Dirjen: Kolera Babi Dan African Swine Fever Tidak Menular Ke Manusia

Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantoni berbicara kepada wartawan, Jakarta. (Foto-Antara)

SAPA (JAKARTA) - Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantoni menegaskan virus hog cholera atau kolera babi dan virus african swine fever atau demam babi Afrika tidak menular dari hewan ke manusia.

"Kolera babi dan african swine fever sejauh ini tidak menular dari hewan ke manusia. Itu prinsipnya, tapi kejadian di Sumatera Utara itu yang kita pikirkan adalah justru pembuangan bangkai di sungai yang angka pengguna air tanah di sekitar sungai cukup tinggi," kata Anung kepada wartawan di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin.

Anung menuturkan bangkai-bangkai babi tersebut tentu mencemari sungai. Untuk itu, pihaknya sudah berkomunikasi dengan dinas kesehatan di daerah untuk mewaspadai penggunaan air tanah yang ada di wilayah tempat buangan bangkai babi. Hal ini dilakukan untuk memastikan keamanan pengguna air setempat.

"Saya minta teman-teman di lapangan secara periodik melakukan pengecekan meski yang ditemukan nanti escherichia coli, tidak akan menemukan kolera babi, african swine fever tapi kita harus mewaspadai semacam itu karena ini bagian dari pencemaran lingkungan yang harus kita waspadai," tuturnya.

Sebelumnya, jumlah kematian babi akibat virus hog cholera atau kolera babi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) hingga Senin, bertambah menjadi 5.800 ekor.

"Data ini hasil laporan terbaru dari kabupaten dan kota di Sumut," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut Azhar Harahap di Medan, Senin.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut, Kementerian Pertanian dalam hal ini Dirjen Peternakan akan berpartisipasi dalam penanganan dan pengawasan babi.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara mencatat ada 11 Kabupaten/Kota yang terkena wabah virus hog cholera yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Samosir.

Sementara itu, Kepala Seksi Tumbuhan BKP Kelas II A Tanjungpinang Khalid Daulay di Tanjungpinang, Minggu, mengungkapkan jika virus demam babi afrika itu masuk ke Kepulauan Riau, maka akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.

"Bisa menyebabkan matinya hewan ternak babi dengan persentase yang tinggi dan intensitas serangan yang sangat cepat," ucapnya.

Hal itu kemudian akan berdampak pada terhambatnya ekspor babi, khususnya dari Kepulauan Riau ke negara tujuan.(Antara)

Tinggalkan Balasan