MELAWAN LUPA, LUKAS ENEMBE MEMBANGKITKAN REVOLUSI KEBANGKITAN OLAH RAGA PAPUA

MELAWAN LUPA, LUKAS ENEMBE MEMBANGKITKAN REVOLUSI KEBANGKITAN OLAH RAGA PAPUA

( NAPAK TILAS PENGABDIAN dan KERJA GUBERNUR LUKAS ENEMBE 2013-2017)

    Lukas Enembe adalah tipikal pemimpin Papua, yang tidak banyak bicara, baginya kerja dan pengabdian yang nyata pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat Papua lebih utama. Kondisi seperti ini, menyebabkan para Journalis harus bekerja keras untuk menggali berita-berita tentang bidang-bidang yang telah berhasil dikerjakan dengan baik oleh Lukas Enembe. Sudah menjadi tugas Journalis, agar bisa menjelaskan kembali kepada masyarakat Papua, hasil yang telah dicapai oleh Gubernur Papua dalam berbagai bidang selama periode masa pemerintahannya. Lukas Enembe selain membangun bidang Tata Kelola Pemerintahan Adminitrasi Modern di Papua, juga terobosan yang luar biasa di bidang  Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi Kerakyatan, Infrastruktur, Kerukunan Umat Beragama, Adat dan budaya, Pengelolaan Sumber Daya Alam, nyatanya tidak lupa juga bekerja keras membangun bidang Olahraga Papua. Karena banyaknya bidang yang telah berhasil dibangun oleh Gubernur Lukas Enembe, maka tidak salah jika banyak orang mengatakan bahwa Lukas Enembe telah membawa Papua ke suatu PERADABAN BARU, atau dalam bahasa umumnya, ini dinamakan REVOLUSI PERADABAN. Dalam tulisan kali ini kita Kupas tentang kerja yang telah dilakukan Lukas Enembe dalam suatu REVOLUSI KEBANGKITAN OLAH RAGA PAPUA.

   Jika tulisan ini tidak kita angkat kembali, sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat, suka lupa atas segala sesuatu yang telah susah payah dibangun oleh pemimpinnya. Dalam masa kepemimpinan Gybernur Lukas Enembe, Presiden Joko Widodo sudah meletakkan batu pertama untuk membangun Stadion Utama PON XX di Kampung Harapan, Jayapura. Peletakan batu pertama ini menandai dimulainya persiapan sarana dan prasarana pendukung PON di Papua yang akan dilangsungkan di sejumlah kota seperti, Mimika, Timika dan Biak. Dan nilai plus lainnya, bangkitnya Papua ternyata juga mendapat perhatian besar dari Presiden Joko Widodo. Berbagai pembangunan juga turut digalakkan oleh pemerintah pusat. Diharapkan momentum ini dapat memacu kebangkitan olahraga di Provinsi Papua. Salah satunya, prestasi olahraga Papua di tingkat Nasional. Saya mengungkapkan bahwa peringatan Haornas ke 33 tahun 2016 ini merupakan saat-saat yang penting bagi masyarakat olahraga di Papua.

” Saya mengharapkan,  seluruh elemen masyarakat di Provinis Papua, dapat bersatu padu dalam mendukung Papua menjadi tuan rumah PON XX tahun 2020. Papua harus bisa membuktikan bahwa atlet Papua dapat berbicara banyak di PON Jawa Barat, sehingga ketika menjadi tuan rumah, Papua bisa benar-benar siap untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Papua” ( LUKAS ENEMBE )

Olahraga bagi orang Papua adalah harga diri. Lewat olah raga pula jati diri orang Papua diangkat dan dikenal. Segudang prestasi di level nasional, regional dan internasional sudah diukir anak-anak  Papua pada berbagai cabang olahraga. Indonesia pun turut bangga. Membangun reputasi negara melalui soft power menjadi alternatif di tengah ketidakpastian ekonomi global yang saat ini melanda dunia. Diplomasi kebudayaan dan diplomasi gastronomi menjadi pilihan selain tentunya diplomasi olahraga.

