Gelar Raker ke VII, Karyawan Tongoi Papua Diajak Terus Produktif

Tongoi Papua menggelar Raker ke VII di Gedung Multy Purpose, Kuala Kencana, terhitung mulai Senin (11/6).

SAPA (TIMIKA) -  Untuk mengevaluasi capaian kerja organisasi terkait dengan program kerja tahun-tahun sebelumnya dan  menentukan serta menyusun program kerja lanjutan, Organisasi Karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) yang dinamai Tongoi Papua menggelar rapat kerja (Raker) ke VII di Gedung Multy Purpose, Kuala Kencana, terhitung mulai Senin (11/6).

Hari pertama pelaksanaan Raker yang  dihadiri ratusan karyawan PT FI, prifatisasi dan kontraktor ini  dibuka secara resmi oleh SVP Social Responsibility Community Development PTFI, Claus Oscar Ronald Wamafma. Raker ini mengangkat tema “Transformational Performance  Papuan Human Capital.”

“Raker ini sudah diatur dalam ART untuk dilaksanakan setiap tahun. Kami mengevaluasi kerja di tahun sebelumnya. Meski saat ini sudah berada di pertengahan tahun, tetapi kami masih dalam skop semangat untuk melakukan perubahan. Karena itu, tema raker kami tahun ini adalah Transformational Performance  Papuan Human Capital,” ungkap Ketua Panitia Raker Tongoi Papua ke VII, Bety Ibo saat diwawancarai di Gedung Multy Purpose, Kuala Kencana, Senin (11/6).

Diakuinya, pengusungan tema  tersebut dikarenakan, untuk selanjutnya Man Power Papua yang ada di PTFI betul-betul siap dan capable untuk terus dalam reformasi perubahan ini.

Bety mengaku, transformasi  yang diusung dalam semangat raker  mengajak semua karyawan Papua untuk melihat ke belakang, saat ini dan waktu yang akan datang bahwa perubahan-perubahan itu akan terjadi di dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

“Meski demikian, semua karyawan Papua harus terus berjalan bersama di dalam setiap bentuk perubahan itu. Dalam hal ini kita mengetahui bersama bahwa suatu perubahan bisa saja terjadi dengan rencana, tetapi ada juga yang di luar perencanaan,” katanya.

Menurut dia, melalui raker tersebut semua karyawan Papua diajak untuk terus memperbaiki produktifity personal. Dimana, untuk maju atau tetap bertahan dalam berbagai bentuk perubahan tersebut merupakan tanggung jawab masing-masing personal.

Ia mengaku, optimis dengan  Out put  atas  pelaksanaan raker , karena raker akan dilanjutkan dengan pelaksanaan road showke lapangan untuk mengajak kembali atau mensosialisasi ulang di area kerja masing-masing.

“Karena itu secara organisasi, semua anggota yang merupakan perwakilan dari berbagai area kerja diajak  agar bersama-sama bersemangat untuk suatu perubahan. Bisa saja di waktu akan datang bermunculan berbagai perubahan yang mungkin berdampak baik, tetapi juga mungkin berdampak  tidak baik. Yah memang bagi yang sudah siap, dia akan menerima perubahan itu dengan baik, tapi yang belum siap, mungkin dia mengalami tantangan berat,” ungkapnya.

Ketua Umum Tongoi Papua PTFI, Frans Pigome dalam kesempatan tersebut mengatakan, Organisasi Tongoi ini membuat semua karyawan Papua mengerti bahwa yang menjadi prioritas utama dalam organisasi tersebut adalah menunjang produktifitas kerja sehingga perusahaan tetap beroperasi dengan baik dan memenuhi target. Dengan demikian, karyawan khusus Papua juga mendapatkan dampak atas peningkatan tersebut.

“Memang dari awal pembentukan, organisasi ini menemukan banyak tantangan, tetapi dengan konsistensi dan kepemimpinan yang bagus, maka bisa berkembang dengan baik. Jadi tipikal Tongoi Papua juga semakin jelas,” jelas Frans.

