Koperasi Bangkitkan Ekonomi Rakyat, Butuh Bukti Bukan Bualan


Hari ini, Kamis (12/7) merupakan Hari Koperasi Nasional ke-71, yang mengangkat tema: “Penguatan Koperasi Mendukung Ekonomi Nasional”. Pastinya, tema ini sedang mengumandangkan suara kerasnya kepada koperasi di Indonesia untuk selalu memberikan perhatian khusus bagi peningkatan ekonomi kerakyatan yang menjadi sentral ekonomi Indonesia saat ini. Artinya, kinerja koperasi harus selalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi rakyat.

Pertanyaannya, bagaimana dengan sepak terjang Koperasi di Kabupaten Mimika?

Sebelum membahas hal itu, kita perlu melihat sepintas tentang sejarah lahirnya Koperasi di Indonesia.

Jas Merah…..!

Koperasi berangkat dari fakta penderitaan masyarakat bawah yang bergulat dengan kesulitan hidup karena dijepit dan terjepit oleh sistem ekonomi kapitalis yang sedang meraja saat itu. Secara spontan beberapa orang dari masyarakat tersebut, yang saat itu dikenal dengan sebutan rakyat jelata, bersatu dan bersama-sama berniat kuat untuk menolong dirinya sendiri dan sesamanya.

Tahun 1896, adalah seorang Pamong Praja Patih R. Aria Wiria Atmaja di Purwokerto mendirikan sebuah Bank sederhana bagi para priyayi yang makin menderita karena dijerat oleh lintah darat yang memberikan pinjaman dengan bunga yang sangat tinggi. Di kemudian hari, semangat tersebut dilanjutkan oleh seorang asisten residen Belanda bernama De Wolffvan Westerrode.

Dia kemudian mengusulkan nama Bank diubah menjadi Koperasi yang diperuntukkan bukan saja bagi para priyayi tapi juga bagi para petani, yang dikenal dengan nama Koperasi Kredit Padi. Di mana dia menganjurkan agar para petani menyimpan hasil panennya di Koperasi tersebut dan juga memberikan pinjaman padi pada musim paceklik. Namun nahas, maksud tersebut dibendung oleh pendirian keras Pemerintah Belanda saat itu yang menjajah Indonesia dan menjadikannya sebagai rumah gadai.

Tantangan atas perjalanan Koperasi di Indonesia pun bertambah setelah Indonesia dijajah oleh Pemerintah Jepang, yang mana Jepang saat itu mendirikan sebuah koperasi yang bernama Koperasi Kumiyai. Namun fungsi koperasi ini adalah untuk menjadi alat Jepang dalam mengeruk keuntungan dan akhirnya semakin menambah kesengsaraan rakyat bawah atau rakyat jelata itu.

Setelah Indonesia Merdeka, barulah Koperasi dapat benar-benar menjadi tuan di atas tanahnya sendiri, di mana pada tanggal 12 Juli 1947 diadakan Kongres Koperasi pertama di Indonesia yang diselenggarakan di Tasikmalaya. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia (setitik tinta sejarah ini disarikan dari serbadokumen.blogspot.com).

Berdasarkan tampilan sekilas sejarah di atas, ternyata kinerja Koperasi juga pernah diganggu oleh niat-niat lintah darat yang mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari usaha rakyat kecil. Semoga hal itu tidak dilakukan dan tidak menjadi harapan kotor di lubuk sanubari yang terdalam para pelaku usaha Koperasi di Indonesia, khususnya di Mimika. Semoga!

Beralih perhatian ke sepakan Koperasi di tanah Amungsa ini. Apakah sepakannya tajam, terpercaya dan tepat sasaran, ataukah malah melambung jauh dan mengecewakan?
Dalam berita di Halaman Utama Salam Papua hari ini, Plt Kadiskop Mimika, Ida Wahyuni menyatakan dan berharap agar keberadaan Koperasi di Mimika ini dapat mensejahterakan anggotanya. Sebab menurut dia, jika kesejahteraan anggota Koperasi terjamin maka penguatan ekonomi nasional, pasti terlebih khusus ekonomi di Kabupaten Mimika bisa terjamin.

Dari pernyataan Kadiskop Mimika tersebut, muncul beberapa pertanyaan besar, sudah sejauh ini Koperasi menancapkan kakinya di tanah Amungsa ini tapi kenapa “kesejahteraan” itu masih bersifat harapan? Apa sajakah yang sudah dilakukan Koperasi untuk memajukan usaha rakyat Mimika, khususnya OAP, yang setiap harinya berupaya mengelola SDA Mimika? Sudah adakah SDA Mimika yang dikenal secara Nasional maupun Internasional atas hasil kerja Koperasi? Belum lagi jika melihat fakta tingkat ekonomi masyarakat OAP di Mimika saat ini yang masih sangat rendah, sudah berapa persenkah Koperasi menyentuh pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan hidup OAP di Mimika?

Namun dalam hal ini, kritikan tidak selamanya hanya tertuju kepada Diskop dan setiap unit koperasi di Mimika. Di sisi lain juga memang harus disadari tingkat kesadaran OAP di Mimika dalam memajukan usaha mandirinya masih sangat rendah. OAP, khususnya di Mimika, masih terjebak dengan budaya materialisme dan konsumerisme yang begitu tinggi, sehingga sampai saat ini mereka sebagian besar bisa dikatakan belum menjadi tuan atas tanahnya sendiri.

Dengan bertumbuh dan berkembangnya setiap unit koperasi di Mimika saat ini, pastinya sudah memiliki banyak capaian positif bagi pertumbuhan ekonomi di daerah ini, termasuk dalam skala Nasional. Namun sayangnya belum diungkap oleh Kadiskop dalam berita hari ini. Semoga pada kesempatan lain hal itu bisa diekspos di publik.

Semoga ke depan, Koperasi di Mimika dapat sungguh-sungguh memajukan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Mimika, khususnya rakyat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah di tanah Amungsa yang kita cintai ini. Butuh bukti bukan bualan. Dirgahayu Koperasi ke-71. Salam! (Jimmy Rungkat)

Tinggalkan Balasan