   Tidak salah bila Presiden Jokowi ingin lebih mengangkat harkat dan martabat negara melalui olahraga paling populer di negeri ini yaitu sepakbola. Namun, untuk mencapai tujuan diperlukan usaha yang keras dan melalui jalan yang sangat panjang dan terjal. Diperlukan beberapa langkah-langkah strategis untuk mencapai harapan tersebut. Sebagai cabang olahraga yang sangat populer di negeri ini, sangat wajar bila masyarakat ingin segera menjadi saksi tampilnya tim nasional kita sebagai kampiun di berbagai event internasional. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam berbagai kesempatan memberikan pernyataan bahwa perbaikan sepakbola nasional saat ini merupakan sebuah momentum besar untuk melakukan total football, artinya semua pihak harus bergerak untuk melaksanakan perbaikan tersebut.

Di era Presiden Jokowi inilah harus dimulai perbaikan-perbaikan tersebut. Tata kelola sepakbola yang salah kaprah, penyelewengan anggaran dari pemerintah dan FIFA, buruknya fasilitas serta diabaikannya asas fair play yang marak terjadi di masa lalu, harus diakhiri. Keterlibatan berbagai stakeholders sangat diperlukan, tidak hanya pemerintah pusat dan PSSI sebagai induk organisasi sepakbola nasional, tapi juga BUMN, pemerintah daerah, sekolah dan masyarakat.

   Sejarah mencatat keberhasilan Presiden Nelson Mandela dalam mempersatukan dan mengharumkan negerinya melalui olahraga favorit  Afrika Selatan yaitu rugby. Setelah terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan, Mandela berusaha mempersatukan negerinya yang terpecah akibat politik apartheid, dan meyakini bahwa hanya dengan pendekatan soft power negaranya akan kembali bersatu.  Kutipannya yang terkenal dalam buku Conversation with Myself, sport has the power to change the world, it has the power to inspire and it has the power to unite people in a way that little else does. Sport can create hope where once there was only despair. It is more powerful than government in breaking down racial barriers. Di tengah berbagai capaian positif yang dilakukan di pemerintahan Presiden Jokowi, kita harus optimis bahwa sepakbola Indonesia di masa yang akan datang.

PAPUA LOKOMOTIF OLAHRAGA INDONESIA

   Papua dengan kondisi alamnya dan sejarahnya itu, sudah lama terkenal sebagai produsen bakat-bakat ( sepakbola, seni, dan olahraga lainnya ) terbaik di Indonesia. Khusus  dalam bidang sepakbola kualitas dari para pemain Papua adalah jaminan mutu, tak perlu diragukan lagi. Meskipun sering tersandung oleh berbagai masalah di luar dunia sepakbola, para pemain asal Papua adalah pesepakbola dengan kualitas di atas rata-rata negeri ini. Yang identik dari bumi Papua adalah mereka selalu melahirkan para pemain hebat di posisi penyerang atau penyerang sayap walau ada sejumlah pemain bertahan. Bek Persib Bandung asal Papua contohnya, Yanto Basna, juga dalam sebuah kesempatan pernah berujar bahwa posisi pemain bertahan bukanlah favorit bagi para pemain Papua. Yanto berujar bahwa di Papua seorang pesepakbola baru akan disebut hebat apabila bermain di posisi menyerang karena bisa melewati lawan dan mencetak gol. Meskipun demikian Papua sebenarnya juga melahirkan talenta-talenta hebat di posisi pemain bertahan. Mulai dari Yohanes Auri, Aples Tecuari, Jack Komboy, Ricardo Salampessy, termasuk Yanto Basna yang dalam kurun waktu setahun terakhir banyak menjadi bahan pembicaraan. Dalam olahraga sepak bola, pemain hebat yang lahir bukan hanya penduduk asli Papua, penduduk Non asli Papua yang kelahiran Papua juga ikut terlahir bakat istimewanya. Contohnya adalah seorang pemain bernama Muhammad Tahir.

Nama Tahir mencuat ketika memperkuat Persipura Jayapura di ajang Piala Bhayangkara. Ia bersama Osvaldo Haay, Petrus Paitoni Towolom, dan Yance Wenda, menjadi pemain-pemain Persipura U-21 yang dipromosikan oleh pelatih Osvaldo Lessa kala itu untuk memperkuat tim senior. Dan Tahir menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian. Feri Yohanes Pahabol adalah seorang pemain sepak bola Indonesia yang berasal dari Yalimek Angguruk Kabupaten Yahukimo ia termasuk salah satu pemain penyerang terbaik yang dimiliki Tim Gabus Sentani Persidafon Dafonsoro. Ia lahir pada tanggal 01 Juni 1992 di Angguruk Yalimek dan saat ini di termasuk salah satu skuad pada klub Persidafon dan karena pengalaman yang dimilikinya Yohanes kerapkali menjadi seorang penyerang pada klub yang dibelanya Persidafon.

