Orang Asli Papua Harus Diajarkan Menjadi Pelaku Ekonomi Yang Produktif, Bukan Konsumtif

Nikolaus Raing.(Foto-Istimewa)
Diskusi Grup Whatsapp ENY tentang Kemiskinan di Papua dan Solusinya (17)

MENGAPA Papua bisa menjadi yang termiskin? Dan apa solusinya? Grup WhatsApp (WA) EME NEME YAUWARE (ENY) di Timika membahasnya dalam diskusi khusus yang digagas oleh Irjen Pol Paulus Waterpauw (mantan Kapolda Papua dan Sumatera Utara) dan Admin Grup ENY, M. Adri Rumbou, S.Sos, M.Si  sejak Minggu, 20 Januari 2018.

Dengan merujuk pada tulisan Redaksional SKH Salam Papua edisi Senin 30 Juli 2018 dengan judul “Provinsi Papua Juara 1 Termiskin Se Indonesia,” yang diposting di Grup WA ENY oleh Irjen Pol Paulus Waterpauw pada Minggu (20/1) pukul 18.54 WIT,  diskusi yang mengangkat tema, “Kemiskinan di Papua dan Solusinya” berjalan hangat. Bertindak sebagai Moderator diskusi ini adalah Prof. Dr. Hironimus Taime, MBA (Pengamat Ekonomi dan Sosial Indonesia).

Berikut ini sejumlah pendapat, masukan, kritik dan saran solusi yang disampaikan oleh member Grup WA Eme Neme Yauware yang diterbitkan Salam Papua, edisi ketujuhbelas.

Berita Edisi keenambelas, anggota Grup WA ENY, Nikolaus Servulus Raing yang juga Ketua Ikatan Kerukunan Flobamoran (IKF) Kabupaten Mimika telah menyampaikan pendapatnya sekaligus usulan konkrit bagian pertama. Berikut ini usulan konkrit kedua dan ketiga.

2.   Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Faktanya bahwa, generasi yang cerdas dan berdaya saing lahir dari generasi yang sehat. Karena itu, pembangunan di bidang kesehatan harus berjalan seiring dan sejalan dengan pembangunan SDM. Tak dapat kita pungkiri Pemerintah selama ini sudah menjalankannya tapi hasilnya belum maksimal.

      Fakta yang pernah saya  temukan di kota maupun dipinggiran kota Timika masih banyak masyarakat hidup dibawah garis standart kesehatan yang memadai. Pemerintah harus mengubah pola pendekatan dari Kuratif/Penyembuhan  kepada Preventif/Pencegahan.

      Konkritnya disetiap Balai Pengobatan Pemerintah, Puskesmas dan Rumah Sakit wajib menyediakan tenaga-tenaga terampil di bidangnya. Untuk  mengedukasi warga berupa penyuluhan-penyuluhan bagaimana dan pentingnya berlaku hidup sehat. Sasarannya adalah ibu-ibu/ mama-mama bagaimana mereka berperan menjadi penopang buat anak-anaknya agar selalu sehat dan prima. Misalnya, diajarkan bagaimana pentingnya kebersihan diri, bagaimana penting makanan yang bergizi seimbang,bagaimana penting anak-anak sarapan sebelum berangkat sekolah dan lain sebagainya.

3.   Pemberdayaan Ekonomi. Masyarakat orang asli Papua (OAP) harus diajarkan menjadi Pelaku Ekonomi yang Produktif Bukan  Konsumtif (seperti yang terjadi selama ini). Roda ekonomi berjalan ditempat bahkan cendrung menurun  karena tidak terjadi pertumbuhan ekonomi ditingkat masyarakat bawah. Disatu sisi harus berjibaku melawan arus perpindahan penduduk dari luar Papua yang tidak bisa dibendung. Menjadi ancaman ? Ya, kalau tidak siap. Kalau siap sebenarnya suatu keuntungan karena bisa mentransfer ilmu atau knowledge atau pengalaman atau eksperience kepada masyarakat lokal.

Pertumbuhan Ekonomi harus  berbasis UMKM yang pelakunya perlu pembinanaan serta evaluasi secara berkesinambungan (pembinaan dan evaluasi selama ini tidak berjalan dengan baik).

Konkritnya adalah dengan pemberdayaan  melalui  pembinaan dan pengawasan/evaluasi terhadap Koperasi-Koperasi yang sudah ada. Pastikan tidak ada Korupsi disana untuk melindungi hasil Petani dan Nelayan.

Perbanyak Pelatihan supaya perlahan-lahan mereka dapat menjadi Nelayan atau Petani yang profesional dengan didukung dengan peralatan yang memadai.

