Panjat Tembok Pakai Kelambu, Delapan Napi Lapas Timika Kabur

Kalapas Kelas II Timika, Marojohan Dolok menunjukkan sambungan kelambu yang dipakai 8 Napi ketika kabur.(Foto-Salma)

SAPA (TIMIKA) - Delapan Narapidana (Napi) Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Timika, Jalan Poros Iwaka, SP V, Jumat (9/11) pukul 12.35 WIT, kabur dengan cara menjebol pagar Lapas di bagian barat kemudian memanjat tembok menggunakan kelambu.

“Ya, dari belakang di gunting pagar ornames setelah menjebol itu, mereka lompati tembok itu pakai kelambu,” ungkap Kepala Lapas Kelas II Timika, Marojohan Dolok Saribu ketika dikonfirmasi Salam Papua melalui sambungan telepon, Jumat (9/11) sore.

Lelaki yang akrab disapa Marojohan itu mengatakan, pihaknya kemudian bersama Kasat Reskrim Polres Mimika, AKP I Gusti Agung Ananta mendatangi Lapas yang didampingi Kanit Reskrim Polsek Kuala Kencana, Aiptu Nasrullah meninjau TKP dan melakukan pencarian.

“Pagar yang jebol sudah kami lakukan perbaikan. Dan kami terus melakukan pencarian diberbagai titik di Iwaka, Kampung Mulia Kencana (SP7), dan beberapa daerah lainnya yang dijadikan tempat persembunyian para Napi,” ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan, pihaknya juga sudah menyebarkan foto-foto delapan Napi tersebut, baik ke masyarakat, kepala kampung di sekitar Lapas, Polres Mimika, dan Kodim 1710 Mimika.

Marjohan menjelaskan, delapan Napi yang kabur  tersebut memiliki hukuman tinggi, yakni (1) Android Balriyanan dengan kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP dengan putusan pidana 8 tahun kurungan penjara.

(2) Simon Petrus Matly, kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP, dengan putusan pidana 8 tahun kurungan penjara. (3) Yohanis Rahanau, kasus pidana perlindungan anak, Pasal 82 ayat (1) UU RI no 23 tahun 2002, dengan putusan pidana 8 tahun 6 bulan kurungan penjara.

(4)  Laurensius Werbitu, kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP dengan putusan pidana 9 tahun kurungan penjara. (5) Nur Salam Lamusu, kasus pencurian pasal 363 KUHP, dengan putusan pidana 6 tahun kurungan penjara. (6) Suwardi, kasus pembunuhan pasal 338 KUHP, dengan putusan pidana 15 tahun kurungan penjara.

(7) Stevanus Kemong, kasus pencurian dengan kekerasan pasal 365 ayat (1) KUHP, dengan putusan pidana 5 tahun kurungan penjara. (8) Wensislaus Karuhun, kasus pencurian pasal 363 ayat (1) ke 4 KUHP, dengan putusan pidana 1 tahun kurungan penjara.

Plh Kapolres Mimika, AKBP Fernando S Napitupulu mengatakan, pihaknya melakukan pencarian dengan menyebar delapan foto Napi tersebut di seluruh Polsek-polsek yang ada dan menempatkan personil aparat keamanan di beberapa tempat yang dianggap tempat persembunyian Napi itu sendiri.

“Kita melakukan pencarian dengan Tim dengan menyebar delapan foto Napi ke seluruh Polsek terutama pintu Bandara Mozes Kilangin dan Pelabuhan dan polsek lainnya agar tidak kabur ke luar Mimika,” ujarnya kepada Salam Papua melalui sambungan telepon, Jumat (9/11) malam.

“Mereka sudah siapkan jauh-jauh hari sebelumnya, karena kami temukan ada tang dan kelambu-kelambu yang disambung. Harusnya satu hari ini, ada tiga petugas piket, tapi karena dua petugas alasan sakit jadi hanya ada satu petugas saja,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Salam Papua, ke-delapan napi ini kabur pada saat napi muslim melaksanakan ibadah Sholat Jumat di Masjid Ar Rahman, Lapas Klas IIB Timika.

Delapan orang ini membongkar pagar teralis warna hijau yang mengelilingi Lapas, dengan menggunakan kunci tang. Namun diduga pembongkaran teralis tersebut dilakukan jauh-jauh hari, sebelum hari pelarian. Lebar teralis pagar yang dibongkar sendiri berukuran 1 meter kali 40 centimeter.

Selanjutnya, setelah melewati pagar tersebut, mereka menyusuri selokan ke arah belakang Lapas. Setelah berada di pojok kanan belakang, yang biasanya napi-napi lainnya kabur, mereka melompat ke luar dengan menggunakan kain kelambu.

Petugas Lapas sendiri baru mengetahui setelah ada laporan dari tahanan pendamping (tamping) pada saat membuat kopi di dapur.

Saat ini Lapas Klas IIB Timika dihuni oleh 256 narapidana. Sementara petugas jaga atau sipir yang dimiliki Lapas hanya 12 orang.

Dari 12 orang tersebut, sistim penjagaannya dibagi dalam regu. Dimana satu regu diawaki tiga orang, dengan waktu jaga selama enam jam, mulai 08.00 – 14.00 WIT berganti pada 14.00 – 20-00 WIT, 20.00 - 02.00 WIT, dan 02.00 – 08.00 WIT.

Dengan jumlah 12 petugas sipir tersebut, maka satu sipir harus menjaga 20 an orang napi. Padahal idealnya, 1 orang sipir menjaga 9 orang. (Salma)

Tinggalkan Balasan