MAKNA OLAHRAGA BAGI MASYARAKAT PAPUA

     Duta-duta olahraga asal Papua ini tak hanya mengharumkan nama Papua, tapi juga bangsa Indonesia di ajang internasional. Sebut saja Lisa Rumbewas yang sukses meraih medali perak pada Olimpiade tahun tahun 2000 di Beijing, Perlina Karoba dengan medali perunggunya di Asian Games Doha Qatar, Ruli Nere dan Metu Duaramuri di cabang sepak bola. Pada level Asia Tenggara, ada Franklin Burumi yang sukses merebut medali emas pada Sea Games di cabang atletik untuk nomor bergengsi 100 meter.

Di era sebelumnya, pada cabang atletik, para pendahulu Franklin Burumi juga  mencatat prestasi yang sama.  Medali emas selalu diraih atlet-atlet Papua seperti Fredy Mahuze di nomor lempar lembing, Ismail Sroyer di nomor lontar martil, Julius Uwe di nomor dasa lomba. Di cabang tinju, ada Benny Ele­pore, Robert Kekry di cabang gulat, Novelus Yoku cabang karate. Untuk olah raga yang paling digemari di tanah air yakni sepak bola anak-anak Papua juga menjadi magnet di tim nasional saat ini semisal Boaz Solossa.

   Papua sebagai gudang atlet tak henti-hentinya menyumbangkan mu­tiara-mutiara indahnya untuk bangsa Indonesia. Dari era ke era selalu saja ada atlit Papua yang masuk tim nasional pada berbagai cabang olah raga. Untuk tingkat nasional se­perti pekan olah raga (PON), Provinsi Papua selalu ikut serta. Tercatat sudah 12 PON digelar Papua tak pernah absen, mulai dari PON VIII tahun 1969 hingga PON terakhir tahun 2012 di Provinsi Riau. Prestasi yang ditoreh Papua juga membanggakan. Sejak PON X tahun 1997, Papua berada di urutan 8. Pasca PON tersebut, prestasi Pa­pua terus menanjak, dimulai PON berikutnya Papua naik satu strip di peringkat 7. Bahkan pada PON XII, Papua mampu menembus 5 besar dibawa dominasi provinsi-provinsi di Pulau Jaya seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Empat tahun berikutnya, di PON XIII peringkat Papua kembali ke urutan 6. Posisi ini kembali berta­han pada dua edisi PON berikutnya yakni PON XIV tahun 1993 dan PON XV tahun 1997. Sedang di PON XVI tahun 2000 dan PON XVII, Papua bertengger di posisi 7.

Melihat prestasi, potensi atlit dan animo masyarakat Papua terhadap olahraga, Lukas Enembe sebagai Gubernur Papua dan Wakil Gubernur Klemen Tinal SE.MM berjuang menjadikan Papua sebagai Tuan Rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020. Tak main-main, Lukas Enembe dan Wagub Klemen langsung di 100 Hari kerjanya memasukkan agenda Tuan Rumah PON 2020 sebagai program kerja prioritasnya. Untuk meyakinkan kepada semua pihak bahwa Provinsi Papua serius menjadi tuan rumah PON 2020, pada 5 Mei 2013 lalu digelar acara Soul of Papua di bundaran Hotel Indonesia di Jakarta. saya, mengatakan soft lauching Papua me­­nuju tuan rumah PON 2020 me­nunjukkan bahwa Papua sangat siap menjadi tuan rumah PON 2020.

Masyarakat Papua adalah ma­syarakat olahraga. Dengan olahraga, mereka akan menunjukkan semangat persatuan dalam keterlibatan sebagai penyelenggara iven nasional PON 2020, Ini kerinduan mereka,” ( Lukas Enembe ).

