BPOM Masih Menunggu Revisi PP Mengenai Larangan Penggunaan Vape dan Rokok Elektrik

Kepala BPOM Mimika, Herianto Baan, S.Si.,Apt. (Foto: SAPA/Kristin)

SAPA (TIMIKA) - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) masih menunggu adanya revisi Peraturan Pemerintah mengenai pelarangan penggunaan Vape dan Rokok Elektrik di Indonesia.

Saat ini  langkah pemerintah untuk melarang pengguaan vape dan rokok elektrik ternyata tidak main-main. Hal ini dilakukan karena kandungan pada rokok tersebut dianggap lebih berbahaya dari rokok konvensional.

Hasil studi BPOM pada Tahun 2015 dan 2017 yang menemukan ada banyak senyawa kimia yang berbahaya yang terkandung dalam vape dan rokok elektronik yakni nikotin, propilenglikol, persia (flavoring), karbonil, tobacco specific nitrosamines, diethylene glycol dan logam.

Kepala BPOM Mimika, Herianto Baan, S.Si.,Apt yang ditemui diruang kerjanya, Senin (17/11) mengatakan usulan pelarangan ini sudah diajukan ke Kementerian Kesehatan melalui revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Penggunaan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan agar BPOM memiliki payung hukum untuk melakukan pengawasan dan pelarangan peredaran vape dan rokok elektrik ini.

“Bahaya penggunan rokok elektrik dan vape itu sama dengan rokok konvensional, sama-sama mengandung bahan berbahaya dan kemungkinan lebih berbahaya rokok elektrik dan vape ini karena kandungan zatnya lebih banyak, tetapi kita belum bisa melakukan pelarangan, masih menunggu revisi,” kata Heri.

Usulan pelarangan kedua jenis rokok ini jelas Heri bukan tanpa alasan, namun sudah ditemukan banyak kejadian atau penyakit yang disebabkan oleh rokok elektronik dan juga vape yang menyerang perokok pasif yang menyerang paru-paru mengingat asap yang dikeluarkan dari rokok ini lebih banyak dibandingkan dengan rokok konvensional pada umumnya. Bahan-bahan yang terkandung didalam cairan vape dapat merusak sistem eksresi dan sel-sel tubuh lainnya.

BPOM Mimika siap untuk menjalankan tugas pengawasan dan bahkan pelarangan apabila revisi PP Nomor 109 Tahun 2012 tersebut sudah dilakukan dan disetujui oleh pemerintah.

“Banyak orang berpikir bahwa rokok elektrik atau vape itu lebih aman dibandingkan rokok konvensional tetapi pada kenyataannya sudah dilakukan pemeriksaan dan ternyata kandungan didalmnya itu sangat berbahaya makanya diusulkanlah untuk dilakukan revisi PP 109 untuk mengatur rokok elektrik dan vape,” tuturnya. (Kristin)

Tinggalkan Balasan