Tahun 2018 Mimika Tertinggi Jumlah Kasus Malaria se-Papua, Semester Pertama 2019 Turun 29 Persen

Pertemuan Lintas Sektor Penguatan Malaria Centre Kabupaten Mimika. (Foto: SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Berdasarkan  data Unicef tahun 2018, Kabupaten Mimika berada di posisi tertinggi untuk temuan kasus malaria se-Papua dengan jumlah 64.481 kasus.  Jumlah ini menempatkan Mimika sebagai Kabupaten penyumbang tertinggi (29.12)  persen dari seluruh kasus malaria di Indonesia.

Saat pertemuan lintas sektor penguatan malaria centre Kabupaten Mimika, dilaporkan Mimika merupakan daerah endemis tinggi malaria di Indonesia, khususnya di Provinsi Papua dengan API lebih dari 200 kasus setiap 1000 penduduk per tahun.

Sedangkan Penanggungjawab Program Malaria Kabupaten Mimika, Samson Manao mengatakan jika berbicara kasus malaria, Mimika menjadi yang tertinggi, tapi secara angka API, Mimika masuk pada urutan tiga setelah Kabupaten Keerom dan Sarmi. API merupakan jumlah kasus dalam satu wilayah per-1000 penduduk.

Menurut dia, temuan kasus malaria di Mimika tahun 2018 berada di angka 64.603 kasus. Sedangkan tahun 2019,  untuk semester pertama turun kurang lebih hingga 29 persen.

“Penurunan kasus itu mulai dari tahun 2017 ke 2018. Untuk tahun 2017-2018 turun kurang lebih 30 persen, dengan angka kasus 92.342. Begitu juga saat ini di semester pertama tahun 2019 ada penurunan. Untuk di Mimika API tahun 2018 ada di angka 294,3. Ini berarti, setiap 1000 penduduk di Mimika ada sebanyak 294 kasus,” kata Samson, Kamis (5/12).

Penurunan ini sebagai dampak atas gencarnya upaya eliminasi yang telah dilakukan oleh Dinkes Mimika bersama seluruh mitra-mitra. Sebab, untuk penurunan kasus malaria, mustahil hanya diupayakan oleh Dinkes, akan tetapi harus melibatkan lintas sektor.

Khusus upaya yang telah dilakukan Dinkes Mimika adalah pengendalian dengan perbaikan  data layanan, penjaminan mutu diagnosa malaria, penguatan tata laksana kasus malaria, pengendalian vector serta kebijakan. Kebijakan  adalah penguatan regulasi SK Bupati nomor 225 tahun 2019 tentang malaria centre termasuk penguatan kerja lintas sektor. Selanjutnya pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan 113 orang kader  yang ada di 250 kampung.

Selanjutnya dijelaskan, target eliminasi secara nasional adalah hingga tahun 2030. Sedangkan target eliminasi untuk di Mimika hingga tahun 2026.  Karena itu, saat ini secara lintas sektor akan terus berupaya agar sesuai target. Dimana, untuk API di tahun 2020 harus berada di bawah angka 100, dan untuk tahun 2024 hingga 2026, diharapkan kurang dari angka satu sesuai target nasional.

“Kita bicara eliminasi, bukan berarti menghilangkan kasus malaria dalam suatu wilayah. Tetap ada kasus, tetapi kasus yang di bawa dari luar. Sebab istilah eliminasi itu adalah tidak ada penularan di wilayah itu. Lain kalau dibilang eradikasi, karena eradikasi itu hilang sama sekali,”jelasnya. (Acik)

Tinggalkan Balasan