Jober Pertamina Klaim Kekosongan BBM di Mimika Karena Permainan Pengelola SPBU

Kondisi antrian BBM di sejumlah SPBU. (Foto-Saldi

SAPA (TIMIKA) –  Kepala Jober Pertamina  Mimika Zefnat Waroy mengatakan kekosongan bahan bakar minyak (BBM) solar, premium dan pertalite dalam beberapa minggu terakhir di Kabupaten Mimika terjadi karena permainan para pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Untuk Umum (SPBU).

Zefnat mengatakan , semestinya tidak terjadi kelangkaan BBM di Mimika, karena Jober Pertamina selalu menyalurkan BBM ke setiap SPBU berdasarkan porsinya. Pada tanggal 16 Oktober lalu telah ada kapal tenker yang memasok BBM sebanyak 1000 KL ke Mimika, sehingga Jober Pertamina mendistribusikan ke setiap SPBU seperti biasanya. Namun, timbul pertanyaan ketika terjadi antrian panjang di setiap SPBU di Mimika yang kemudian masyarakat mengaku bahwa terjadi kekosongan BBM di Mimika.

 “Sebetulnya tidak ada kelangkaan BBM di Mimika, karena kita selalu salurkan stok ke setiap SPBU. Kadang-kadang kalau  memang stoknya berkurang maka persediaan di masing-masing SPBU juga berkurang. Akan tetapi hanya antrian masyarakat saja yang panjang  di setiap SPBU selama ini. Nah penyakitnya di mana? Ternyata, beberapa hari lalu saya mendapatkan ada mobil taksi  kuning di salah satu SPBU di Mimika yang sengaja mengantri dan mengisi bensin sebanyak 200 liter. Indikasinya apa?,” ungkap  Zefnat ketika dikonfirmasi Salam Papua via telepon, Selasa (23/10).

Zefnat menjelaskan, tidak benar jika terjadi kekosongan BBM di Mimika, karena terbukti masih banyak mobil yang beroperasi. Selain itu, banyak penjual BBM eceran menjual Rp 27 hingga 30 ribu. Namun, indikasi kuat karena adanya permainan di setiap SPBU.

Ia mengaku, khusus untuk premiun dan solar yang merupakan minyak bersubsidi, sangat tidak diperbolehkan untuk dijual untuk yang lain-lain yang sesuai dengan ketentuannya. Tapi di SPBU masih menjual secara bebas. Sedangkan untuk pertalite menurut dia, tidak memiliki larangan karena merupakan produk non subsidi. Sehingga semua pemilik mobil tidak harus mengisi premium, tetapi harus memakai pertalite. Sebab, minyak subsidi  hanya diperuntukan bagi mobil angkutan. 

“Kami  heran kenapa setiap minyak yang kami pasokkan selalu cepat habis. Jadi kalau kita bicara secara logika, jika satu SPBU dalam satu hari melayani sebanyak 300 mobil dengan takaran tangki 12 KL,sedangkan asumsinya untuk satu mobil mengisi 40 liter. Terus kita di Mimika ini ada banyak SPBU, masa tidak bisa cukup premium yang kita kasih setiap hari?. Beberapa hari terakhir di Mimika banyak pasokan BBM dan full ke setiap SPBU, tapi kalau sudah habis lagi berarti itu sudah keterlaluan,” ungkapnya.

Selama ini ada beberapa SPBU di Mimika melayani BBM premium dan solar bersubsidi. Sedangkan untuk SPBU di Sempan khusus untuk melayani industri, sehingga khusus pertalite dan bexlite.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa  setiap hari kuota per SPBU khusus premium Jober Pertamina menyalurkan sebanyak 8000 liter. Namun, semenjak tanggal 16 lalu jober Pertamina terpaksa mengatur secara khusus agar pasokan tetap merata.

 “Saya juga heran kenapa banyak SPBU yang selalu mengeluh kekurangan. Solar juga selama ini kami salurkan, tapi tidak bermasalah,” katanya. 

Ia mengatakan hingga saat ini Jober Pertamina masih terus menyelidiki isu terkait adanya SPBU yang menjual BBM bersubsidi kepada para pengecer yang dimanfaatkan untuk selanjutnya dijual secara eceran.

“Kami sekarang sedang mencari permasalahan itu. Mereka menjual di mana? Karena premium itu sebetulnya tidak boleh dijual per jerigen, karena tidak ada aturannya.

Karena itu menurut dia,  hal ini sangat membutuhkan perhatian bersama yang melibatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Perinsustrian dan Perdagangan (Disperindag). Sebab, Jober Pertamina selalu menyalurkan BBM ke setiap SPBU.

“Persoalan ini tidak bisa hanya ditangani oleh Pertamina saja, kerena sebetulnya pertamina selalu drop BBM ke SPBU. Mungkin Pemerintah harus bisa kerja sama supaya hal ini tidak terjadi,” katanya. (Acik)

Tinggalkan Balasan