Provinsi Papua siap bersaing dengan provinsi-pro­vinsi lain untuk menjadi tuan rumah PON 2020. Selain Provinsi Papua, ada tiga provinsi lain yang juga mencalonkan diri antara lain Sumatera Utara, Aceh dan Bali.Ketua Komisi E DPR Papua, Kenius Kogoya mengaku  DPR Papua mendukung penuh rencana peme­rintah Provinsi Papua untuk menjadi tuan rumah PON 2020. Hanya saja, ada beberapa hal penting yang harus menjadi catatan Pemprov Papua seperti bagaimana meyakinkan pemerintah pusat, KONI pusat, maupun Kementrian Pemuda dan Olahraga sehingga agenda ini benar-benar direalisasikan.

Lobi-lobi ini tak bisa hanya Pemprov sendiri, tapi harus melibatkan DPR Papua,

Kenius Kogoya/DPR Papua )

Kenius juga melihat sejauh ini kesiapan sarana dan sarana penunjang PON masih minim. Namun dari tekad Pemprov Papua, dirinya yakin hal tersebut bisa didorong secepatnya untuk dimulai proses pembangunannya. Tak kalah pentingnya, menurut Kenius adalah segera dilakukan Musdalub terhadap pengurus KONI Papua yang ada saat ini, sebab masa kepengurusannya sudah berakhir. Baginya, Musdalub harus dilaksanakan dalam waktu bulan Juli ini. Setelah soft opening di Jakarta medio Mei lalu, saat ini Pemprov Papua lewat tim yang dibentuk sudah mulai bekerja untuk mewujudkan Papua sebagai tuan rumah PON 2020.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan studi banding di provinsi-provinsi yang sudah pernah mengelar PON, salah satunya adalah Jawa Timur  dan Riau. Selain melakukan studi banding, digelar juga seminar. Menurut Klemen, studi banding dilakukan untuk me­lihat bagaimana kedua provinsi tersebut bisa sukses menjadi tuan rumah pelaksanaan PON.

Setelah Jawa Timur, dalam wak­tu dekat menyusul Riau. Kita ingin seperti mereka. Artinya, jika Papua jadi tuan rumah, tak hanya sukses penyelenggaraan, tapi juga sukses prestasi seperti Jawa Timur,” ( Klemen Tinal )

Wagub Klemen mengatakan be­berapa kabupaten di Papua yang tempat akan menjadi venue digelarnya PON menyatakan dukungannya. Pemkab Sarmi misalnya, sudah bersedia menyiapkan lahan untuk pembangunan venue voli pantai. Target Pemerintah dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat 2016 tercapai. Kontingen Papua dipastikan ada di peringkat delapan PON XIX 2016, setelah meraih medali 17 medali emas,  19 medali perak, dan 32 medali perunggu. Wakil Ketua Koni Papua Jhony Banua Rouw menegaskan kontingen Papua bisa kembali bumi Cenderawasih dengan kepala tegak.

Kita kembali ke
Papua dengan kepala tegak
,” (Jhony Banua Row )

Jhoni mengatakan, raihan para atlet sudah meningkat melihat hasil jumlah medali, bila dibandingkan dengan PON Riau 2016 lalu. Namun ia tidak menampik beberapa prediksi target yang meleset sehingga tak mampu masuk posisi lima besar.

“Secara target disebutnya Papua juga mencapai target masuk sepuluh besar yang dipatok sejak awal,” (Jhony Banua Row )

Meski demikian, pihaknya tetap mengapresiasi perjuangan semua atlet, pelatih, ofisial dan semua pihak yang terlibat. Medali yang diraih merupakan buah kerja keras. Jumlah medali emas Papua disumbangkan masing-masing dari cabor Dansa 2emas, Dayung 4 emas, Berkuda 1 emas, Sepatu Roda 1 emas, Selam 2 3emas, Biliar 2 emas, Atletik 1 emas, Tarung Derajat 1 emas,Binaraga 1emas, Karate 1 emas dan cabor Terbang Layang 1 emas.

PAPUA SENTRA OLAH RAGA NASIONAL

    Menteri Pemuda dan Olahraga ( Menpora) Imam Nahrawi mengatakan, Papua merupakan gudangnya atlet nasional berpotensi. Oleh karena itu menurutnya, ke depannya Papua akan dijadikan sebagai salah satu sentra olahraga nasional.

