MELAWAN LUPA : NAPAK TILAS PENGABDIAN LUKAS ENEMBE MEMBANGUN PAPUA ( BAGIAN I )

MELAWAN LUPA : NAPAK TILAS PENGABDIAN LUKAS ENEMBE MEMBANGUN PAPUA ( BAGIAN I )

Oleh : Adrian Indra, S.Sos ( Pengamat Politik dan Pembangunan Papua )

TAHUN 2013

   Bulan Maret 2018 ini, Gubernur Papua Lukas Enembe, akan meletakkan jabatannya sebagai Gubernur Provinsi Papua periode 2013-2017. Apa yang telah diperbuat oleh Lukas Enembe selama rentang waktu periode tersebut ? dan bagaimana Strategi Lukas Enembe dalam menata pembangunan Papua ? serta bagaimana bukti nyata hasil pembangunan yang telah dikerjakan itu pada saat ini ?

   Pertanyaan seperti ini pasti akan muncul dari masyarakat Papua maupun masyarakat Indonesia lainnya sebagai suatu bentuk penilaian umum. Karena dari indikator-indikator penilaian umum inilah, akan didapatkan suatu jawaban mutlak dan tidak bisa terbantahkan, apakah Lukas Enembe berhasil atau gagal dalam membangun Papua.

   Untuk sekedar mengingatkan kembali dan melawan lupa, bahwa ketika Lukas Enembe menerima jabatan Gubernur Provinsi Papua pada bulan April 2013, Kondisi Papua saat itu, sebahagian besar masyarakatnya masih berada dalam keadaan 5 K ( Ketertinggalan, Kemiskinan, Kebodohan, Kematian, keterisolasian ). Begitu juga dengan kondisi tata pemerintahan di Provinsi Papua, yang belum tercipta suatu kesatuan langkah dan pandangan dengan DPRP, MPRP, Tokoh Masyarakat adat, Tokoh Agama. Papua juga sejak ditetapkannya sebagai daerah Otonomi khusus tahun 2001 masih belum memiliki RPJP ( Rencana Pembangunan Jangka Panjang ) dan Juga RTRW ( Rencana Tata Ruang Wilayah ) Provinsi Papua yang belum diperbaharui sejak tahun 1993. Begitu juga dengan tata Admintrasi dan tata Keuangan Pemerintahan Provinsi Papua yang masih berantakan, contohnya adalah asset-aset Pemprov Papua yang tidak jelas dan tidak terdata dengan baik keberadaannya.

    Kita semua bisa bayangkan, betapa beratnya tugas dari Lukas Enembe pada saat ini dan untuk bisa membereskan semua itu, diperlukan kerja super keras atau “ kerja gila”. Dan hanya seorang pemimpin yang mempunyai semangat kerja membara saja dan pemimpin memiliki pemikiran yang Visioner saja yang mampu menyelesaikan semua keadaan Papua yang ada pada saat itu. Dan suatu strategi yang BRILYANT juga sangat diperlukan guna menyusun suatu program kerja dengan skala prioritas yang tinggi. Lalu dimulailah kerja keras itu, dengan kondisi yang serba terbatas dan pekerjaaan yang harus diselesaikan banyaknya bergudang-gudang, Lukas Enembe merasa yakin bisa mengatasi semua masalah itu, untuk membawa Papua keluar dan 5 K (Ketertinggalan, Kemiskinan, Kebodohan, Kematian, keterisolasian ) menuju cita-cita Papua Bangkit, Mandiri, Sejahtera. Ada beberapa program kerja STRATEGIS yang sangat penting yang harus dibenahi terlebih dahulu oleh Lukas Enembe, yaitu konsilidasi dan menyatukan presepsi serta pandangan dengan DPRP, Tokoh Adat, Tokoh Agama dan juga Forkompinda Papua.

  Lukas Enembe menyadari, ada tiga pilar utama pembangunan di Papua, yakni adat, agama, dan pemerintah. Ketiga pilar utama itulah yang harus dipegang secara kuat dan Lukas Enembe harus menjaga dan membina agar 3 Pilar utama ini tetap tetap kompak dalam membantunya untuk membangun Papua. Tahun pertama ini, Lukas Enembe memang bekerja sangat super keras dan jarang istirahat atau juga tidur yang cukup. Lalu, perlahan tapi pasti, kerja kerasnya mulai memperlihatkan hasil,  dalam enam bulan pertama menjadi Gubernur Papua, Lukas Enembe telah berhasil menetapkan skenario rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Papua 2005-2025. Demikian juga, dapat ditetapkan rencana tata ruang wilayah provinsi (RTRW) Papua 2013-2033, guna memperbarui RTRW Papua yang telah dimiliki pada 1993. Ini suatu pencapaian yang sangat luar luar biasa. RPJP dan RTRW ini sangat penting sekali dalam menata suatu rencana pembangunan Papua. Kita bisa bayangkan, apa jadinya jika seorang Gubernur Papua, memipin Provinsi Papua yang bekerja tanpa RPJP. RTRW dan tidak didukung oleh DPRP, Tokoh Adat serta Tokoh Agama. Dan juga kita bisa membayangkan, apa jadinya jika seorang Gubernur Papua memipin Papua dengan kondisi tata kelola pemerintahan dan tata kelola keuangan yang amburadul ?

    Lukas Enembe tidak menginginkan kondisi seperti itu di Papua, Lukas Enembe sangat peduli pada setiap aspek yang menyangkut peraturan dan aspek legal formal serta program yang jelas didalam memimpin Papua. Lukas Enembe, secara tidak sadar telah menata suatu kondisi tata kerja adminitrasi modern dalam pemerintahan provinsi Papua. Lukas menyadari, seorang Pemimpin Papua harus memiliki ketulusan dan komitmen membangun Papua. Siapa pun boleh pidato dengan hebat tetapi tanpa komitmen dan ketulusan maka Papua tetap tertinggal. Pemimpin Papua  harus memahami masih banyak warga Papua yang menderita, banyak rumah tidak layak huni, banyak masyarakat hidup dalam kemiskinan.

“Papua harus menuju peradaban baru. Peradaban yang penuh nilai dan kasih. Seorang pemimpin di Papua tidak boleh mencari hidup, tetapi keseluruhan pikiran dan tenaganya harus dicurahkan ke masyarakat Papua,” ( Lukas Enembe )

Lukas juga melihat pada saat itu, otonomi khusus di Papua belum berjalan maksimal karena dana otonomi khusus yang dikelola provinsi selama ini belum dibagi merata sehingga ada kawasan yang maju, tetapi ada juga kawasan yang masih tertinggal.

Lukas Enembe harus mengadakan beberapa REVOLUSI atau suatu terobosan berani yang luar biasa, REVOLUSI tersebut ialah  dalam hal mengatur Pembagian Skema Anggaran Pembangunan di Papua, REVOLUSI Kebangkitan Olah Raga Papua, REVOLUSI Peningkatan Indexs Pembangunan Manusia Papua, REVOLUSI Kebangkitan Pengusaha Asli Papua,  REVOLUSI bidang Pendidikan dan Kesehatan di Papua, REVOLUSI Membuka daerah terisolir di pedalaman Papua dan REVOLUSI MENTAL Masyarakat Papua yang pada saat itu masih banyak yang suka meminum Miras.

Lukas Enembe juga akan mengibarkan bendera PERANG terhadap Miras serta Lukas Enembe juga harus mengadakan REVOLUSI terhadap pengelolaan dan penerimaan Sumber Daya Alam Papua.

( BERSAMBUNG )

Tinggalkan Balasan