Sami Penjual Peluru Ilegal Disidangkan di PN Timika

Proses sidang terhadap terdakwa (Sami) di PN Kota Timika.(Foto-Salma)

SAPA (TIMIKA) - Pengadilan Negeri (PN) Kota Timika Kelas II B, menyidangkan kasus penjualan peluru tanpa izin (illegal) oleh Sami Sapteno alias Yahuda, Kamis (16/5). Dalam sidang awal tersebut, ada  enam saksi dihadirkan untuk memberikan keterangan.

Kasus ini sendiri, dijelaskan Jaksa Penuntut Umum, Habibie Anwar merupakan pengembangan dari ditangkapnya Titus Kwalik, pada  Februari 2018 silam,  di sekitaran jalan Poros SP 5. Diterangkan Habibie, Yahuda diduga kuat memperdagangkan amunisi berupa peluru tanpa izin dari pihak berwenang.

Saksi Titus dalam sidang  tersebut  menerangkan bahwa dirinya mengenal Sami di sebuah warung makan. Kala itu dalam perbincangannya di warung makan, terdakwa (Sami) awalnya berniat mencari tanah untuk dibeli. Perbincangan itu pun berlanjut hingga membahas tentang penjualan amunisi. Terdakwa menanyakan adakah rekan saksi yang ingin membeli peluru yang dijualnya.

Pada saat itu, terdakwa Sami menjual peluru kepada rekan saksi berjumlah 100 butir senilai Rp 10 Juta, transaksi kedua 30 butir dengan nilai 3 juta dan 20 butir diikuti terakhir 10 butir peluru. Keempat transaksi ini terjadi di kebun milik Titus.

 "Tapi dia (terdakwa) hanya kasih peluru saja baru saya yang kasih ke Deikme," ungkap Titus dalam keterangannya.

Titus mengaku, transaksi itu hanya terjadi sebanyak empat kali. Dimana dari empat kali transaksi tersebut, ia memastikan dirinya tidak pernah mendapat uang sepersen pun, meskipun transaksi terjadi berkat perantaraannya. Dalam empat transaksi itu, dua diantaranya dibeli oleh satu saksi lainnya atas nama Deikme dan satu saksi lainnya yang membeli di awal yakni Ponce.

Sementara itu, menurut keterangan kepolisian yang bersaksi, selama ini Ponce selalu diikuti karena sebelumnya ia terlibat di KKB kelompok kali kopi. Setelah sekitar delapan bulan pengembangan, baru diketahui Ponce membeli peluru dari Yahuda (nama lain Sami).

Dalam keterangan, polisi tersebut mengatakan ia pernah melihat pelurunya tersebut, dimana dicurigai campuran pelurunya tidak ada izin penjualan dan kepemilikan peluru (dari terdakwa).

Sidang ini ditunda untuk mendengarkan tanggapan saksi ahli yang rencananya akan didengarkan Senin pekan depan. (Salma)

Tinggalkan Balasan