Para tersangka kasus anti rasisme Deiyai dikenai pasal berbeda

Yos Iyai, Mikael Bukega dan Stefen Pigai di rutan Polres Jayapura – Pengacara Hukum for Jubi

Sebagian kasusnya sudah dilimpahkan dari kejaksaan ke pengadilan.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Paniai, Jubi – Sembilan tersangka kasus protes anti rasisme di Deiyai Emanuel Gobai, dikenai sejumlah pasal yang berbeda-beda. Sebagian kasusnya sudah dilimpahkan dari kejaksaan ke pengadilan.

“Masing-masing tersangka dituduh dengan pasal yang berbeda-beda, yaitu Andreas Douw dituduh melanggar Pasal 2 ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 junto Pasal 212 KUHP,” kata kuasa hukum para tersangka, Emanuel Gobai, Sabtu, (9/10/2019).

Baca juga :Masalah rasisme di Deiyai, bukan hanya milik sembilan tersangka

Sembilan tersangka demo antirasisme di Deiyai, dipindahkan ke Rutan Polres Nabire

KBH Papua dampingi tersangka tolak rasisme Deiyai di Polres Paniai

Begitu pula tersangka lain seperti Simon Petrus Ukago dituduh melanggar Pasal 2 UU Darurat No 12 Tahun 1951 junto Pasal 212 KUHP junto Pasal 213 ayat (1) KUHP dan ayat (2) KUHP. Yuven Pekey dituduh melanggar Pasal 2 ayat (2) UU Darurat No 12 Tahun 1951 junto Pasal 212 KUHP.

Stepanus Goo dituduh melanggar Pasal 2 ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 juntu Pasal 212 KUHP, dan Melianus Mote alias Bule dituduh melanggar Pasal 2 UU Darurat No 12 Tahun 1951 junto Pasal 212 KUHP.

Alex Pakage dituduh melanggar Pasal 2 ayat (2) UU Darurat No 12 Tahun 1951 junto Pasal 212 KUHP dan Stepanus Pigai dituduh melanggar Pasal 160 KUHP, Mikael Bukega dituduh melanggar Pasal 160 KUHP, Yos Iyai dituduh melanggar Pasal 160 KUHP junto Pasal 51 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Pada tanggal 6 November 2019 pukul 15:00, Tim Koalisi bertemu dengan mereka sembilan yang dititipkan di Rutan Polres Jayapura,” kata Gobay menambahkan.

Menurut dia, pengiriman sembilan orang ke Rutan Polres Jayapura dilakukan secara terpisah-pisah. Awalnya pada hari Minggu, 3 November 2019 pihak Kepolisian dan Jaksa mengirim Stefanus Goo dan Andreas Douw pada penerbangan pertama.

Selanjutnya Juven Pekey dan Simon Petrus Ukago pada penerbangan kedua. Pada hari Senin, 4 November 2019 pihak Kepolisian dan Kejaksaan mengirimkan Melianus Mote dan Alex Pakage pada penerbangan pertama,  selanjutnya Stefen Pigai dan Mikael Bukega pada penerbangan ke dua.

“Nah,  pada hari Selasa, 5 November 2019 pada penerbangan pertama pihak Kepolisian dan Kejaksaan mengirimkan Yos Iyai,” kata Gobay menjelaskan.

Pengalihan tahanan dari Rutan Polres Nabire dan Rutan LP Nabire ke Rutan Polres Jayapura dilakukan tanpa sepengetahuan pengacara hukum dari Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua.

Setelah mengetahui fakta pengiriman itu, Koalisi merasa dibohongi karena pada hari Senin 4 November 2019 kami menghubungi salah satu penyidik, dan mengatakan berkasnya sudah dinaikan ke Kejaksaan.

“Sementara dakta pengalihan tahanan ke Rutan Polres Jayapura tidak diinformasikan. Selain itu, Kasipidum Kejaksaan Negeri Nabire juga tidak menginformasihkan perihal pemindahan ke enam orang masa aksi anti rasis ke Rutan Polres Jayapura sama sekali,” katanya.

Koalisi menghubungi Kasipidum dan mempertanyakan alasan pemindahan tanpa kabar. Kasipidum mengatakan bahwa dia mendapatkan informasi mendadak perihal pemindahanan pada hari Minggu sehingga tidak sempat menghubungi Koalisi.

Gobai menegaskan, sikap Penyidik Polres Paniai dan Kejaksaan Negeri Nabire jelas-jelas telah mengabaikan hak atas bantuan hukum yang dimiliki oleh sembilan orang itu yang dijamin pada Pasal 69 – 74, UU No 8 Tahun 1981 atau KUHAP.

“Selain itu, kami Koalis selaku advokat merasa Penyidik Polres Paniai dan Kejaksaan Negeri Nabire mengabaikan UU No 13 Tahun 2003 tentang Advokat,” kata Gibay menegaskan.

Wakil ketua II DPRD Deiyai, Petrus Badokapa, pertanyakan alasan Polres Paniai dan Dandim Paniai memindahkan tersangka yang cukup jauh dari wilayah kerja Polres Paniai.

“Ya, kami memang tidak hargai sebagai pejabat daerah. Maka kami minta mohon sampaikan kepada publik Deiyai apa alasan utama pindahkan sembilan pemuda ini,” kata Badokapa.

Menurut dia, sembilan tersangka yang ditahan itu termasuk korban. “Korban penembakan, juga korban penganiayaan dari aparat waktu aski anti rasis jilid kedua itu,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

The post Para tersangka kasus anti rasisme Deiyai dikenai pasal berbeda appeared first on JUBI.

Tinggalkan Balasan