Distrik Miktim Genjot Produk Lokal Unggulan

Kepala Distrik Mimika Timur, Marike Warinussy.(Foto-Acik)

SAPA (TIMIKA) - Kepala Distrik Mimika Timur (Miktim), Marike Warinussy, mengatakan bahwa pihaknya sudah sejak lama dan kedepannya nanti akan terus menggenjot produk lokal unggulan yang ada diwilayah itu. Hal itu dilakukan dengan cara memberdayakan masyarakat lokal.

Sagu yang merupakan salah satu pangan lokal dan banyak di wilayah Mimika Timur, memiliki potensi untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat setempat. Hingga saat ini, daya kreatifitas dan inovasi dari para petani khususnya ibu-ibu, telah nampak dengan mengolah sagu menjadi tepung yang bersih dan bisa bertahan hingga beberapa hari sebelum di olah menjadi makanan berupa papeda. Saat ini juga, produk tepung sagu sudah dijual dalam kemasan plastik dengan harga Rp10 ribu per kemasan.

"Sekarang tepung sagu ini sedang dipamerkan dalam pekan gotong royong masyarakat yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung. Untuk kelompok usaha sagu ini ada di Kampung Tipuka. Ada juga sagu bersih siap olah yang saat ini terus diperkenalkan ke tingkat kabupaten dan juga ke luar daerah melalui perpustakaan Kampung Mware,” kata Marike yang ditemui di Bobaigo, Kompleks Keuskupan Uskup Timika, Jalan Cenderawasih, Kamis (11/10).

Menurut Marike, pameran yang diadakan DPMK merupakan momen yang sangat baik untuk mempromosikan produk unggulan dari Distrik Mimika Timur untuk dijadikan sebagai oleh-oleh.

“Ibu-ibu kami di Miktim mempunyai inisiatif untuk perkembangan perekonomian mereka," ujarnya.

Selain sagu, ada juga tanaman mangrove atau yang dikenal dengan sebutan bakau. Khusus ibu-ibu diwilayah itu, memiliki kreatifitas dari daun mangrove dibuat menjadi penganan dodol yang dianggap bisa bertahan kurang lebih dua minggu tanpa bahan pengawet. Bahkan daun mangrove bisa juga di olah menjadi pudding, sabun mandi, permen, masker wajah dan beberapa inovasi lainnya.

"Mama-mama ini sudah dibawa dinas pertanian ke Aceh untuk ikut pelatihan. Dan mereka juga sudah pernah ikut lomba di Palembang. Tapi mama-mama ini masih butuh mesin khusus agar bisa memproduksi lebih banyak lagi, juga membutuhkan dukungan pemkab supaya bisa mengangkat semua produk unggulan ini," katanya. (Acik) 

Tinggalkan Balasan