Siapakah Pemenang Pilkada Mimika?


RABU besok, 27 Juni 2018, Pilkada serentak akan dilaksanakan di 171 daerah di Indonesia termasuk Kabupaten Mimika. Masyarakat pemilih akan berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk mencoblos calon gubernur/wakil gubernur dan calon bupati/wakil bupati pilihannya. Lalu siapakah pasangan calon (paslon) yang akan dipilih mayoritas masyarakat dan menang pada Pilkada Mimika?

Mengikuti trand tujuh paslon yang akan bersaing pada Pilkada Mimika di media sosial (medsos), semuanya menjagokan paslonnya sebagai pemenang, dengan dasar dan alasannya masing-masing. Ada yang atas dasar dukungan yang didapat selama masa kampanye, ada yang berdasarkan survey internal dan ada yang berdasarkan jumlah massa yang hadir pada saat Rapat Akbar dan Orasi Politik.

Ada paslon dan tim pemenangannya yang sudah  percaya diri menang dan tinggal tunggu dilantik. Ada yang menganggap paslonnya menang, namun pasangan B bisa menjadi kuda hitam. Begitu juga sebaliknya. Ada yang menyebut dari tujuh paslon yang ada, hanya sekian pasangan yang berpeluang menang. Sementara paslon lain hanya pelengkap dan penggembira saja. Tentu dengan dasar dan hitung-hitungannya sendiri yang belum tentu benar. Semua ini sah-sah saja. Percaya diri menang itu wajar, percaya diri kalah itu tidak mungkin.  Namun ingatlah, yang meninggikan diri bisa direndahkan dan yang direndahkan bisa ditinggikan. Janganlah takabur.

Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Mimika, menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) untuk Pilkada 2018 sebanyak 233.125 pemilih yang tersebar pada 18 distrik (kecamatan) dengan jumlah tempat pemungutan suara (TPS) sebanyak 650.

Bila mengikuti fakta selama masa kampanye, diduga jumlah massa yang memberi dukungan kepada tujuh paslon yang ada, bila diakumulasi semuanya belum mencapai 30 persen  Atau baru sekitar 70.000 pemilih yang sudah terbaca arah pilihannya selama masa kampanye, yang tersebar tidak merata ke tujuh paslon yang ada.

Diduga masih ada sekitar 160.000 lebih pemilih tergolong suara mengambang (swing voter) yang belum menentukan atau belum diketahui pilihannya.  Kemanakah arah dukungan sekitar 160.000 swing voter tersebut? Apakah akan mendukung paslon yang semuanya baru? Atau paslon lama dan baru? Jawabnya tidak ada yang tahu. Jawabannya baru akan diketahui beberapa jam atau beberapa hari setelah Pilkada 27 Juni nanti.

Bila mayoritas suara mengambang itu menumpuk pada salah satu paslon, maka diprediksi akan ada paslon yang bisa menang di atas 40 persen. Namun bila menyebar tidak merata ke tujuh paslon yang ada maka diduga pemenang Pilka Mimika hanya meraub suara sekitar 30-an persen.

Yang paling dikawatirkan adalah bila 50 persen atau lebih dari pemilih mengambang ini memilih golongan putih (golput) alias tidak ikut memilih dengan alasannya masing-masing, maka jumlah pemilih yang menggunakan haknya sangat rendah dan tentu saja suara yang diperoleh paslon akan rendah juga. Semoga saja ini tidak terjadi, karena tentu saja kita berharap semua pemilih menggunakan hak pilihnya sehingga kita bisa mendapatkan pemimpin yang mayoritas dipilih rakyat Mimika.

Seluruh rakyat Mimika dan stakeholders yang ada di daerah ini sangat amat berharap, siapa pemenang Pilkada Mimika ditentukan oleh suara rakyat yang ikut Pilkada. Bukan ditentukan melalui kecurangan yang dilakukan oleh oknum-oknum penyelanggara Pilkada baik itu oknum di KPU Mimika, Panwaslu Mimika, KPU Papua dan Bawaslu Papua.

Rakyat sangat berharap lahirnya pemimpin yang bersih dan jujur dari hasil Pilkada yang bersih, jujur, terbuka dan transparan. Rakyat berharap pemimpin tersebut lahir dari Pilkada, bukan Pilkadal karena ada oknum yang mengkadali suara rakyat untuk kepentingan diri atau paslon tertentu.

Kita juga berharap, masyarakat memilih paslon tertentu bukan berdasarkan uang (money politic), bukan berdasarkan suku atau agama. Tapi berdasarkan rekam jejak paslon yang baik dan benar, berdasarkan visi misi dan program kerja yang masuk diakal dan bisa dikerjakan.  Bukan karena janji-janji yang setelah terpilih dilupakan. Apakah harapan ini terwujud atau tidak sangat bergantung pada Panwaslu dan Bawaslu sebagai pengawas di lapangan.

Tujuh paslon yang ikut Pilkada memiliki peluang yang sama, namun satu hal yang pasti, hanya ada satu paslon yang akan memenangkan Pilkada Mimika. Siapakah dia? Apakah paslon itu menang sesuai hasil perhitungan suara KPU Kabupaten Mimika? Atau akan diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi? Kita lihat saja nanti. (yulius lopo)

Tinggalkan Balasan