Selamat Idul Fitri


UMAT Islam bersiap-siap melepas kepergian Ramadhan dan menyongsong tibanya hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah pada Jumat dan Sabtu (15-16 /6) 2018. Saatnya mengumandangkan alunan suara Takbir, Tasbih, Tahmid dan Tahlil tiada henti-hentinya dilakukan. Hal ini merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa. Juga sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan.

Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kalimat Tasbih kita tujukan untuk mensucikan Allah dan segenap yang berhubungan dengan-Nya. Tidak lupa kalimat Tahmid sebagai puji syukur juga kita tujukan untuk rahman dan rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hamba-Nya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dialah Dzat yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Idul Fitri sering disimbolkan sebagai kemenangan orang-orang yang sukses menaklukkan puasa. Tetapi dalam pengertian kontekstual, dimaknai sebagai momentum lanjutan dari sebuah proses pendidikan spiritual untuk menaklukkan diri sendiri.

Menaklukkan diri sendiri diartikan sebagai ungkapan kontribusi bagi suatu kemaslahatan sosial. Secara ideal dapatlah dibayangkan, betapa indah dunia ini jika diisi dengan peran orang-orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri.

Yang paling sederhana, bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai simpati dan empati yang seharusnya dipancarkan. Dari pantauan selama ini, sentuhan-sentuhan spiritualitas itulah yang terasa kering. Pemanfaatan peluang lebih berkuasa ketimbang akal sehat.

Amanat rakyat dinomorsekiankan dari prioritas kepentingan pribadi maupun kelompok. Kita menangkap, refleksi dari perilaku yang tidak amanah itu meruyak ke banyak sisi kehidupan masyarakat. Kita banyak kehilangan keteladanan, padahal indikator kepemimpinan yang amanah adalah sejauh mana seseorang atau kelompok mampu menjadi contoh dalam berucap, dan bertindak.

Dengan momentum Idul Fitri, marilah kita bekerja dengan semangat  akhlak kejujuran, akhlak pengendalian diri, akhlak berbagi, dan akhlak kesederajatan.Sebagai puncak Idul Fitri mari kita memberi spirit berbagi, semangat kedamaian seperti substansi pesan Islam. Yakni kesadaran untuk berbagi atas apa yang telah secara longgar kita nikmati, baik harta maupun bentuk-bentuk perhatian yang lain, juga kesadaran fitri mengenai kesamaan derajat kemanusiaan.

Alangkah rugi kalau momentum  itu terlewatkan hanya karena kita merasa telah terbebani oleh tuntutan kehidupan ekonomi, politik, dan sosial. Padahal, di tengah kerasnya mobilitas kehidupan itulah sebenarnya dibutuhkan sentuhan-sentuhan kemanusiaan untuk mengendurkan urat nafsu kita. Betapa rugi kalau Idul Fitri sekadar berlalu tanpa kita mampu memperoleh pencerahan bagi perubahan sosial.  Selamat Idul Fitri 1439 H. (Red)

Tinggalkan Balasan