Obeth Rumetna Siap Bertarung Dalam Pilkada 2020

Metro Merauke – Pekan lalu, dua kru jurnalis Metro Merauke, menyambangi kediaman Obeth Rumetna yang beralamat di Jalan Sumatera, Kelurahan Seringgu Jaya, Kabupaten Merauke.

Seperti biasa, sebelum bertemu, telah disepakati hari dan jam terlebih dahulu. Itu karena harus menyesuaikan jadwal Obeth Rumetna, sosok sederhana ini, mengingat banyak kesibukan dijalankannya.

Dari komunikasi yang dibangun, akhirnya disepakati Jumat 18 Oktober 2019, tepat pukul 10.00 Waktu Indonesia Timur (WIT), dilakukan wawancara khusus bersama Calon Bupati Merauke ini.

Adalah Obeth Rumetna, ST,MT. Senyuman dan sapaan lembut menyambut kedatangan dua jurnalis. Setelah duduk sesaat, wawancara-pun dilangsungkan.

“Terimakasih untuk adik berdua, karena sudah meluangkan waktu datang di rumah saya melakukan wawancara, meski masih banyak kegiatan lain yang harus dijalankan sebagai seorang jurnalis,” ungkap Obeth membuka pembicaraan.

Dalam wawancara yang berlangsung kurang lebih satu setengah jam, banyak hal disampaikan Obeth Rumetna, terkait keputusan yang diambil untuk ikut bertarung dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Merauke tahun depan.

Rupanya keputusan politiknya itu, setelah melihat realita kehidupan masyarakat yang jauh dari harapan, terutama orang asli Papua di kampung-kampung. Betapa tidak, mulai dari akses pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, praktis tak berjalan baik.

“Selama ini saya bekerja di Kantor Balai Wilayah Sungai Papua di Kabupaten Merauke. Dimana dari tahun ke tahun, membangun saluran irigasi di kampung-kampung, termasuk di kampung-kampung transmigrasi,” ungkapnya.

Disamping menjalankan tugas pengawasan pengerjaan saluran irigasi, dirinya ikut melihat dari dekat kehidupan masyarakat kecil, terutama orang Marind yang sangat lamban dibandingkan di daerah kota.

“Saya bisa mengatakan bahwa pendidikan tidak berjalan baik. Bagaimana tidak, anak-anak SD yang sudah tamat, belum dapat membaca dan menulis secara baik. Bahkan ketika ke jenjang SMP, juga masih kaku menulis dan belajar,” tegasnya.

Olehnya, sebagai salah satu program yang nantinya dijabarkan dalam visi-misi adalah menawarkan pendidikan berpola asrama di 20 distrik. Lalu anak-anak yang tinggal di asrama itu mulai dari Kelas IV.

“Dari kelas I-III, mereka tetap dikampung terlebih dahulu, karena masih membutuhkan perhatian orangtua. Tentunya dengan menerapkan pendidikan berpola asrama di semua distrik, proses belajar mengajar akan jauh lebih baik. Lalu anak-anak mudah dikontrol dari waktu ke waktu,” katanya.

Selain asrama dibangun, menurutnya, juga fasilitas pendukung lain termasuk rumah guru. Sehingga tidak ada alasan guru meninggalkan tempat tugasnya.

“Memang salah satu faktor penyebab hingga guru meninggalkan tempat tugasnya lantaran fasilitas pendukung berupa rumah guru tidak ada. Ini juga saya temukan saat melakukan kunjungan di sejumlah kampung maupun distrik,” ujarnya.

Dengan pendidikan berpola asrama, semua kebutuhan anak-anak termasuk makan minum, disiapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke melalui dukungan dana setiap tahun.

Disinggung kalau masalah kesejahteraan guru hingga mereka meninggalkan tempat tugas, Obeth mengaku, tentunya menjadi skala prioritas untuk diperhatikan.

Baik guru yang berstatus ASN maupun tenaga honorer, harus diatur baik kesejahteraan mereka. Selain gaji tiap bulan, juga insentif maupun tunjangan lain diberikan. Sehingga tetap betah di kampung melaksanakan tugasnya.