Menurut pandangan saya, sementara ini olahraga sepakbola akan dipusatkan di Papua,” ( Imam Nahrawi )

Imam juga mengatakan bahwa Kemenpora akan mengeluarkan kebijakan agar setiap daerah, baik provinsi atau kabupaten/kota, harus memiliki olahraga unggulan yang akan menjadi sebuah proyek nasional.

Jadi setiap daerah akan didorong untuk punya olahraga unggulan. Dan untuk merealisasikan itu, harus dimulai dengan vaksinisasi, pembinaan atlet hingga bisa tampil ke kompetisi nasional,” ( Imam Nahrawi )

LUKAS ENEMBE INGIN OLAHRAGA PAPUA BANGKIT

Lukas Enembe, dalam setiap kesempatan selalu menyampaikan keinginan dan harapan yang mulia agar olahraga di Papua kembali bangkit dan mampu meraih prestasi. Hal tersebut perlu direspon dengan baik oleh semua pihak, demikian disampaikan tokoh pemuda yang juga Sekretaris Panitia Kompetisi Divisi III Papua, Hendrik Abidondifu.

 “Saya kira kita semua harus merespon keinginan dan harapan mulia Pak Gubernur tersebut, caranya tentu saja bermacam-macam, dan disesuaikan dengan tanggung jawab dan kemampuan kita, untuk atlet, silahkan merespon sesuai bidangnya, tekuni dunia olahraga dengan serius dan tekun untuk dapat berprestasi, berlatih dan terus berlatih untuk dapat meningkatkan potensi diri, pelatih, harus terus mengembangkan diri dan ilmu kepelatihannya, demikian juga pengurus olahraga, para pengusaha yang mendukung, serta seluruh masyarakat” (Hendrik Abidondifu )

Dengan kebangkitan dunia olahraga Papua, menurut Hendrik, dunia luar tidak lagi berani meremehkan Papua,

Kita punya banyak sekali potensi, tetapi apa yang terjadi, saat ini diluar sana daerah-daerah lain meremehkan kita, itu karena apa, prestasi olahraga kita makin merosot,”  (Hendrik Abidondifu )

Baginya, keinginan dan harapan saya tersebut adalah sebuah ‘Gaung pembuka tabir bangkitnya kembali prestasi olahraga Papua’.

Papua harus mampu menunjukkan kelasnya, kita pernah menjadi tim terbaik selain Pulau Jawa, kenapa saat ini tidak bisa, kita harus bisa, apa yang disampaikan Pak Gubernur adalah karena beliau tidak ingin daerah lain meremehkan kita, untuk itu kita semua harus bahu-membahu dan bekerja sama untuk mewujudkan harapan Gubernur tersebut, itu harapan yang positif, dan mulia, perlu direspon secara baik oleh semua pihak, ini juga menyangkut harga diri orang Papua,” (Hendrik Abidondifu )

GELIAT SEKOLAH SEPAKBOLA LOKAL PAPUA.

Pelatih Sekolah Sepakbola (SSB) Emsyik Papua, Johanes Zonggonao mengatakan (di tabloid Jubi ) sampai saat ini belum ada pihak sponsor di Papua yang mau menggulirkan kompetisi sepak bola usia dini, padahal di Kota Jayapura sudah banyak SSB tetapi belum ada kompetisi anak U12.

 ” Kalau mau bicara masa depan sepak bola Papua harus ada kompetisi usia dini sehingga anak-anak yang sering berlatih bisa mematangkan permainan sepak bola dalam kompetisi yang teratur,” ( Johanes Zonggonao )

Sayang kalau mereka setiap hari berlatih dan hanya tunggu Festival Sepakbola Anak-anak Danone yang bergulir setahun dua kali bisa membuat mereka berlatih tanpa ikut dalam berkompetisi di dalam Kota Jayapura. Senada dengan Zonggonao eks striker Persipura, Yotam Fonataba mantan pemain Persipura dan Persis Sorong mengatakan pemerintah kurang memperhatikan pembinaan usia dini, salah satunya adalah belum ada lapangan sepak bola khusus bagi anak-anak usia dini.

Kalau pemerintah peduli dengan pembinaan usia dini mestinya harus mendukung pembangunan lapangan sepak bola buat anak-anak,” ( Yotam Fonataba )

 Menurut Fonataba pentingnya pembinaan usia dini karena melalui pembinaan dan kompetisi akan melahirkan banyak pemain sepak bola muda Papua di masa depan, sekarang saja tanpa fasilitas dan pembinaan bisa melahirkan pemain.

