Banjir Sentani Akibat Hujan Dan Gempa Bumi

Kepala BBKSDA Provinsi Papua Edward Sembiring (dua kiri) bersam Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano (dua kanan).(Foto-Antara)

SAPA (JAYAPURA) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua mengklaim penyebab banjir bandang serta longsor di Sentani, kabupaten Jayapura terjadi karena hujan sejak Sabtu (16/3) hingga Minggu (17/3) dinihari serta gempa bumi.

Kepala BBKSDA Papua, Edward Sembiring, di Jayapura, Senin (18/3), mengatakan, penyebab area terbuka  yang terjadi di cagar alam pegunungan cycloop tersebut adalah karena pertanian tradisional, pemukiman dan area yang tidak berhutan.

Dia menyatakan, seminggu sebelum kejadian banjir bandang terjadi, tim resort Sentani BKSDA Papua telah melakukan pengecekan lokasi kedua hulu sungai di Sereh dan Kemiri itu karena indikasi sungainya yang keruh.

"Di lokasi ditemukan beberapa titik longsor sebagai akibat air keruh, dengan titik longsor E 140 31'2,541" - S 2 31'45,758 (lokasi Sereh) dan E 140 29'317" - S 2 30'55, 519 (Kemiri). Penyebab banjir sampai saat ini disebabkan oleh debit puncak air yang melebihi pengaliran daerah tangkapan air, curah hujan yang sangat ekstrem serta intensitas hujan yang sangat tinggi mencapai 114mm/hari," kata Edward.

Dia mengatakan, banyaknya pemukiman di sepanjang sungai Kemiri yang merupakan sungai utama penyebab banjir tersebut, juga jenis tanah (Acrisol) memiliki tingkat saturasi yang cukup rendah sehingga berpotensi mengakibatkan aliran permukaan yang tinggi dibuktikan dengan banyaknya pohon yang tercabut dari akarnya.

"Adanya longsoran pada bagian hulu catchman area (kordinat 2 30'51,30" S 140 28'19,44 E). Pada hasil survei tim patroli BBKSDA Papua pada 8 - 13 Maret 2019  menunjukkan bahwa besar kemukinan material longsoran menutup aliran sungai Kemiri dan menjadi tanggul hulu. Tanggul alam dari material longsor ini kemungkinan besar runtuh dengan membawa volume air yang cukup besar dalam waktu singkat," katanya.

Secara geologis wilayah Sentani dilintasi patahan, kata dia, sehingga patut di duga karena pergerakan patahan. Dengan terjadinya tiga kejadian gempa skala 3,3 SR pada 15 Maret 2019 dan 5,4 SR pada 16 Maret2019 dan 4,1 SR pada 11 Februari 2019 dengan dipicu adanya curah hujan tinggi menyebabkan kejadian longsor. Di sekitar kejadian banjir bandang tidak ditemukan adanya pembalakan liar.

Hal tersebut dapat dipastikan karena material kayu yang hanyut terbawa banjir tidak ditemukan pohon bekas tebangan namun pohon yang tercabut dengan akarnya.

Edward menyatakan bahwa, cagar alam Cycloop adalah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas tertentu dan mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa, serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.

"Role model pengelola cagar alam pegunungan Cyclop berbasis kearifan lokal, diharapkan terjadi harmonisasi alam dan budaya bisa terjaga dengan baik,serta mengajak masyarakat bersama para pemangku kepentingan untuk ikut bersama berperan aktif menjaga dan melestarikan cagar alam pegunungan Cycloop tersebut guna untuk kesejahteraan masyarakat," katanya.

Ia mengemukakan, luas kawasan cagar alam pegunungan Cycloop tersebut mencapai 31. 479,89 hektare dan area terbukanya seluas kisaran 2. 612 hektare atau 8,2 persen yang mencakupi wilayah Kabupaten Jayapura seluas 1. 624,77 atau 5,1 persen dan Kota Jayapura seluas 987,23 atau 3,1 persen, sementara area terbukanya di lokasi longsor mencapai 6,7 hektare.

Balai Besar Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BBMKG) wilayah V Jayapura yang menyatakan bahwa, curah hujan yang menguyur wilayah Kabupaten Jayapura dan sekitanya tersebut mencapai 114 mm/hari. Dalam situsai tersebut menyebabkan beberapa sungai menjadi meluap seperti, sungai sere, tahara dan sungai kemiri yang masuk di wilayah itu, di mana kedua sungai tersebut juga berhulu di cagar alam  Pegunungan Cycloop. (Antara)

Tinggalkan Balasan