187 Warga Kabupaten Mimika Terinfeksi HIV


Ilustrasi alat kontrasepsi. 

SAPA (TIMIKA) - Sebanyak 187 warga Kabupaten Mimika terinfeksi HIV, 82 diantaranya ditemukan tanpa gejala sedangkan 105 lainnya sudah pada fase AIDS. 

Data tersebut berdasarkan laporan temuan infeksi dan kasus HIV-AIDS periode Januari-Juni 2019 Dinas Kesehatan Mimika. Temuan itu menggenapi angka 5.095 kasus HIV-AIDS sejak tahun 1996 hingga Juni 2019 di Mimika.

Dari data itu juga diketahui bahwa pola temuan kasus HIV-AIDS cenderung sama seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, di mana kasus HIV-AIDS paling tinggi masih ditemukan pada usia produktif 25-29 tahun sebanyak 45 kasus dan usia 20-24 tahun sebanyak 34 kasus.

Temuan kasus HIV-AIDS paling tinggi pada orang dengan status didalam pernikahan sebanyak 100 kasus, status tidak menikah sebanyak 63 kasus, sisanya adalah janda atau duda dan belum diketahui. Jika dilihat berdasarkan kategori lama domisili, temuan kasus pada orang dengan domisili selama tiga tahun ke atas lebih banyak, yakni 128 kasus. 

HIV-AIDS layaknya fenomena gunung es dan tugas pemerintah bersama para pegiat penanggulangan penyakit yang belum ada obatnya ini adalah membongkar fenomena tersebut. Caranya adalah, menjangkau sebanyak-banyaknya warga agar mengikuti pemeriksaan dan konseling HIV-AIDS dengan prinsip temukan, obati dan dampingi agar tidak putus minum obat.

Dari sisi ini, kinerja Penanggulan HIV-AIDS Dinkes Mimika perlu dikritisi. Sebab hingga semester pertama 2019, cakupan pemeriksaan dan konseling HIV-AIDS baru di angka 18.680 orang. Angka itu masih dibawah 50 persen dari target 41.118 di tahun 2019.

"Pola penanggulangan masih sama dengan tahun sebelumnya, menjangkau sebanyak-banyaknya warga untuk ikut testing dan konseling HIV," kata Penanggung Jawab Program HIV-AIDS Dinkes Mimika, Yoan Tauran saat dikonfirmasi, pada Senin (16/9). 

"Kami juga tetap fokus di populasi kunci, panti pijat atau timung dan bar," katanya lagi. 

Kabarnya Dinkes Mimika telah menerapkan paket pemeriksaan komprehensif di beberapa Puskesmas. Pasien kunjungan malaria misalnya, sekaligus akan menjalani screening TB, pemeriksaan HIV-AIDS dan hepatitis.

Di Kabupaten Mimika saat ini telah melaksanakan desentralisasi ARV. Yang mana lewat desentralisasi, pemberian ARV yang dulunya ditangani rumah sakit diserahkan ke Puskesmas berdasarkan wilayah kerja. Sebelum desentralisasi, distribusi ARV dari provinsi masuk ke rumah sakit di tingkat kabupaten. Puskesmas hanya sebagai satelit. 

Memasuki era desentralisasi, ARV kini masuk di Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) dan didistribusikan secara aktif ke setiap Puskesmas. Sistem ini diyakini mampu membuat Puskesmas lebih mandiri dalam pelayanan ARV. (Saldi)

Tinggalkan Balasan