 “Tetapi pembinaan dan kompetisi menjadi kunci utama lahirkan pemain sepak bola masa depan, ” ( Yotam Fonataba )

Provinsi Papua pertama kali mengikuti Festival Sepakbola anak-anak Danone pada 2007, saat itu anak-anak dari SSB Emsyik Papua mewakili Papua karena meraih juara Zone Papua dan Papua Barat. Saat itu SSB Emsyik masuk sampai ke babak final dan dalam final mereka dikalahkan SSB Karang Gayam dari Surabaya yang diperkuat Evan Dimas dan kawan-kawan. Setahun kemudian 2008 SSB Numbay Star mewakili Papua dan melahirkan bintang muda Terens Owang Puhiri. Sebelumnya di SSB Emsyik telah mencetak pemain muda berbakat saat itu Nelson Alom. Melihat keberhasilan SSB di Papua dalam kompetisi dan festival sepak bola anak usia dini, Benny Pepuho Direktur Akademi Sepakbola Emsyik yakin kalau ada kompetisi yang berjenjang dari usia dini U12, U14 dan U18 sampai U23 digelar di Kota Jayapura akan melahirkan banyak pesepak bola Papua berbakat.

Benny Pepuho yang baru saja menggelar kompetisi senior dalam Liga Emsyik yakin kalau banyak komptisi level klub di Kota Jayapura terus digulirkan akan memberikan sumbangan bagi klub-klub dalam pematangan mental bertanding bagi pemain sepak bola di level klub. Hal ini sangat penting karena selama ini jenjang sepak bola dan klub lebih banyak berkonsentrasi ke level senior sehingga kurang memperhitungkan kompetisi usia dini. Memang dalam kompetisi Indonesia Super League (ISL) menyertai U21 tetapi sebatas klub peserta ISL dan tidak melibatkan semua klub di Indonesia.

Tom Byer salah satu peletak dasar sepak bola di Jepang dalam tulisannya berjudul, Program Kepelatihan Sepak Bola Harus Dibangun Berdasar Kebutuhan Lokal menyebutkan semua tergantung pada negara, pembinaan sepak bola akan terus berlanjut atau terhenti. Sepak bola jalanan amat umum di Amerika Selatan, baru-baru ini salah satu pelatih terbaik di dunia menyebut bahwa mandeknya perkembangan sepak bola di Cina adalah akibat dari kurangnya sepak bola jalanan yang terdapat di negeri tersebut. Anak-anak di Jepang dan Korea tidak bermain sepak bola di jalanan, kedua negara tetap lolos ke Piala Dunia.

     Banyak pelatih yang menganggap konsep sepak bola jalanan sudah usang dan lebih memilih sistem pembinaan usia dini yang kaku. Program kepelatihan sepak bola haruslah lebih alami, artinya program yang dibuat disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Kini sebaliknya, semua negara terus mengimpor orang-orang dari Spanyol, Brasil Italia atau Prancis untuk ‘mengajari’ cara bermain bola. Pada kasus ini, pendekatan yang dilakukan sepak bola Jepang amat menarik. Mereka mencoba belajar sebanyak mungkin dari semua negara yang ada di belahan dunia. Mereka melakukan lokalisasi dan adaptasi agar sesuai dengan kebutuhan sepak bola di negerinya. Jika anda melihat sejarah Japan Football Association (JFA) [PSSI-nya Jepang], anda akan melihat pengaruh dari Jerman, Inggris, Belanda, Brasil, Spanyol, Argentina, Prancis, Korea, Kroasia dan Serbia. Mereka tidak mencoba untuk meniru keseluruhan model negara-negara tersebut, tapi mereka menyaring sisi positif dan segala yang mereka butuhkan untuk membangun sepak bola di negaranya.

