Rumah Wabup Jayawijaya Diserang Massa Pendukung Calon Gubernur

Denny/ cepos
Kondisi rumah Wakil Bupati Jayawijaya, Jhon R Banua  yang rusak akibat dilempari oleh massa salah satu calon kandidat Gubernur Papua, Sabtu, (7/7) malam.

WAMENA-Rumah kediaman Wakil Bupati (Wabup) Jayawijaya, Jhon R Banua Sabtu (7/7) malam sekitar pukul 20.30 WIT diserang sekitar 500 massa pendukung dari salah satu calon Gubernur Papua.

Dalam penyerangan itu, massa menggunakan alat tajam dan batu dan berusaha menerobos ke dalam rumah kediaman Jhon R Banua. Namun, aksi tersebut dihalau oleh aparat keamanan dengan tembakan peringatan.

Akibat kejadian tersebut, tiga buah kaca jendela kediaman Wakil Bupati Jayawijaya pecah terkena lemparan batu, antena radio roboh, bahkan Kantor BRI Sinakma terkena lemparan batu dan satu kaca mobil hancur.

Kapolres Jayawijaya, AKBP. Jan Bernard Reba saat dikonfirmasi membenarkan adanya penyerangan tersebut. Dalam aksi itu, massa pendukung salah satu calon Gubernur Papua sebenarnya nyaris melakukan pengrusakan terhadap kantor KPU Jayawijaya, namun aksi ini dibubarkan oleh aparat keamanan.

Menurutnya, saat massa meringsek masuk ke kediaman, anggota di lapangan langsung mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan massa. Saat ini, kondisi sudah kondusif, massa sudah membubarkan diri. Sejak semalam kepolisian langsung menambah jumlah personel di kediaman Wakil Bupati Jayawijaya.

“Tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Polisi tidak menangkap massa atas kejadian tersebut. Ada indikasi massa marah kepada wakil bupati, kemungkinan ada dugaan dari massa bahwa wakil bupati tidak membantu suksesnya calon Gubernur Papua,” jelasnya.

Sebelumnya, kata Jan Reba , pleno rekapitulasi terbuka pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua di Kabupaten Jayawijaya yang dijadwalkan Sabtu (7/7) kembali diskors oleh komisioner lantaran berakhir ricuh yang dipicu perbedaan data PPD dan data yang ada di kotak suara yang dimasukkan.

Dalam pleno tersebut terjadi perdebatan antara saksi Paslon 1 dan Paslon 2 lantaran dalam pembacaan rekap suara distrik Walesi diketahui untuk paslon 1 mendapat 980 suara, sedangkan paslon 2 mendapat 4420 suara yang merupakan data dari PPD dan diakui PPD data ini tidak sinkron dengan pleno di distrik.

“Ini memicu kemarahan dari para ketua PPD yang mengambil keputusan untuk keluar dari ruangan pleno bersama tim sukses nomor urut 1 yang akhirnya memicu emosi dari saksi nomor urut 2 yang akhirnya memicu pertengkaran dalam ruangan antara pendukung,”katanya.

Selain itu, sebanyak 700-an polisi masih bersiaga di sejumlah ruas jalan Kota Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, pasca aksi ricuh rapat pleno penghitungan suara Pilkada Gubernur Papua di Kantor DPRD Jayawijaya. Sejak kemarin , pleno penghitungan suara belum dapat dilanjutkan kembali, karena kondisi keamanan belum normal.

“Aparat masih siaga dengan kekuatan penuh. Belum ada permintaan pasukan. Saya harap dengan pasukan yang ada saat ini masih bisa mengendalikan situasi,”bebernya.(jo/tho)

Tinggalkan Balasan