Pilgub Papua, ‘Gawean Demokrasi’ Pecah Belah ?

ilustrasi. (foto : bumantaranews.com)

 

Berbaik hatilah pada rakyat, stop memecah belah generasi Papua dengan jemari di media social. Membangun team dengan lintas team, membangun network dengan mengurai jaringan kusut dengan cara-cara yang berbeda. Karena dalam politik tidak ada musuh yang abadi karena tanpa kepentingan, musuh adalah sahabat bermain kita, mari percaya dengan kebaikan-kebaikan orang lain, memahami politik sebagai landasan kebijakan untuk membangun Tanah Papua yang damai dan sejahtera. Berbuatlah yang berbeda untuk masa depan generasi Papua.

Oleh : Karmin Lasuliha*

Orang-orang meributkan gawe demokrasi yang menghancurkan tatanan nilai-nilai. Warisan budaya di Tanah Papua tidak mengajarkan keributan-keributan tak bermoral. Adat Papua melihat perang sebagai seni membangun tradisi bukan cara-cara picik yang serampangan dan tidak beralur. Budaya bangsa disini memberi arti kematangan berpikir dan bersikap karena Papua melahirkan hal itu sedari dulu.

Mempolitisir nilai-nilai budaya akan menjadikan kita tidak beradab, jauh mengahargai sesama dengan segala langkah gerak kita dan tidak ada nilai bhaktinya.

Sebelum gawe demokrasi Pilgub Papua berkumandang semangat generasi kita menggelora, membicarakan nilai-nilai positif membangun dan memberdayakan anak bangsa. Seminar dan diskusi-diskusi kebersamaan dan keberagaman menjadi pilar penting membicarakan masa depan generasi Papua.

Gawe demokrasi menghancurkannya, semua menjadi terbalik, anak-anak bangsa saling mencibir menjatuhkan. Melihat saudara berdasar warna identitas politik dan dukungan suara.

Gawe demokrasi telah menjadi tumbal perpecahan sesama kita generasi Papua. Dukungan dua kubu di Pilgub Papua akan menyebabkan hilangnya semangat batu-batu barapen, tifa dan noken serta honai-honai terbakar api emosional.

Tulisan dan status-status media social menjadi kejahatan internet yang selama ini kita takutkan. Rangkaian kata di ukir menjadi kalimat-kalimat pembunuhan karakter yang jauh dari kampanye Papua Tanah Damai. Musuh kita saat ini adalah diri kita sendiri, sekali lagi tumbal kejahatan adalah diri kita sendiri.

Kita memulai seni dengan cara tradisonal, meludahi muka kita sendiri. Tidak memikirkan nasib anak-anak bangsa di pelosok-pelosok daerah dengan menjual dan membeli suara mereka tanpa rasa malu.

Kunci utama perebutan kekuasaan terletak pada kemahiran orang-orang berkarakter dari team-team pemenangan. Saya sarankan kepada mereka yang subjective untuk belajar cara-cara yang kita anggap tidak relevan seperti Pramuka.

Menurut seorang sastrawan E.S Ito, bahwa Pramuka jelas siap melakukannya, Pramuka memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk operasi intelijen. Bila tokoh muda alergi bekerjasama dengan BIN, BAIS atau Intelkam Polri, mereka bisa menggunakan keterampilan teknis Pramuka.

Bukankah dalam era Iptek dimana kita senantiasa ketinggalan ini yang dibutuhkan adalah keterampilan sandi pada tingkat yang sangat dasar untuk kepentingan intelijen. Pramuka, bukan tokoh muda, memiliki keterampilan tersebut. Mereka menguasai morse, smaphore dan tentu saja sandi-sandi jejak menggunakan batu,rumput dan ranting.

Jadi belajarlah kepada Pramuka, mereka bekerja tanpa koar-koar. mereka menjalankan misi-misi pemenangan dengan tenang dan berkarakter. Bertindak sesudah berpikir secara matang sehingga memberi dampak untuk kemenangan strateginya.

Jika anda-anda yang subjektif mendukung Bakal Calon Gubernur, meributkan strategi dan berselisih paham tanpa dasar pijak, maka saya merekomendasikan anda untuk menemui anak-anak berseragam coklat itu untuk belajar morse dan sandi-sandi pemenangan.

Memenangkan hati rakyat harus belajar dari adat kebiasaan mereka, makan dan tidur bersama mereka. Mampu mengidentifikasi apa kemauan mereka. Apakah LUKMEN dan JOHSUA selalu bersama mereka ataukah tidak ?.

Ini menjadi pertanyaan penting dalam politik di Papua, apakah politik gunung VS pantai dalam perspektif nilai-nilai hidup bersama yang ditulis sendiri oleh Jhon Wempi Wetipo (JWW) dalam bukunya dapat di implementasikan? Ataukah hanya menjadi wacana ilmiah yang tertata rapi di rak-rak buku para politisi.

Mungkin juga buku yang di tulis Sendius Wonda mengenai Gubernur Papua Tokoh Pluralis, Moderat dan Modern yang menceritakan perjalanan hidup seorang Lukas Enembe hanya menjadi catatan kelam perjalanan seorang anak koteka.

Saya membayangkan buku-buku apik dengan ulasan yang menggugah rasa para pembaca ini menjadi mubazir tak terpakai. Semua menjadi khayalan dengan pertarungan politik adu domba, hitam putih dan cipta kondisi.

Manfaatkan suara rakyat karena suara rakyat berasal dari para-para adat atau honai-honai orang tua untuk menggugah suara one man one vote.

Berbaik hatilah pada rakyat, stop memecah belah generasi Papua dengan jemari di media social. Membangun team dengan lintas team, membangun network dengan mengurai jaringan kusut. Gunakan cara-cara yang berbeda yang tidak dimiliki politisi-poltisi lain diluar sana.

Jangan ada musuh yang abadi karena tanpa kepentingan musuh adalah sahabat bermain kita, mari percaya dengan kebaikan-kebaikan dari orang lain. Mari memahami politik sebagai landasan kebijakan-kebijakan untuk membangun Tanah Papua yang damai dan sejahtera. Berbuatlah yang berbeda untuk masa depan generasi Papua. *(Penulis adalah pegiat politik, Direktur Lembaga Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik LINGKAR PAPUA tinggal di Jayapura)

The post Pilgub Papua, ‘Gawean Demokrasi’ Pecah Belah ? appeared first on lingkarpapua.com.

Tinggalkan Balasan