : Nugroho
Editor             : Walhamri Wahid

The post BPOM Temukan Dua Bahan Kimia Ini pada Jajanan Pasar Selama Ramadhan appeared first on .

Tinggalkan Balasan