Bermodal bakat alam saja ternyata tak cukup kuat untuk memoles seorang pemain sepak bola. Masih butuh pembinaan sejak usia dini di mana disiplin dan rasa percaya diri pesepakbola mulai tertanam. ( Lukas Enembe )

    Christ Yarangga, Aples Tecuari, Ronny Wabia adalah produk pembinaan sepak bola keluaran Diklat Pusat Pembinaan Latihan Pelajar (PPLP) Papua awal 1990-an dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Irian Jaya. Hasilnya lumayan bagus. Mereka bermain bola, tetapi tak pernah melupakan kewajiban mereka untuk belajar. Namun Diklat PPLP Papua tak mampu menampung semua potensi sepak bola yang ada di Papua, termasuk anak anak pelajar Sekolah Dasar (SD) di Kota Jayapura. Melihat animo masyarakat di Port Numbay yang begitu besar, Benyamin Pepuho Pembina Sekolah Sepak Bola (SSB) Emsyk, Waena memberanikan dirinya untuk membuka sekolah sepak bola.

Saya kira hanya kami yang membina pemain sepakbola usia dini di Papua,” ( Benyamin Pepuho )

Mengawali kisahnya merintis SSB Emsyk di Provinsi Papua,  menurut Pepuho, tahun 2003-2004 dirinya mulai menekuni sepak bola dengan mengikuti pelbagai turnamen sepakbola lokal yang digelar di seputar Kota Jayapura.

Waktu itu Carolino Ivakdalam, Kakak kandung Eduard Ivakdalam, play maker Persipura  mengajak kitong untuk bermain sepakbola,” ( Benyamin Pepuho )

Seraya menambahkan, dia mulai membentuk klub sepak bola “dadakan” yang pemainnya terdiri dari anak anak di sekitar kompleks rumahnya untuk ikut Turnamen Sepakbola Gawang Mini Aspol Cup II. Inilah tonggak awal dia mulai  merintis SSB Emsyk yang terbentuk pada 17 Oktober 2003 sekaligus hari lahir SSB Emsyk. Ia secara perlahan mulai mengubah paradigma sepakbola lama menjadi paradigma sepakbola baru pada diri pemain sepakbola usia dini tersebut.

Saya paham bahwa untuk membentuk pemain sepakbola usia dini butuh suatu proses waktu yang panjang. Dasar-dasar sepakbola yang benar perlu ditanamkan sejak anak-anak usia dini, ” ( Benyamin Pepuho )

Jauhkan generasi muda dari prilaku negatif

     Dibawah kaki Gunung Cyclops, Sentani Papua ada sebuah sekolah Bola EMSYK Uni Papua. EMSYK kependekan dari Embun Syklop. Sekolah Sepakbola EMSYK UNI Papua ini ternyata sudah ada sejak tahun 1930. Sewaktu Perang Dunia II pecah, kegiatan EMSYK terhenti. Walaupun terhenti, tetapi semangatnya tetap menurun dari generasi ke generasi. Adalah Bapak Benny Pepuho yang mendorong EMSYK hadir kembali pada 17 Oktober 2013. Walaupun dengan fasilitas yang seadanya dengan jumlah murid yang masih belasan. Perjuangan EMSYK dalam menjalankan cita-citanya tidaklah mudah, beberapa kali terancam tutup, dikarenakan kekurangan dana. Menyiasati hal ini, EMSYK Uni Papua mengajak masyarakat untuk ikut mengelola, dengan harapan EMSYK bisa berkembang lebih besar lagi.

Sekolah Bola Uni Papua ini punya cita-cita sebagai wadah bagi anak-anak, remaja, pemuda Papua dalam melatih kemampuan sepak bola, sebagaimana kita tahu, Papua adalah gudangnya pesepakbola handal. Sekolah sepak bola ini juga harapannya bisa membawa efek positif bagi masyarakat setempat. Sederhananya, ketika pertandingan sepak bola berlangsung, Bapak, Mama, Ade, Kaka, merayakan pertandingan tersebut, sehingga kebiasaan-kebiasaan buruk seperti miras, narkoba, dan seks bebas menjadi diminimalisir. Menurut kawan saya, masalah-masalah ini sudah terlalu serius, dan membuat masyarakat ada dalam lingkaran kebodohan dan kemiskinan.