Khusus guru honorer, katanya, selain kesejahteraan mereka diperhatikan, harus dipersiapkan mengikuti testing CPNS dan diprioritaskan pemerintah.

Berbicara tentang kesehatan, juga masih bermasalah sampai hari ini. Dimana di sejumlah puskesmas maupun pustu yang didatanginya, hampir tak ada tenaga medis. Bahkan stok obat-obatan juga sangat menipis bahkan tidak ada.

Kondisi demikian, tentunya menyulitkan masyarakat ketika akan mendapatkan pelayanan kesehatan, apalagi kalau ada orang sakit dan butuh pertolongan cepat tenaga medis.

Khusus untuk program pemberdayaan masyarakat, Obeth menjelaskan, harus sesuai dengan kondisi dan situasi dimana mereka tinggal. Misalnya masyarakat di Kampung Salamepe dan Banamepe, tentu bukan program perikanan diterapkan. Tetapi pertanian, karena umumnya disana petani.

Secara umum, mereka memiliki hasil yang mempunyai nilai ekonomis. Hanya saja, tak bisa dibawa ke kota, mengingat akses penghubung berupa jalan yang rusak parah dan tak dapat dilalui kendaraan baik roda dua maupun empat.

Dengan demikian, hasil yang sudah saatnya dipanen, dibiarkan begitu saja membusuk di kebun. “Mereka mau jual kemana, akses transportasi terutama infrastruktur jalan praktis tak dibangun Pemkab Merauke,” ujarnya.

“Masyarakat sampaikan kepada saya, hasil yang dipanen mau dijual kemana? Itu karena akses jalan belum dibuka. Ya, kalau Tuhan berkehendak saya dipilih, infrastruktur menjadi skala prioritas dibangun. Sehingga masyarakat leluasa ke distrik maupun kota menjual hasil alam,” katanya.

Obeth mengakui dana desa yang digelontorkan pemerintah pusat ke kampung-kampung sangat besar hingga miliaran rupiah. Namun persoalannya adalah minimnya sumber daya manusia (SDM) kepala kampung. Sehingga penggunaan dana tidak teratur dan bukti pembangunan pun tidak kelihatan.

Kuncinya disini adalah pengawasan melekat yang mestinya dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke. Juga monitoring secara kontinyu oleh instansi terkait. Dengan begitu, dana akan digunakan tepat sasaran sesuai keinginan serta harapan masyarakat.

Berbicara tentang infrastruktur, Obeth mengatakan, perlu adanya koordinasi secara berjenjang dilakukan ke provinsi hingga pusat. “Saya masih ingat dulu program gotong royong. Dimana ada dana dari APBN, provinsi dan kabupaten dimanfaatkan membantu masyarakat,” ujarnya.

“Soal jalan, saya ini mantan ASN Dinas PU Provinsi Papua dan terakhir pensiun di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum. Sehingga bisa saya koordinasikan dan melaksanakan kembali program gotong royong,” ungkap dia.

Meskipun belum mengetahui nilai riil APBD Merauke, namun dapat dipastikan kebutuhan sangat besar untuk di berbagai bidang. Olehnya, perlu koordinasi dengan kementerian maupun provinsi.

“Saya mempunyai banyak pengalaman saat menangani pekerjaan dari APBN. Intinya adalah kita memiliki data lengkap dan perlu membangun komunikasi secara intens. Dengan begitu, uang akan cair dengan sendirinya. Ini pengalaman saya ketika di kantor rawa. Nilai proyek tiap tahun mengalami peningkatan,” katanya lagi.

Setelah pekerjaan diselesaikan, petugas kementerian turun dan melihat fisik di lapangan. Hasilnya sangat memuaskan, sehingga tak mengherankan proyek irigasi di Merauke terus berjalan tiap tahun.

Disinggung pembenahan birokrasi, Obeth mengaku, konsep pertama adalah harus disiplin. Itu adalah kunci dari keberhasilan. Jika tak disiplin, dipastikan pekerjaan akan terlantar.

