Antara Piala Dunia, Pilkada dan Pendukung


Semenjak bergilirnya pesta sebak bola sejagad alias Piala Dunia pada 14 Juni lalu, euforia pertandingan tidak hanya memanas di lapangan hijau, tapi juga di media sosial, face book dan istagram. Masing-masing pendukung menjagokan tim kebanggaannya. Dalam satu rumah, bapak, mama dan anak bisa saja berbeda negara yang dijagokan. Apalagi berbeda keluarga, berbeda suku, agama, ras dan bangsa.

Setiap kali menjelang pertandingan bermunculan berbagai prediksi, bahkan vonis. Tim kebanggaannya pasti menang, tim lawan pasti kalah. Terkadang lengkap dengan skor kemenangan. Status yang dibuat begitu sangat percaya diri. Apa lagi bila di tim negara pujaannya itu ada pemain bintang, tidak tanggung-tanggung diprediksi pemain bintangnya itu akan mencetak sekian gol, bahkan hat trick (3 gol) dan membawa negaranya lolos ke babak berikut.

Tidak heran bila tim dari negara pujaannya kalah, apalagi bila kalah dari negara yang kurang punya nama dan tidak punya bintang, aksi bully disertai gambar meme pun ramai bertaburan. Ini kita bisa lihat pada kesebelasan Jerman, Argentina, Portugal dan terakhir Spanyol. Adalah Leonel Messi bintangnya Argentina dan Christian Ronaldo bintang Portugal, menjadi pemain yang paling banyak dibulli lengkap dengan gambar meme yang tidak hanya merendahkan dan memalukan tapi juga menjijikan.

Menariknya banyak status yang berbau agama, misalnya mendoakan kesebelasan negara A mengalahkan negara B. Nama Tuhan pun dibawa-bawa. Terkesan seakan-akan ada kesebelasan Tuhan dan kesebelasan setan? Pada kenyataan di lapangan kesebelasan yang didoakan kalah, lalu apakah Tuhan kalah.

Misalnya saat Argentina yang 100 persen pemainnya Katolik bermain, semua umat Katolik di Argentina dan mungkin saja umat Katolik sedunia mendoakan Argentina menang. Tapi kenyataannya Argentina kalah. Messi pun gagal tampil sebagai bintang lapangan. Apakah Tuhannya umat Katolik kalah? Jawabnya pasti tidak.

Begitu juga saat Mesir bermain, jutaan  umat Islam mendoakan Mesir yang 100 persen pemainnya Islam, tetapi Mesir terpuruk juga. Salah menjadi serba salah. Apakah Allahnya Islam kalah?  Jawabnya pasti tidak! Hal yang sama terjadi saat Jepang bermain. Jutaan orang Buddha dan Shinto mendoakan Jepang agar menang tetapi Jepang gugur. Kagawa dipaksa legawa. Apakah Dewa atau Tuhannya Buddha dan Shinto kalah? Jawabnya pasti tidak!

Dalam pertandingan sepakbola, tidak hanya di Piala Dunia, dalam liga di setiap negara, tidak sepatutnya bila mengajak-ajak Tuhan dan agama. Karena semua umat di dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Dan karena itu Tuhan tidak memiliki kesebelasan khusus. Kesebelasan mana pun yang lebih mempersiapkan diri dengan taktik, strategi dan daya tahan fisik yang kuat, apalagi bila mendapat suntikan support yang terus berapi-api dari pendukung fanatiknya di lapangan, pasti menang.

Permainan sepakbola saat ini sudah sangat popular, membuat  manusia sebagai pendukung sudah tidak lagi terperangkap dalam suku, bangsa, agama dan ras.. Banyak umat Hindu, Budha dan Islam, termasuk Intelektual Islam Elza Peldi Taher, menjadi pengagum berat Messi yang Katolik. Banyak juga umat beragama lain yang mengagumi Ronaldo yang Katolik. Banyak umat Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Budha  yang menjadi pengagum berat Mohammad Salah yang Islam, saleh dan rajin beramal pada si miskin. Tidak ada yang salah dan karena itu tidak layak dipermasalahkan.

Di Indonesia saat ini, pesta demokrasi Pilkada pun memiliki kemiripan dengan pesta Piala Dunia di Rusia. Masing-masing tim pemenangan dan pendukung berdoa sesuai agamanya masing-masing agar pasangan calon (paslon) yang dijagokannya menang. Seperti dalam pertandingan sepak bola, dalam Pilkada pun seakan ada upaya dari para pendukung untuk ‘memaksa’ Tuhan Allah untuk memenuhi keinginan sempit politiknya.

Jadilah seperti yang pernah heboh di negara ini, seorang tokoh politik sampai mengatakan ada partai Allah dan partai setan. Bila ini digiring ke pesta demokrasi Pilkada, maka seakan ada paslon (dari) Allah dan paslon setan. Menarik dan unik, ada paslon dan tim pemenang yang selalu berdoa kepada Tuhan agar menang Pilkada, tapi justru tindakannya bertolak belakang, melakukan segala tipu muslihat dan cara-cara curang, mengkadali suara rakyat untuk memenangkan paslon unggulannya.

Sama seperti dalam pertandingan sepak bola, dalam Pilkada, paslon yang menang pastilah bukan mereka yang sibuk dengan teriakan atau fitnahan sambil membawa-bawa nama Tuhan. Apalagi sibuk melakukan cara-cara curang. Kalau penyelenggara Pilkada bekerja jujur, bersih dan professional, melaksanakan semua aturan yang ada, maka pemenang Pilkada pastilah paslon dan tim pemenang serta pendukungnya yang fanatik, yang tidak hanya berdoa, tapi juga sungguh-sungguh bekerja keras dengan jujur dan bersih, tidak kenal lelah dan cuaca buruk, terus berupaya merebut hati rakyat dengan visi dan pelayanan nyata. (yulius lopo)

Tinggalkan Balasan