Bangun pasar-pasar yang represntatif dan nyaman dengan mengadopsi kearifan lokal yang ada. Misalnya membuat design pasar berbentuk Honai dengan lokasi yang strategis.

Poinnya adalah Pola Pemberdayaan Ekonomi Keberpihakan. Itu yang semestinya diterapkan dan menjadi dasar. Bukan Konvensional atau Liberal/Bebas (dimana siapa kuat dialah yang menang) karena masyarakat lokal saat ini dipandang belum siap (kisruh nelayan lokal dan dari luar pernah dibahas di group ini).

Tiga poin tersebut di atas adalah : Pertama, Membangun SDM OAP/Manusia Papua, Kedua, Peningkatan Standard Kesehatan, Ketiga, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis UMKM dengan Menjabarkan Masyarakat menjadi Pelaku Ekonomi yang Produktif bukan Konsumtif.
Pertanyaan adalah : Bagaimana mewujudkan ketiga poin diatas ?

Salah satu tantangan utama pembangunan di Papua adalah kondisi geografis yang sangat sulit. Ini fakta yang tak terbantahkan. Bahkan oleh oknum tertentu alasan ini digunakan untuk membela diri. Karena itu, saya menawarkan solusi yang saya namakan Membangun Papua dengan Pola Pendekatan Geografis.

Konkritnya adalah : Pastikan dan tentukan beberapa Titik Pertumbuhan Strategis (Growth Strategic Point) di mana tempat tersebut dapat menjadi penyangga pertumbuhan ekonomi pada daerah-daerah disekitarnya. Disana harus dibangun dan didukung infrastruktur yang memadai baik pelabuhan atau Lapter, listrik dan lain sebagainya. Semakin banyak semakin baik.

Diharapkan dititik-titik tersebut akan ada dan dibangun juga Pusat Pendidikan dan Pelatihan yang baru, ada Pusat Pelayanan Kesehatan yang baru dan ada  Pusat Pertumbuhan Ekonomi yang baru. Misalnya di Kabupaten Mimika adalah di Kokonao bisa dijadikan satu titik pertumbuhan yang baru.

Konsep ini sebenarnya mementahkan pola Pemekaran Wilayah yang menurut saya untuk Papua belum begitu cocok karena hanya akan terjadi Pemborosan Anggaran dan Menciptakan Raja-Raja Kecil baru yang kerap mengabaikan aspirasi atau teriakan masyarakat yang selama ini diam dalam keheningan ketertinggalan yang tak berujung. Semoga tulisan ini dapat menjadi sumbangsih pemikiran saya dalam berkomitmen membangun Mimika.
Aser Gobai.(Foto-Dok-Sapa)

Aser Gobai menanggapi tulisan Nikolaus diatas. Kemiskinan orang asli Papua (di Kabupaten Mimika terjadi karena kurangnya penegakkan aturan dan taat berdiri teguh diatas Roh hukum Allah, hukum adat, hukum pemerintah. dan aturan organisasi AD ART. Kenapa SDA kaya raya, orang masih miskin? Pejabat aparat Negara tidak taat menjalankan Kontitusional Negara di Timika untuk melindung, membela dan mengayomi sebagai warga negara.

Semua munafik terjadi karena uang. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, namun dari pada itu, janganlah munafik dilakukan segalanya demi uang.

Solusi pemberantasan kemiskinan di Kabupaten Mimika adalah hak rakyat pemegang kedaulatan Negara jangan dipermainkan untuk kepentingan tertentu, Intitusi Negara Indonesia menfasilitasi PT Freeport Indonesia  menjawab tuntutan hak-hak Pemerintah,  hak hak buruh dan hak- hak ulayat masyarakat adat Papua.

Adil untuk perubahaan anak negeri. Tuan berhati hamba Tuhan Yesus diatas Negeri sendiri  Tanah Papua.
Lamberth Nunaki.(Foto-Istimewa)

Lamberth Nunaki menanggapi pendapat Aser Gobai.  Inti dari semua upaya untuk keluar dari kehidupan yang miskin (lemah) adalah berjuanglah untuk tidak miskin (kuat). Tugas bagi setiap orang yang tidak termasuk dalam barisan kemiskinan bukanlah mendorong dari belakang untuk mereka maju, melainkan menganjak, merangkul dan menarik mereka untuk ikuti jejak yg telah dilalui supaya mereka yang miskin/lemah bisa menjadi kuat.

Kalau dorong nanti dong jatuh, hilang jalan karena tidak ada yang tau jalannya,, kalau menarik berarti ada yang tau jalannya jadi tra (tidak – Red) bisa jatuh/hilang.  (Yulius Lopo/Bersambung)

Tinggalkan Balasan