Maraknya anak-anak Aibon, Bagaimana gereja harus melihat?

Dalam pelayanan, gereja-gereja sibuk bicara surga dan neraka. tentang dimana itu Surga? dan seperti apa Neraka?. Apakah Gereja cukup hanya bicara Surga dan Neraka itu?

Bagaimana kita melihat generasi bangsa Papua yang dititipkan oleh Tuhan untuk mewarisi kerajaan Surga di bumi ini, direbus, di goreng dan dimandikan oleh lajunya modernisasi kotor yang menabrak generasi kita dengan cara Iblis yang dikendarai oleh manusia keji itu tentunya ini menyedihkan. Gereja harus sedikit keluar melihat generasi bangsa dengan sepenuh hati, mereka harus ditangkap dengan jalan kebenaran, dan dengan cara memaksa, disertai Doa-doa yang penuh ketekunan iman. Kekuatan iblis harus dilawan dan di amputasi hari ini.

Ketika anak-anak kita terlantar tidur di jalan dengan pekerjaan negatifnya, jangan salahkan Negara atau pemerintah daerah, sebab alokasi dana untuk lembaga keagamaan sudah cukup besar. Sebagai kebijakan Gubernur Papua, 10 persen dari dana Otsus untuk 43 lembaga denominasi Gereja yang ada di Papua selalu dialokasikan setiap tahun. Gereja harus kreatif dan berani inovasi menciptakan misi-misi baru untuk menyelamatkan generasi Papua yang masih tidur dijalan.hari ini semakin marak kekuatan iblis pada generasi bangsa kita.gereja harus bergerak.

Kerja Iblis merasuki pola pikir anak-anak Papua, tidak ada pembentukan karakter yang baik. Hanya Gereja yang dapat melawan metode iblis dengan kekuatan Doa. Tanah Papua hari ini Iblis sedang bersarang besar, namun Gereja sedang tidur diatas Pemerintah dan di tempat-tempat kebaktian public semestinya Gereja dan Pemerintah harus duduk dan merancang program berupa yayasan peduli kasih atau pun yayasan lainnya. Gereja siapkan pelayanan Doa dan pemerintah siapkan uang.

Gereja tidak serta merta menghidupkan tradisi keagamaan saja, tapi hari ini di era baru di abad ke 21, tugas Gereja sudah semakin berat semenjak Iblis mulai pakai budaya baru untuk merekrut hamba-hambanya di rumah iblis. Untuk itu, Gereja harus lebih berubah melihat setiap zaman yang dinamis mengikuti perkembangan masyarakat digital. Kehadiran Negara atau pemerintah adalah tantangan yang menjadi alat Iblis. Pemerintah hari ini bukan solusi, karena hidup kita di Papua adalah Budaya, dan uang adalah kehancuran jika kita tidak siap, tapi apabila kita bijak, uang dapat menjadi solusi.

Kekuatan Iblis telah melebihi kekuatan Tuhan hanya karena manusia semakin keluar dari koridor Tuhan. Mestinya hari-hari besar di berbagai kota di Tanah Papua, harus ramai dengan tradisi-tradisi doa-doa besar bagi bangsa Papua. Hari Paskah harus lebih ramai di jalan-jalan dengan parade salib Tuhan selama satu minggu. Gereja dan komunitas Rohani harus mengajak seluruh umat kristiani turun ke jalan. Natal harus ramai di kota selain di Gereja, mungkin saja dari kebiasaan itu maka dengan sendirinya kita melawan Iblis dengan simbol Allah di momen hari-hari besar Tuhan.

Menciptakan karakter untuk generasi bangsa kita yang semakin lemah menjadi semakin kokoh melihat harapan di kemudian hari adalah bagian dari tugas Gereja dan juga keluarga. Ketika Agama bertindak menyatakan Tuhannya, kekuatan Negara dalam roh yang berbeda akan pergi mengakui ketekunan manusia pada Tuhannya. Pelayanan dalam Gereja harus beriman besar menyelamatkan manusia, harus lebih melawan iblis dalam kebangkitan Roh Tuhan sebab, Iblis ada di segala tempat, bukan saja di Gereja namun di zaman ini ada di segala sendi-sendi hidup manusia. Gereja harus lebih beriman mengikuti zaman yang terus dinamis.

Pembangunan Rohani Gereja harus bangkit. Hari ini Gereja harus lawan Iblis di Papua. Iblis telah menampakkan dirinya melalui jalan-jalannya. Iblis telah menodai manusia melalui makanan, sex dan kekuasaan (kenikmatan ragawi). Alam Papua sudah tidak berdaya sebab, manusia tidak pada jalan yang semestinya. Komunikasi antara Manusia pada Tuhan dan Alam semakin hilang tak nampak yang terbenam hanya kepentingan yang sesat, generasi sebagai penerus bangsa Papua sedang dibombardir oleh cara-cara Iblis yang pada akhirnya manusia Papua akan hilang dari peradaban Papua dari tanah Papua.

Itulah kondisi hari ini di seluruh tanah Papua. Mesti semua elemen-elemen hidup orang Papua di tanah Papua mata harus berubah mengikuti zaman, bukan Budaya sebab dengan zaman baru ini anak-anak sebagai generasi bangsa Papua hancur mereka harus dibawah keluar oleh kita. Gereja harus berubah dan melihat ke jalan-jalan dan menjadi solusi bagi manusia Papua.

 

Sumber: mrnomen.wordpress.com

 

The post Maraknya anak-anak Aibon, Bagaimana gereja harus melihat? appeared first on NIRMEKE | Milik Bersama.

Tinggalkan Balasan