Nikmati Nuansa “Surga Kecil” dalam Sundshine Cafee & Library

 

Reporter : Hengky Yeimo

Jayapura, tiruupapua.com Satu dari sekian banyak Cafee milik orang asli Papua namun kini hadir SundShine Cafe and Library yang terletak di Waena, Jln. SPG Teruna Bakti, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram. Nama Cafe “SundShine” sendiri adalah gabungan nama saya dan adik-adik, kebetulan kami berjumlah tiga orang, Sister, Ulin, Doka jadi di singkat “Sund” sementara “Shine” diambil dari bahasa inggris artinya “Bersinar”.

“Dengan harapan agar mereka bertiga bisa bersinar dan membawa dampak positif dan memberikan ispirasi baru di lingkungan sosial di Kota Jayapura dan di Papua,” kata pemilik Sund Shine Cafe and Library, Ulin Epa, ketika diwawancarai tiruupapua.com di cafenya, belum lama ini.

Lanjut Ulin Epa, konsep Sund Shine Cafe and Library ini sebenarnya inspirasinya sederhana bagaiman mau menghadirkan Papua “surga kecil” kedalam cafe ini. “Agar orang yang masuk benar-benar merasa memiliki bahwa mereka berada dalam rumahnya sendiri, dan benar benar dekat dengan orang papua dan ketika mereka melihat dan merasakan nuansa Papua sesungguhnya,” katanya.

Eva mengatakan, Konsep desing Cafe ini merupakan hasil pemikirannya bersama suaminya dan dua orang teman saya asalnya di Geniem dan satunya dari Serui. Cafe ini di desing tidak menggunakan orang luar.

“Untuk interior cafe ini murni kami pakai Orang Asli Papau untuk lukisan di dinding dan konsep desing cafe ini. Lukisan yang di samping kanan tampak indah lukisan pesona alam karya Hendrikson Ayomi (asal serui) serta pernak-pernik khas Papua yang digantung terbuat dari barang barang rongsokan dan benda budaya papua, sementara di sebelah kiri cafe ini terdapat sebuah Library (Perpustakaan) perangkat music, serta Televisi (TV) dan juga pas bunga,” katanya.

Ulin mengatakan, ide untuk mendirikan cafe ini berawal dari insiatif pasangan muada Ulinety Eva dan Uccu Bartholomeus. Kebetulan, ia memunyai koleksi buku banyak kemudian mereka berdua bersepkat untuk tak hanya mendirikan cafe. Tapi harus ada perpustakaan dalamnya ada cafe. “Cafe ini baru didirikan tanggal 29 Mei 2017, baru berjalan lima bulan. Karyawannya di ambil orang Asli Papua berjumlah 5 orang termasuk Ulin Epa dan suaminya Uccu Bartholomeus,” katanya.

Eva mengatakan, dengan hadirnya cave ini, mereka ingin memberikan inspirasi kepada siapun terlebih khsus Orang Asli Papua, karena tidak banyak cafe yang dipunyai anak anak Papua. “Kami juga inginkan agar menu-menu asli Papua itu dijual di cafe-cafe tidak harus di jual pasar-pasar oleh mama mama papua saja. Sebab kalau kami mengunjungi cafe lain minim sekali menu lokal Papua. Agar kami tidak hanya menjual makan pitza dan sebagainya. Tapi orang datang juga bisa makan sagu bakar, papeda, di cafe ini,” kata Ulin Epa.

Ketiaka ditanya Kenapa ada perpustakaan di cafe ? Ulinety Eva mengatakan, Ia, sengaja menyedikan ruang untuk perpustakaan di cafenya. Karena menurutnya minat baca di Papua dan di Jayapura itu sangat rendah. Kemudian tidak banyak perpustakaan yang ada, akses untuk mendapatkan buku itu sangat susah. Lebih parah lagi buku yang dijual sangat mahal. “Saya berfikir bahwa di Ibu Kota Provinsi saja seperti begini apalagi di kabupaten lain di Papua, Jadi ketika orang berkunjung ke SundShine Cafe And Library mereka tidak hanya duduk nongkrong sambil mencicipi hidangan. Tetapi mereka bisa membaca buku-buku yang disedikan” katanya.

