Menikmati Pemandangan alam di Popugoba

  Jalannya telah dibuka sekitar 7 tahun silam. Setelah tak digunakan, beberapa tahun belakangan ini banyak Jalan Pugima-Popugoba ini sudah bisa dilewati kendaraan roda empat maupun roda dua. Hanya saja, bagi mereka yang hendak melewatinya membutuhkan nyali untuk melalui jalan itu.

  Ada dua tanjakan yang memiliki kemiringan yang sedikit curam, ditambah dengan jalanya bebatuan lepas membuat penumpang harus terpontang-panting.

  Namun, usai melewati dua tanjakan itu, selanjutnya mata anda akan dimanjakan dengan 1001 gunung yang eksotis, dan bebukitan yang ditumbuhi rumput liar nan hijau.

  Jalan menuju Popugoba ini mengikuti pundak gunung yang cukup panjang. Jalannya berkelok-kelok membela gunung dan bukit. Di sisi kanan (bila dari Pugima ke Popugoba) sejauh mata memandang sungai Balim yang memisahkan lembah agung Jayawijaya.

  Serta pemukiman warga yang berbaur baik rumah permanen dan honai, rumah tradisional Lembah Baliem.

 Dalam perjalanan ke arah Popugoba itu, terlihat pula gunung yang mulai terkikis akibat longsor. Warga setempat menyebutnya “tanah longsor”. Di tempat ini, memiliki cerita mitos yang masih dipertahankan hingga saat ini.

   Di sebelah kiri, berdiri gagah 1001 gunung dan bebatuan besar. Dibawa kaki gunung itu terdapat perkebunan tradisional masyarakat di wilayah pegunungan. Setiap perkebunan itu terlihat susunan batu sebagai pengganti pagar yang membentuk tekstur yang khas dan indah.

   Jalan Popugoba ini juga menjadi salah satu akses yang akan menjadi jalur penghubung antara Kabupaten Jayawijaya dan Yahukimo. Ada beberapa kampung Jayawijaya yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Yahukimo. 

Berikut foto-fotonya:

Hamparan rumput dan gunung disepanjang Jalan Pugima-Popugoba
Perkebunan warga di lereng gunung
Perkebunan khas warga di pegunungan
Warga setempat menyebutnya pohon Duage
Tanah longsor
Sungai Balim
Selayang pandang lembah agung Jayawijaya

Tinggalkan Balasan