Lemasko Mengutuk Keras Hinaan

Ilustrasi, WhatsApp.

Istri Pejabat Untuk Warga Kamoro
SAPA (TIMIKA) – Mewakili masyarakat Suku Kamoro yang dimulai dari Kampung Nakae sampai Waripi, Lembaga Adat Masyarakat Kamoro (Lemasko) mengutuk keras pernyataan istri pejabat berinisial KB melalui rekaman vidio yang dinilai merendahkan masyarakat Kamoro. Pernyataan ini kini tersebar luas di kalangan masyarakat Kamoro setelah sebelumnya dibagi pelaku melalui Grup Whatsapp (WA).

Ketua Lemasko, Robert Warapea mengklaim pernyataan tersebut merupakan penghinaan dan menyakitkan hati seluruh masyarakat Kamoro.  Karena itu, Lemasko telah membuatkan laporan ke Kepolisian (LP). Lemasko meminta kepolisian menindaklanjuti peristiwa tersebut dan memproses pelaku secara hukum, karena hal tersebut merupakan pelanggaran Undang-undang ITE atas penghinaan dan pencemaran nama baik melalui teknologi.

“Selasa malam saat pleno rekapitulasi penghitungan suara di Graha Eme Neme, KB merekam video situasi di sana, tapi dalam rekaman video itu dia mengutarakan kata-kata yang tidak patut. Pernyataan itu sangat menghina kami sebagai orang Kamoro. Dia juga menyebarkan video itu. Jadi kami sangat mengutuk hal itu,” ungkap Robert saat konferensi Pers di kediamanya di Nawaripi, Rabu (11/7).

Lemasko memberikan waktu selama tiga hari kepada kepolisian untuk menindaklanjuti dugaan penghinaan ini. Jika dalam jangka waktu yang diberikan tersebut tidak ditindaklanjuti, maka warga Kamoro akan melakukan aksi demo untuk memperjuangkan harga diri. Selain itu, masyarakat Kamoro akan membuat adat untuk mengutuk yang bersangkutan, karena telah melukai hati masyarakat Kamoro.

Menurut Robert, selaku  istri pejabat tinggi Kabupaten Mimika, KB seharusnya tidak mengeluarkan pernyataan tersebut. Sebab, istri pejabat petinggi merupakan panutan positif kepada masyarakat luas di Mimika.

“Pernyataan itu menunjukan bahwa di mata KB, orang Kamoro tidak mempunyai arti apa-apa. Padahal masyarakat Kamoro adalah warga kabupaten ini.  Pernyataan tersebut sangat menjurus ke persoalan kesukuan atau sara,” tuturnya.

Robert mengatakan, persoalan tersebut tidak dikaitkan dengan pelaksanaan ataupun hasil Pilkada. Sebab seluruh masyarakat Kamoro telah berkomitmen untuk menerima hasil Pilkada dengan lapang dada.  Kalau yang bersangkutan memiliki persoalan pribadi dengan paslon asal Kamoro, maka tidak harus meluapkan kekesalan dengan pernyataan yang bersifat menghina.

“Ini tidak ada kaitannya dengan persoalan Pilkada. Makanya kami tidak melapor ke Gakumdu, tapi langsung ke Polres. Karena ini hinaan untuk semua masyarakat Kamoro atau Suku Kamoro,” katanya.

Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Wakil Ketua III bidang Hubungan Masyarakat (Humas), Lemasko, Marianus Maknapeku.  Menurut Marianus, khusus  terkait Pilkada, masyarakat Kamoro telah menerima dan tidak mempersoalkan hasilnya.  Karena itu munculnya pernyataan istri pejabat yang saat ini viral tersebut merupakan  penghinaan keras terhadap Suku Kamoro.

“Contoh yang terjadi di daerah Sumatera. Itu ada orang yang menghina suku Batak dan Kapolres setempat langsung mencari pelaku dan dihukum. Jadi yang ini juga kami sangat berharap agar Kapolres Mimika bisa merespon laporan kami dan harus memproses hukum pelaku. Karena kami ini tidak punya kesalahan apa-apa. Kenapa tiba-tiba kami dihina seperti itu.

Marianus juga mengatakan, jika laporan yang disampaikan tidak diproses pihak kepolisian, maka masyarakat Kamoro akan turun untuk melakukan aksi mengembalikan nama baik.

Sedangkan Badan Musyawarah (Bamus) Lemasko, Philipus Monaweyau mengatakan jika selama tiga hari setelah laporan diserahkan dan kepolisian tidak mengusut , maka masa dengan jumlah besar akan datang menuntut, karena telah dihina tanpa adanya permasalahan.

“Kami dan masyarakat kami tidak memulai suatu permasalahan yang menyakitkan hati KB, tapi kenapa dia tega mengatakan kami  seperti itu?,” kata Philipus. (Red)

Tinggalkan Balasan