Peringati Hari HAM, 132 Aktivis Ditangkap

JAYAPUARA,SUARAPAPUA.com — Aksi damai memperingati HAM sedunia pada tanggal 10 Desember 2018  yang dimediasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di seluruh tanah Papua diwarnai dengan penagkapan, Pembubaran paksa, pembatasan dan pemukulan terhadap sejumlah masa aksi.

Aksi hari HAM sedunia yang dimediasi KNPB itu dilakukan dengan tema, Papua Zona Darurat HAM dan Demokrasi, Solusi Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua Melalui Referendum.

Ones Nesta Suhuniap, Juru Bicara KNPB  Pusat melalui releasenya ke redaksi suarapapua.com menjelaskan, ada sekitar 11 titik masa aksi yang diblokade dan ada yang dibubarkan paksa aparat kepolisian.

Pergerakan awal masa aksi kata Ones, dilakukan melalui titik di masing –masing daerah pada pukul 09.00 Wpb dan menuju titik kumpul masa seperti di Expo, Perumnas III, Kantor Pos Abe, gapura Uncen Atas, Gapura Uncen Bawah dan beberapa perguruan tinggi swasta lainnya.

“Kemudian masa aksi dari asrama Ninmin di jalan Biak dan Lingkaran Abepura ditahan aparat kepolisian, termasuk menyita sejumlah perangkat aksi dan HP. Masa di Kantor Pos Abe juga dibubarkan dan sejumlah parangkat aksi disita aparat, akhirnya masa kumpul kembali di depan Uncen bawah Abepura. Kemudian masa aksi di Expo Waena dipukul dan sejumlah prangkat aksi dan HP disita polisi” jelasnya.

Sedangkan masa aksi dari Buper Waena dibubarkan paksa, semua perangkat aksi dirampas oleh aparat dan kordinator aksi sektor Wuka, Hosea Yeimo dan beberapa aktivis KNPB sektor dipukul.

Masa aksi di  Perumnas I, Perumnas II dihadang. Masa aksi dari Kamwolker, Asrama Uncen Unit satu hingga unit enam dan asrama Rusunawa dihadang ketika menuju perumnas III Waena.

Masa aksi dari Univercitas Cendrawasih yang dikoordinir dari Fakulas FISIP dan Fakultas Hukum, Ekonomi, MIPA dan Teknik dihadang polisi di Gapura Uncen Atas Perumnas III Waena.

Dengan demikian, masa aksi dari Uncen Atas, Kamwolker dan asrama Uncen bergabung di putaran taksi Perumnas III dan bergerak menuju Abepura, namun tetap saja dihadang aparat di putaran Perumnas III Waena.

“Jadi semua titik masa dihadang dan dibatasi akhirnya masa aksi dari Perumnas III bertahan menduduki putaran taksi Perumnas III.  Masa aksi yang di Uncen Bawah bertahan di Uncen Bawah dan di Linggaran Abe bertahan di Abepura, ” kata Nesta sapaan akrabnya.

Sementara katanya, masa aksi di Merpati, Asrama Liborang, USTJ, Uncen Bawah long march menuju Perumnas III, tetap juga dihadang di depan Hola plaza.

Masa aksi di Jayapura. (Istimewa)

Sedangkan masa aksi di Linggaran Abepuran tidak lama lagi bergerak menuju Perumnas III, tetapi tetap saja dihadang di Hola Plaza. Di depan tokoh Hola Plaza, polisi memukul sejumlah aktivis dan masa aksi, lalu masa dihadang dalam toko hola plasa dan pintu masuk toko ditutup polisi.

Yanto Arwekion, Ketua I KNPB Wilayah Timika mengatakan, penangkapan aktivis KNPB dan rakyat Papua terjadi di Timika dan Merauke. Penangkapan di Merauke sebanyak 41 orang, diantaranya 2 orang anak kecil usianya satu tahun dan empat tahun, termasuk 39 orang dewasa. Penangkapan itu terjadi sekitar pukul 9.00 Wpb.

“Pada saat penagkapan ada aktivis KNPB wilayah Almasuh Merauke di pukul aparat kepolisian dan sejumlah barang seperti pamphlet, megaphone dan spaduk serta atribut lainya disita. Sedangkan di Timika, 90 orang ditangkap yang dibarengi dengan pemukulan. Penangkapan dilakukan sekitar pukul 08.00 di Timika  Indah,” Jelasnya.

Adapun statemen KNPB yang dibacakan Agus Kossay, Ketua Umum KNPB Pusat, yaitu;

  1. Segera kembalikan hak politik bangsa Papua Barat.
  2. Segera tutup semua perusahaan asing yang ada di atas wilayah teritori Papua Barat.
  3. Segera menutup penjualan minimana keras yang merupakan bisnis militer Indonesia di West Papua yang terus memusnakan orang asli Papua.
  4. KNPB serukan segera moblisasi umum seluruh tanah air Papua Barat menuju mogok sipil demi agenda hak penentuan nasib sendiri melalui referendum.
  5. Segera tarik militer organik maupun non-organik dari wilayah teritori Papua Barat, Sorong sampai Merauke.

Pewarta : Ruland Kabak

Editor     : Elisa Sekenyap

Tinggalkan Balasan