“Buku-buku yang di taru di perpustakaan tersebut, ialah, buku biografi pemimpin besar di dunia, buku bahasa inggris, buku-buku politik. Sebab diyakininya dengan adanya perpustakaan ini bisa mendorong anak Papua lain juga untuk membuka taman-taman baca atau perpustakaan di lingkungannya. Sebab baginya perpustakaan itu bukan sesuatu yang tiak lazim pada lingkungan kita,” kata Ulin Epa.

Lanjut Ulin Epa, di SundShine Cafe and Library, mereka menyajikan menu khas Papua dan menu yang biasanya di jual di cafe lain. Untuk menu khas Papua ada keladi Singkong Goreng, Singkong Rebus, Papeda Kuah Kuning, Sagu Bakar, Sagu Dadar, Sagu Gulung dan lainnya. Selain makanan juga mereka menyajikan minuman yakni Arbica Oksibil and Wamena Coffe Only, Kopi Susu, Ekstra Jos Susu, Aneka Juice, Aneka Sirup, Teh Hangat, Espreso, Ceffe Late, Flat White, Espresso Imchiato, Cappu Cino, Caffe Mocha dan sebagainya.

Dikataknnya, alasan mereka memilih menu Papua ini karena, jangan orang menjual serta mempromosikan kuliner papua. Kalau Papeda hampir di rumah-rumah makan sudah ada. Tapi sagu bakar itu jarang orang tidak bisa temukan dengan gampang. Kalau ada acara atau festival baru orang berjualan sagu bakar.

“Kami inginkan agar menu-menu ini harus hadir di cafe-cafe lain juga. Ini insitif kami agar cafe-cafe yang lain juga bisa menjadi contoh. Ini versinya sendiri agar orang ke Papua mereka tidak sulit mendapatkan menu Papua. Agar mereka ke Papua mereka juga bisa menemukan menu-menu Papua yang lainnya bahkan bisa dijadikan oleh oleh untuk keluarga mereka. Intinya bahwa kami ingin banyak menu Papua juga harus di promosikan,” kata Ulin Epa.

Ulin Epa mengatakan, menu yang dijual itu laris atau tidak tergantung pengunjung, mereka mau memesan menu apa, mereka akan mengolahnya dan mengatarkan sesuai pesanan mereka. Sejauh ini menu yang paling laris ialah sagu bakar dan papeda ikan kuah kuning, hampir 80 persen pelanggang mereka membeli papeda bahkan sagu. Selain Papeda menu manis piksi minuman rasa coklat, ada ayam kentaki juga yang diserbu pelanggang.

“Alasan kami menjual menu papua karena dengan begitu kami bisa memberikan kontribusi kepada mama mama papua. Karena kami berli sagu dan bahan bahan baku dari mama-mama papua secara tidak langsung kami bantu ekonomi mereka,” kata Ulin Epa.

Ulin Epa mengatakan, jumlah karyawan 6 orang termasuk saya dan suami. Dua orang pelayan koki kami berjumlah 3 orang termasuk saya dan suami kami turun ke dapur sendiri, seorang ibu tanta saya. ia yang memasak makanan ala papua sagu bakar dadar sagu, papeda dan ikan kuah kuning.

“Untuk pengunjung 30-40 persen setiap harinya. Kalau pagi tidak terlalu ramai, mulai siang hingga sore itu baru biasanya banyak orang yang datang mengunjungi cafe mungkin karena mereka instirahat, ada yang pulang dari kantor untuk cari makan di cafe ini,” katanya.

Pemilik SundShine Cafe & Library Uccu Bartolomeus mengatakan, pihaknya menghadirkan cafe dan perpustakaan tak hanya untuk kepentingan komersil semata, melainkan usaha tersebut pihaknya dapat memberikan inspirasi dan berkembang bebas.

“Kami ingin melakukan hal-hal yang berdampak sosial mungkin tidak secara langsung atau berkoar koar, namun dengan datang ke cafe ini kami mengharapkan pengunjung bisa mendapatkan ispirasi dan berkembang liar,” kata Uccu.

Berdasarkan pantauan tirupapua, Sund Shine Cafe And Library setiap hari dihadiri pengunjung dari berbagi penjuru di Kota Jayapura. Mereka datang ada yang bersantai, berdiskusi, ada yang berpacaran, ada wartawan juga yang datang tik berita, dan juga banyak anak-anak sekolah sesuah sekolah mereka singgah di cafee tersebut.

Tinggalkan Balasan