Penanganan Korban Kebakaran di Pasar Arso II, Masih Tarik Ulur Antara Pemda dan Pedagang

Wakil Bupati Keerom, Muh. Markum, SH, MH dan Koordinator korban kebakaran, Abdul Hamid. (Foto : dok. lingkarpapua)

 

LINGKARPAPUA.COM, KEEROM– Pemerintah Kabupaten Keerom memberikan dua pilihan bagi 8 Kepala Keluarga (KK) yang rumah sekaligus tempat usahanya berdagang yang ludes dilalap si jago merah, pindah ke Pasar Aividjan Swakarsa atau dibantu membangun rumahnya kembali dengan syarat status tanah harus jelas.

Namun belakangan nampaknya terjadi perbedaan pilihan antara harapan Pemda Keerom maupun harapan para korban yang semuanya adalah pedagangan tersebut.

Perwakilan korban, Abdul Hamid saat ditanyai perihal keputusan para korban mengungkapkan, setelah melakukan musyawarah disepakati meminta Pemda Keerom untuk menunda relokasi para korban ke Pasar Aividjan, dengan alasan saat ini pasar tersebut tidak representative untuk ditempati terutama dari sisi usaha dagang yang diguluti para korban selama ini.

“Kalau hasil kesepakatan warga korban, sepakat menolak di relokasi ke Aividjan dalam waktu dekat, jangan dulu kata mereka karena kita jualan di Pasar Aividjan saat-saat ini siapa yg mau belanja,” ujar Abdul Hamid dalam sesi wawancara via chatting Facebook di akun pribadinya, Kamis (25/1/2018).

Dengan keputusan itu dapat disimpulkan bahwa para korban lebih memilih untuk dibantu dibangun kembali rumah dan tempat usahanya dilokasi yang sama, seperti tertuang didalam salah satu opsi yang diberikan Pemda Keerom.

Walaupun dari keterangan Abdul Hamid keputusan tersebut belum dilaporkan secara tertulis kepada Pemda Keerom.

Namun nampaknya hal berbeda diinginkan oleh Pemda Keerom, dari hasil wawancara dengan Wakil Bupati Keerom Muh. Markum, Selasa (23/1/2018) nampaknya Pemda Keerom lebih berharap para korban mau di relokasi ke Pasar Aividjan. Apalagi pasar sentra Keerom tersebut rencanannya akan diaktifkan pada bulan April mendatang.

“Itu belum final ya (soal keputusan para korban). Saya tetap berusaha agar mereka menempati Pasar Aividjan,” kata Wakil Bupati saat ditemui seusai meninjau kantor otonom.

Disinggung soal informasi keinginan para korban tetap bertahan dilokasi lama, Wakil Bupati kembali menyinggung soal keabsahan status tanah. Namun dirinya enggan membeberkan informasi status tanah yang ditempati para korban selama ini.

“Status tanahnya, tanya mereka jangan tanya saya memangnya saya yang punya tanah,” ungkap Markum sambil berlalu.

Abdul Hamid ketika ditanyai soal status tanah milik para korban, membenarkan bahwa tanah tersebut selama ini bukan milik para korban, namun masih menjadi milik pemilik hak ulayat. Selama ini para korban hanya mengantongi ijin guna dari pemilik hak ulayat, sehingga berani untuk membangun tempat usaha.

“Memang status tanah tidak bisa diubah jadi hak milik pribadi, yang ada hak pake karena sebagian masuk hak jalan sebagiannya lagi masuk bantaran kali, jadi yang bisa kami punya hanya ijin dari pemilik hak ulayat atau masyarakat adat,” ungkap Hamid, sambil menjelaskan walaupun hanya dapat ijin dari pemilik hak ulayat tidak pernah terjadi masalah soal penggunaan tanah tersebut baik dari masyarakat maupun pemilik sendiri.

Bahkan diceritakan Hamid, pada tahun 90-an ketika masih Bupati Pembantu yang dijabat Billy Jamblean (masih Kabupaten Jayapura) direncanakan akan dilakukan relokasi pasar tersebut, namun penolakan datang dari pemilik tanah Mikel Nawyagir dan Ivo Gibers yang saat ini telah alamarhum.

“Mereka berdua menolak dengan tegas rencana Pembantu Bupati saat itu dengan alasan masyarakat kami belanja harus ke Arso II (masyarakat belanja terlalu jauh),” ceritanya yang bermaksud bahwa keberadaan pasar arso kota selama ini sangat membantu masyarakat sekitar untuk berbelanja.

“Saya sudah menghadap Bapak Wakil Bupati secara pribadi memohon agar tunda rencana relokasi untuk sementara sebelum fasilitas Pasar Aividjan dan penunjang lainnya bagus. hasil musyawarah kami dengan pihak korban ya jangan dulu, berarti menolak direlokasi karena sumber kehidupan di Pasar Aividjan blm bisa memenuhi,” paparnya yang berharap Pemda Keerom dapat mengerti alasan para korban menolak direlokasi. (***)

Reporter         : Alfred Kaempe
Editor              : Walhamri Wahid

The post Penanganan Korban Kebakaran di Pasar Arso II, Masih Tarik Ulur Antara Pemda dan Pedagang appeared first on lingkarpapua.com.

Tinggalkan Balasan