Frans mengatakan Organisasi Tongoi Papua ini berfungsi untuk membantu manajemen PTFI. Sehingga, dengan adanya dinamika perubahan pada pengoperasian, diantaranya akan ada penutupan Grasberg, pengambilan 51 persen divestasi saham, penggunaan teknologi canggih di under ground dan tantangan lainnya, maka semua karyawan diharapkan untuk jauh lebih berproduktif, maskimal dalam bekerja. Hal ini dikarenakan adanya perubahan-perubahan tersebut, maka tuntutan bisnis juga menjadi semakin tinggi.

“Kita ajak semua karyawan Papua ini untuk lebih produktif, itu hanya melalui satu syarat yaitu, bagaimana caranya mereka mengurangi absensi. Memang kalau dikaji dari segi absensi itu dipengaruhi oleh banyak hal, tapi dari segi  bisnis, hal itu tetap saja tidak bisa diterima. Jadi tugas Tongoi Papua ini untuk mengajak semua agar selalu konsiten dalam bekerja,” katanya.

Frans juga menjelaskan, Tongoi telah dibentuk sejak tahun 1993 oleh Mofet dengan alasan  bahwa segala sesuatu yang diputuskan oleh Manjemen belum tentu benar, karena itu ia mengarahkan agar khusus karyawan Orang Asli Papua (OAP) membentuk suatu organisasi untuk mendampingi manajemen PTFI dalam menangani berbagai masalah.

Selanjutnya tahun 2005, Mofet memberikan surat resmi kepada Tongoi sebagai bagian integral dari Pusat.

Raker hari ke dua, Selasa (12/6) dihadiri oleh Director EVP, Human Resources dan Security PTFI, Ahmad Didi Arianto  dan VP.St.Advisor (Papuan Devp), EVP HP, Silas Natkime . Dalam Raker ini dilakukan pembentukan sekaligus membahas komisi dari beberapa bidang diantaranya, Komisi A membahas tentang Organisasi, Komisi B membahas tentang Pengembangan, Komisi C membahas tentang advokasi, Komisi D membahas tentang Humas dan External, Komisi E membahas tentang kesejahteraan, Komisi F membahas tentang Agama, Budaya dan Olahraga, Komisi G membahas tentang penanggulangan HIV/AIDS. Sedangkan komisi H membahas tentang pemberdayaan perempuan.

Hasil diskusi dari masing-masing komisi tersebut di atas langsung dipresentasikan kepada semua peserta raker dan dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan ataupun keberatan dari  perwakilan anggota dari setiap komisi berbeda.

Director EVP Human Resources dan Security PTFI, Ahmad Didi Arianto megatakan, Raker Tongoi Papua dilaksanakan untuk saling berbagi apa yang ada dalam pikiran semua karyawan. Sebab dengan saling berbagi pemikiran, masing-masing anggota akan memahami apa yang ada dalam setiap benak rekannya, sehingga bisa menyatukan pikiran dan hati tersebut dengan tujuan akhir untuk menghasilkan OutPut yang nyata dan memuaskan.

“Kalau tidak ada saling tukar pikiran atau diskusi, maka yang ada hanya saling duga-menduga di antara satu dan yang lainnya. Karena itu, kita semua tidak merasakan keberhasilan. Padahal keberhasialan itu harus didasari oleh niat yang baik dan keterbukaan satu sama lain,” katanya.

Didi mengaku sangat berterimakasih dengan terbentuknya Tongoi Papua. Sebab, dengan terbentuknya Tongoi Papua bisa memunculkan berbagai hal yang menjadi bahan perbaikan dalam pengembangan PTFI.

“Saya sangat senang dengan adanya Tongoi Papua, karena dengan Raker yang dilaksanakan bisa mengetahui hal terpenting apa saja yang harus kita lakukan sekarang dan selanjutnya. Dengan bergitu, kita tidak jadi ragu dan menjadi tahu apa tugas dan fungsi Tongoi Papua itu,” ungkapnya. (Acik)

Tinggalkan Balasan