Terlibat Korupsi, Dua Mantan  Lurah Ditahan 

MERAUKE- Kejaksaan Negeri Merauke  kembali  melakukan  penahanan. Jika sebelumnya, dua  kontraktor  asal Kabupaten Mappi  ditahan  lantaran diduga melakukan korupsi terhadap pengadaan  speed boat dan composting pada Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Mappi, maka giliran dua  mantan lurah ditahan.

     Kedua mantan lurah yang ditahan tersebut adalah  Bampu Pemali berinisial KR dan Karang Indah berinisial MYM.  Kedua mantan  lurah ini ditahan dalam  kasus dugaan  korupsi  penyaluran Raskin 2014.

   Kajari Merauke Lukas     Alexander Sinuraya, SH, MH  kepada wartawan membenarkan  penahanan kedua tersangka korupsi ini.

     ‘’Ya, kemarin kita melakukan   penahanan dua tersangka  yakni mantan Lurah Bambu Pemali dan  Karang Indah. Kedua tersangka kita tahan setelah  penyerahan  barang  bukti  dan tersangka dari penyidik Tindak Pidana Korupsi  Polres Merauke,’’ kata  Kajari Lukas Alexander Sinuraya.

Kajari menjelaskan, bahwa kedua   tersangka  ini akan menjalani penahanan selama 20  hari kedepan. ‘’Kemarin, kita titipkan di Lembaga Pemasyarakatan   Klas IIB Merauke. Ini  sudah  menjadi  kewenangan dari  Jaksa Penuntut Umum setelah dilimpahkan dari kepolisian,’’ tandasnya.

      Dijelaskan  Kajari, kedua mantan  Lurah tersebut diduga melakukan korupsi sehubungan dengan  penyaluran Raskin 2014  yang tidak sampai ke masyarakat penerima dengan cara menjual Raskin  ITU kepihak  ketiga  sementara uang hasil  penjualan  Raskin tersebut digunakan untuk kepentingan pribadinya.

     ‘’Ini   masih satu kaitan dengan Korupsi Mantan Kepala Distrik Merauke,’’ kata   Kajari. Mantan Kepala Distrik  Merauke Hasan Matdoan , S.Sos sendiri dinyatakan  terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan korupsi dengan hukuman selama 1 tahun 4 bulan dari tuntutan JPU sebelumnya  selama 2 tahun.

    Kajari menjelaskan untuk   Mantan Lurah Bampel,  jumlah Raskin yang diduga disalahgunakan sebanyak 45.000  kg. Sedangkan untuk mantan Lurah  Karang Indah sekitar 36.000 kilogram.

‘’Dari pengakuan mereka, bahwa  beras  tersebut mereka jual dan hasilnya digunakan untuk kepentingan pribadi. makanya perkara ini bisa menjadi perkara korupsi,’’ terangnya.

     Atas    perbuatannya itu, lanjut Kajari  Lukas Sinuraya, keduanya akan dijerat Pasal  (2) dan pasal (3) UU  Pemberantasan Tindak Korupsi  dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara.  (ulo)

Tinggalkan Balasan