“Ketika masih sebagai pejabat, saya selalu mengingatkan kepada staf agar harus datang tepat waktu. Sehingga pulang juga sesuai waktu yang ditentukan. Bukan datang terlambat dan beralasan akan kerja sampai malam. Itu bukan namanya disiplin,” tegasnya.

Konsep disiplin, jelas dia, datang tepat waktu dan masuk ruangan untuk bekerja. “Memang kalau awal kita tegakan disiplin, pasti memunculkan banyak protes. Tetapi bagaimanapun juga, harus dijalankan,” ungkapnya.

Menyangkut urusan birokrasi dan politik, sangat berbeda. Kalau bicara politik, bisa menjanjikan dan baru direalisasikan dari belakang. Tetapi birokrasi, harus langsung eksekusi.

Dijelaskan, tekad dan niatnya bulat untuk maju mencalonkan diri menjadi Bupati Merauke, karena melihat kondisi sesungguhnya yang terjadi di kampung. “Bukan saya dengar orang ceritera, tetapi melihat dan merasakan sendiri,” katanya.

Dari berbagai keprihatinan yang dilihat, mendorongnya ingin berbuat dan melakukan terbaik demi rakyat di kampung-kampung, terutama orang Marind. Kehidupan masyarakat harus dirubah lebih baik.

Saya Jalan Sendiri
Lebih lanjut Obeth mengatakan, selama berkarier menjadi ASN, ia hanya melaksanakan tugas di kantor dan korpri serta kegiatan gereja. Untuk terlibat dalam politik, sama sekali tidak.

Saat ini, lanjut Obeth, telah ada beberapa parpol menyatakan kesiapan memberikan dukungan kepadanya maju dalam Pilkada Merauke. Namun ia tak bisa menyebutkan. Karena kata orang, politik itu satu menit dapat berubah.

“Belum ada rekomendasi parpol di tangan kami, namun lobi masih terus berjalan. Puji Tuhan, saya diterima baik oleh sejumlah parpol,” ujarnya.

Ketika disinggung tentang calon wakil bupati yang akan digandengnya, Obeth mengatakan, harus juga mendengar secara langsung apa keinginan rakyat. Apakah gandengan itu memiliki nilai jual atau tidak? Karena nantinya yang memilih adalah rakyat sendiri.

Diakui jika saat ini, terus berjalan ke kampung-kampung sambil memperkenalkan diri. “Saya tak menggunakan orang lain memperkenalkan diri saya,” tegasnya.

Tetapi, jelas dia, turun langsung di setiap kampung. Disitu telah berkumpul antara 200-300 orang, sekaligus dilakukan dialog. Hingga sekarang juga belum ada tim sukses dibentuk. Hanya saja di kampung-kampung mereka telah menyatakan kesediaan.

“Pada prinsipnya, kalau rekomendasi partai sudah di tangan, saya akan ke kampung-kampung sekaligus menunjukkan dan sudah pasti mereka menjadi tim sukses,” katanya.

Dia menambahkan, dari dialog bersama rakyat di kampung-kampung, keinginan dan harapan mereka agar pemimpinnya harus berada di tempat.

“Sederhana saja, mereka minta kalau sudah jadi bupati, tidak menghabiskan waktu lebih banyak di luar daerah. Tetapi berkunjung dari satu kampung ke kampung lain. Sekaligus mendengar langsung berbagai keluhan yang dialami serta dirasakan. Karena mereka tak mungkin kekota menemui bupati, mengingat banyak prosedur harus dilalui,” katanya.

Diakhir wawancaranya, Obeth menungkapkan, dirinya terlahir dari kandungan perempuan Marind dan keturunan dari Kampung Onggari. Sedangkan neneknya dari Kampung Makaling yang datang dan tinggal di Onggari.

“Jadi, saya disebut anak adat. Karena lahir dari kandungan perempuan Marind. Saya bukan diangkat sebagai anak adat. Memang saya tetap gunakan marga bapak saya, tetapi mama saya asli perempuan Marind,” tegasnya. (Nuryani/LKF)

Tinggalkan Balasan