Manisnya Keimanan


BERTAKWALAH kepada Allah. Tauhidkanlah Dia. Ketauhilah sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah Alquran. Tidak ada ucapan yang lebih layak untuk segera dibenarkan kecuali Alquran. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW. Hal yang paling buruk adalah sesuatu yang baru dalam agama. Atau sesuatu yang dibuat-buat kemudian diklaim sebagai ajaran Islam. Hal yang baru dalam agama seperti ini adalah kesesatan.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Ahmad, Muslim, dan selain keduanya, dari Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib, Nabi SAW bersabda, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya.”

Nabi SAW mengabarkan kepada kita bahwa iman itu memiliki rasa manis dan lezat yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang beriman. Betapa bahagianya orang yang dapat merasakannya. Sampai-sampai para ulama kita mengatakan,  “Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang (untuk merebutnya).”

Orang-orang yang dapat merasakannya adalah orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha Islam sebagai agamanya, dan ridha Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Maksud dari ridha adalah merasa cukup dan tidak membutuhkan kepada hal yang lain. Jadi, tidak membutuhkan selain Allah. Tidak butuh kepada jalan-jalan selain jalannya Islam. Tidak menempuh metode beragama kecuali syariatnya.

Muhammad SAW. Hendaknya seseorang bersungguh-sungguh mencapai tujuan ini. Tidak diragukan lagi, siapa saja yang demikian keadaannya, maka ia akan mendapatkan lezat dan manisnya keimanan. Inilah makna ridha yang hakiki.

Siapa yang ridha kepada Allah, maka dia ridha kepada Allah sebagai sesembahannya tidak ada sekutu baginya. Tidak ada yang mengatur alam semesta, tidak ada penolong baginya, tidak ada yang memenuhi kebutuhannya kecuali Allah. Ia ridha dan yakin hanya Allah lah yang menjaganya. Tempat ia meminta hidayah dan taufik. Meminta pertolongan agar diteguhkan dan istiqomah dalam memegang agama. Dan diberi petunjuk menuju jalan yang lurus. Sebagaimana hal ini kita pinta kepada Allah setiap shalat dalam setiap rakaat.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [Quran Al-Fatihah: 7].

Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya banyak pemuda mereka banyak menaruh perhatian pada bacaan-bacaan duniawi. Menaruh perhatian pada internet dan acara-acara yang lain. Mereka jauh dari Alquran. Kenikmatan mereka adalah pada acara-acara tersebut yang malah bermuatan kebatilan. Yang menyebarkan ucapan-ucapan dusta. Tidak ada yang bermanfaat. Sehingga mereka hanya menukil berita-berita bohong dan palsu. Jadilah mereka termasuk orang-orang yang mengikuti langkah-langkah setan.

Wahai orang-orang yang ridha Allah sebagai rab mereka. Ridhailah pula kalamnya, Alquran. Terimalah segala yang ada padanya. Baik perintah maupun larangan. Jadikan ibadah Anda, doa Anda, hanya diajukan kepada-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Jadikanlah harapan Anda hanya kepada-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Jadikan pula rasa takut Anda hanya kepada-Nya. Tidak ada sekutu pula bagi Allah dalam masalah ini.

Wahai orang-orang yang ridha Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Jadikanlah sunnah-sunnah beliau sebagai petunjuk dan dalil. Jadikanlah beliau sebagai guru dan pemimpin. Dialah utusan Allah yang hanya menunjuki Anda pada kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Apa saja kebaikan yang aku punya, aku tidak akan aku menyembunyikannya dari kalian.” (Muttafaun ‘alaih).

Ketika Anda ridha Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, artinya anda juga harus ridha menjadikan Nabi SAW sebagai teladan yang selalu diikuti. Sebagaimana firman Allah: “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” [Quran At-Taghabun: 12].

Demikianlah kita dimintai tanggung jawab. Sejauh mana kita mengikuti Nabi Muhammad SAW. Apa yang beliau wajibkan kepada kita dan apa yang tidak diwajibkan. Apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkan oleh beliau untuk kita. Imam Malik mengatakan, “as-Sunnah (hadits) itu seperti perahunya Nabi Nuh. Siapa yang naik di atasnya akan selamat. Siapa yang tidak berada di atasnya, ia akan tenggelam.”  (Red)

Tinggalkan Balasan