Puluhan Pengelola Program TBC dan Tenaga RR HIV Ikut Validasi Data Tahun 2019

Pertemuan validasi data TB-HIV tahun 2018 dan tri wulan (TW) III tahun 2019 Kabupaten Mimika.

SAPA (TIMIKA) –  Sebanyak 23 Puskesmas pengelola program TBC dan Tenaga RR HIV dari 23 Puskesmas dan empat Rumah Sakit se Mimika mengikuti pertemuan validasi data TB-HIV tahun 2018 dan tri wulan (TW) III tahun 2019 Kabupaten Mimika.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ( P2P) Dinkes Mimika, Fransiscan Kilangin mengatakan, secara umum kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan program TB-HIV tahun 2018 dan 2019 serta melakukan finalisasi data lewat  validasi data SITI 10.04 dan SIHA. 

Selain itu untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan program pengendalian TB-HIV pada tahun 2018 dan TW I sampai III tahun 2019 dari masing-masing fasilitas kesehatan. Melaksanakan finalisasi data program TB-HIV dengan validasi data capaian penemuan pengobatan pasien TB-HIV periode tahun 2018 dan TW I sanpai III tahun 2019.

 “Setiap Puskesmas selalu aktif melakukan pemeriksaan. Laporan pencapaian itu melalui sistem elektonik atau e-TB. Untuk yang dari kampung-kampung tetap laporannya secara manual, tapi setelah sampai di kota tetap dimasukan ke sistim,” katanya, Rabu (9/10).

Fransiscan mengaku, belum bisa memastikan jumlah temuan dan penanganan yang telah tercapai selama tahun 2018 karena data akurat harus dikumpulkan dari semua fasilitas kesehatan. Namun yang pasti,  seluruh puskesmas termasuk yang di kampung-kampung selalu melakukan pengambilan sampel secara aktif.

“Kalau  yang belum memiliki laboratorium, tetap melakukan pengambilan sampel karena semua petugasnya sudah dilatih untuk itu. Dengan demikian, jika datang ke kota,  maka sampelnya diperiksa dilaboratorium,” ungkapnya.

Selanjutnya dijelaskan bahwa Tubercolosis atau TBC masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai beban TBC yang terbesar selain negara India, China, Nigeria dan Pakistan. 

Selain itu, terdapat tantangan yang perlu menjadi perhatian yakni, meningkatnya TBC –MDR, TBC-HIV, TBC dengan DM serta TBC pada anak dan masyarakat rentan lainnya.

Hal tersebut memacu pengendalian TBC nasional untuk terus melakukan intensifikasi, ekstensifikasi dan inovasi program. Penanggulangan TBC perus dilakukan secara serius karena merupakan penyakit menular yang masih menjadi ancaman kesehatan global.

Sesuai data WHO globatl TBC report tahun 2016, indonesia menempati posisi kedua dengan beban TBC tertinggi dunia. TBC di Indonesia juga menjadi penyebab nomor empat  kematian setelah penyakit kardiovaskular.

Meski telah diperoleh kemajuan dan keberhasilan yang sangat signifikan dalam program pengendalian TBC, tapi masalah yang dihadapi saat ini masih cukup besar. Dimana, pada tahun 2015, di Indonesia terdapat 680.000 kasus prevelens, 1.020.000 kasus insiden, serta 100.000 kematian pertahun yang diakibatkan TBC. 

Dengan demikian, jumlah notifikasi semua kasus TBC sebanyak 330.729 dengan cakupan penemuan kasus baru sekitar 32 persen. Sedangkan 68 persen merupakan kasus yang under reporting atau under diagnosis.

Selanjutnya dalam rencana strategi nasional tahun 2016-2020, terdapat enam strategi utama untuk mencapai target yakni, penguatan kepemimpinan program TB di seluruh kabupaten/kota. Peningkatan akses layanan “TOSS-TB” yang mencakup, active case finding dan intensifikasi kolaborasi layanan. Pengendalian faktor risiko. Peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TB. Peningkatan kemandirian dalam penanggulangan TBC serta penguatan manajamen program melalui sistem kesehatan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, maka perlu dilakukan berbagai kegiatan, salah satunya adalah penyediaan data yang akurat. Pelaporan P2TB dilaksanakan agar memperoleh data yang valid untuk diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan program. Data yang dikumpulkan harus lengkap, akurat dan sesuai dengan indicator program. (Acik)


Tinggalkan Balasan