Lagi, aparat acak markas KNPB Timika

Papua No. 1 News Portal | Jubi , Timika, Jubi - Sejumlah aparat kembali mengacak-acak Kantor Sekretariat aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Timika, Papua, Senin (31/12/2018). Sekira pukul 08.10 WP, aparat TNI dan Polri menggeledah, membongkar dan melakukan penangkapan kepada anggota KNPB. Juru Bicara Nasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Ones Nesta Suhuniap mengatakan, penggeledahan terjadi di tengah  Ibadah Hari Ulang Tahun (HUT) Kantor KNPB Timika yang ke-V sekaligus melaksanakan Ibadah lepas tahun dan sambut tahun baru 2019. “Sangat disaangkan sekali tindakan aparat TNI - Polri yang melakukan penggeledahan, Pembongkaran dan Penangkapan terhadap enam orang aktivis  KNPB di Timika di Kantor Sekretariat KNPB di Jalan Sosial, Timika, Papua. Ini menunjukan tindakan aparat dalam menutup ruang demokrasi di republik Indonesia ini,” kata Departemen Keadilan Dan Perdamaian Koordinator Puncak Selatan Gereja Kemah Injil (Kingmi) Di Tanah Papua, Pdt. Deserius Adii, melalui siaran persnya kepada Jubi. Menurutnya, sejumlah anggota Kepolisian Resor Timika mengepung tempat kegiatan ibadah berlangsung dengan menggunakan mobil Dalmas dengan membawa senjata api dan senjata tajam (parang). Anggota Kepolisian yang membawa senjata tajam, langsung mengacak lokasi ibadah dengan memotong semua hiasan persiapan ibadah seperti spanduk, taplak meja, dan persiapan lainnya. “Kemudian pihak aparat gabungan Tni-Polri menggeledah seluruh bersiapan kegiatan ibadah dan semua aset yang ada di kantor KNPB wilayah Timika serta menghancurkan tugu yang bercorak lambang Mambruk sebagai simbol Nasional bangsa West Papua,” katanya. Penggeledahan dipimpin Kabag Ops Polres Mimika AKP Andika Aer. Petugas juga menyita atribut KNPB dari tangan seperti gelang, topi, noken dan telepon selular yang disita dari masyarakat Papua yang datang beribadah. Selain itu, enam aktivis KNPB juga ditangkap oleh petugas. Mereka adalah Yanto Aweriyon Ketua I KNPB Wilayah Timika,  dan lima orang anggota yakni Finsen Gobay, Eman Dogopia, Yohana Kobogauw, Perempuan, Ruben Kogoya dan Epenus Hisage. Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal menegaskan, di Papua tidak diperbolehkan membentuk organisasi atau menggunakan lambang-lambang lainnya yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. “Bagi siapa saja yang melakukan hal tersebut akan diproses secara hukum sesuai aturan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahwa Papua telah final masuk kedalam pangkuan Indonesia,” kata Kamal. Dijelaskan dalam siarannya pers itu juga bahwa, kegiatan yang dilaksanakan oleh personel Polres Mimika ini dengan melibatkan kurang lebih 80 personel gabungan TNI/Polri. Menanggapi adanya tindakan dari aparat, Gereja Kingmi Wilayah Selatan mengeluarkan sejumlah pernyataan yang mengecam aksi ini. Dalam rilis yang diterima Jubi, Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua meminta aparat mengentikan seluruh tindakan represif utamanya kepada orang Papua yang tengah beribadah. Mereka juga menjelaskan bahwa  malasah Papua itu bukan masalah organisasi Komite Nasional Papua Barat tetapi masalah sejarah anesasi Papua ke dalam NKRI diselesai secara Internasional yang dilibatkan PBB, Amerika, Belanda, Indonesia dan Orang Papua. Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Gereja Kemah Injil (Kingmi) juga menegaskan bawah  KPNB merupakan organisasi yang sangat mengetahui Hukum. Karena itulah KNPB biasa menyurati pihak kepolisian sebagai surat pemberitahuan. Terakhir, hentikan kriminalisasi terhadap Komite Nasional Papua Barat dan segera membebaskan keenam aktivis KNPB Timika yang ditangkap saat ibadah. ...

Tinggalkan Balasan