Menanti Pemimpin yang Tidak ‘Mata Duitan’

Ilustrasi Karikatur pace sapa.

GELARAN Pilkada serentak di Indonesia sudah memasuki tahap akhir. Setiap warga bangsa ini yang terlibat dalam pesta demokrasi tersebut sedang menanti kejujuran dan mengharapkan kepastian atas pengumuman KPU terkait Paslon yang menang dan akan memimpin daerahnya untuk lima tahun ke depan.

Pastinya… di dalam suara hati masyarakat mengumandang suara yang begitu keras bahwa sang pemenang adalah seorang pemimpin yang tidak “mata duitan” atau materialisme.

Sebab, seorang pemimpin yang mata duitan, orientasi kinerjanya hanya pada uang dan mencari keuntungan semata. Apalagi jika dalam kepemimpinannya ada niatan untuk mengembalikan semua kerugian yang mungkin sudah dia keluarkan selama masa kampanye.

Seorang pemimpin yang mata duitan hanya akan memporakporandakan daerah atau organisasi yang dipimpinnya. Sadar atau tidak sadar, dirinya akan menciptakan rasa tidak nyaman dan ketidakpercayaan, baik dari rakyat yang dipimpinnya maupun dari tim kerjanya, selama masa kepemimpinannya.

System manajemen yang kotor dan tidak transparan pun menjadi bagian dari kepemimpinannya. Dirinya akan berusaha sekuat tenaga dan menggunakan berbagai cara busuk untuk menutup-nutupi berbagai permainan tidak halal demi meloloskan niatan menggapai keuntungan berlimpah, bagaikan lintah darat.

Banjirnya tipu daya dan ucapan retorika bersifat mengumbar harapan kosong menambah warna pelangi kepemimpinan sang pemimpin mata duitan tersebut. Kata-katanya pun menjadi absurd. Bahkan janji-janji manisnya hanya bertendensi manipulasi psikologis untuk upaya menenangkan aksi protes rakyat atau bawahannya yang mengalami rasa sakit dan pahit atas kepemimpinannya yang tidak membekas positif di ranah grass root.

Apalagi jika kepemimpinannya didukung oleh oknum-oknum sebagai tim kerjanya yang bermotivasi sama dengan sang pemimpin mata duitan tersebut. Sungguh sebuah realitas kepemimpinan bagaikan gempa yang meluluhlantakkan seluruh isi bumi. Rakyat atau bawahannya pun hanya menjadi korban keganasan yang tidak mampu berbuat apa-apa karena dijebak dan terjebak dalam system kepemimpinan tidak beradab yang begitu kuat tersebut.

Berbanding terbalik dengan itu, pemimpin yang sejati haruslah memiliki mata dan duit atau uang.

Mata sang pemimpin sejati harus memandang dekat di sini dan jauh di sana. Dekat di sini, untuk melihat kebutuhan ekonomi, pendidikan, hukum, sosial, psikologi dan sebagainya yang merupakan kebutuhan terkini dan mendesak rakyatnya atau kelompok yang dia pimpin. Jauh di sana, untuk melihat masa depan cerah daerah atau wilayah yang dipimpinnya dan membawa rakyatnya berada dalam kesejahteraan hidup.

Duit sang pemimpin bisa saja melalui anggaran daerah atau organisasi yang dipimpinnya, tapi bisa juga berasal dari kantongnya sendiri. Duit tersebut bermaksud untuk memfasilitasi dan merealisasi berbagai hal yang ditangkap oleh “mata” sang pemimpin tersebut ataupun kebutuhan daerah yang tertangkap dari rekam jejak di luar kemampuan sang pemimpin. Fakta di bangsa ini, ada beberapa pemimpin yang rela tidak menerima gaji selama masa kepemimpinnya untuk kesuksesan pembangun di daerahnya. Bahkan sang pemimpin tersebut rela mengocek sakunya untuk membantu kaum yang berekonomi lemah. Sungguh sikap pemimpin yang sangat terpuji selama hayat di kandung badan.

Semoga, setelah resmi diumumkan oleh KPU sebagai Kepala Daerah yang akan memimpin di lima tahun ke depan, baik Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua maupun Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mimika, adalah pemimpin yang memiliki mata dan duit untuk rakyat, bukan pemimpin yang mata duitan. Semoga! Salam! (Jiru)

Tinggalkan Balasan