  1. PEMBERDAYAAN SDM PAPUA

Pemerintah Provinsi Papua prioritaskan Sumber Daya Manusia (SDM) Papua dengan alasan orang Papua harus bangkit dari ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan untuk bersaing di semua lini. Dengan adanya dana otsus yang besar ini pemerintah gunakan mengirim sebagian anak-anak papua banyak banyak keluar Papua untuk bersekolah dibidang-bidang yang dianggap langkah seperti sekolah pilot, dokter, program 1000 doktor, dsb. Untuk bersekolah di kampus-kampus yang begengsi di indonesia bahkan di luar negeri. Upaya pemerintah itu baik dalam memberdayakan orang asli Papua,   banyak SDM kreatifnya yang kurang mendapatkan perhatian, akan segera diperhatikan oleh pemerintah Provinsi Papua untuk mengembangkan karir orang Papua yang berbakat itu untuk bersekolah dan dibiayai oleh pemerintah, seperti musisi, seniman, sastrawan, budayawan, pesepak bola Papua, penulis-penulis di Papua, dsb.

Erol Iba Mempersatukan Bangsa Lewat Sekolah Sepakbola

Ada misi yang khusus yang diemban Erol saat membangun SSB Batik. Melalui sekolah sepakbola ini, dia ingin mencari bakat terpendam plus mengusung semboyan Bhineka Tunggal Ika.  Kecintaan Erol Iba terhadap dunia sepakbola makin tidak terbantahkan. Terbukti, dia mampu mendirikan Sekolah Sepakbola (SSB) dengan kantung sendiri plus biaya pendidikan yang sangat terjangkau. SSB itu bernama Batik, singkatan dari Bhinneka Tunggal Ika. Sesuai namanya, SSB ini tidak hanya diperuntukkan untuk masyarakat Papua, meski lokasinya berada di Bumi Cenderawasih.Berbagai macam suku bangsa seperti Jawa, Batak, Kalimantan dan Sumatera boleh bergabung dengan SSB yang berdiri sejak tahun 2013.

SSB Batik dikhususkan untuk anak usia 8 hingga 21 tahun. Untuk jumlah siswa dibatasi maksimal 150 siswa agar materi latihan bisa berjalan maksimal. Lantas apa tujuan utama mendirikan SSS ini? Kata Erol, dari namanya saja sudah diketahui jika tujuan hakiki mempersatukan bangsa dan negara dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Artinya, tidak ada lagi perbedaan suku, rasa dan agama. Semua menjadi satu dan disatukan dalam sepakbola. Tujuan selanjutnya adalah mencari bakat terpendam di Papua, terutama melakukan hal-hal positif buat anak-anak di Papua. Serta mencari penerus pemain berbakat Papua semisal, Erol Iba, Elie Aiboy, Titus Bonai, Rocky Putirai hingga Boaz Solossa.

Hanya saja prasarana dan sarana saja yang sangat kurang karena belum ada perhatian pemerintah daerah. Untuk latihan satu Minggu tiga kali, latihan juga di lapangan sepakbola dekat rumah. Lapangan itu punya umum untuk warga sekitar komplek. Jadi SSB Batik dapat jatah pakai lapangan siang hari, sementara klub senior di kampung pagi hari,  ( Erol Iba ).

Apa yang ditunjukkan Erol harusnya bisa menjadi panutan semua pihak. Tidak perlu menunggu kaya untuk membantu pemerintah dalam mengembangkan sepakbola, atau hanya mampu melontarkan kritik kepada PSSI. Ayo bersikap dan berikan kontribusi terbaik untuk bangsa.

Menpora Dukung Perkumpulan Sepakbola Sosial UNI PAPUA Gelar Festival Football For Peace Indonesia 2017

      Perkumpulan Sepakbola Sosial UNI PAPUA yang diketuai Harry Widjaja, Manager Andi Hartono, Operasional Isak Kogoya bersama Pelatih Demianus Howay hari Rabu (11/1) sore diterima Menpora Imam Nahrawi di Kantor Menpora lantai 10 Senayan, Jakarta. Didampingi Staf Khusus Olahraga Taufik Hidayat dan Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta, Menpora menyampaikan gerakan ini membantu pembentukan karakter moral pemuda untuk perdamaian, pihaknya akan dukung dan akan melakukan kerjasama.

Terkait festival Football For Peace Indonesia Festival 2017 nantinya harus ada follow up rapi di media sehingga semangatnya tidak hanya untuk menang-kalah, selain perdamaian juga semangat kebangkitan sepakbola tanah air,” ( Imam Nahrawi ).

Menpora berharap even ini dapat  menjadi model diplomasi baru Sepakbola baik di Asia dan dunia sama dengan Presiden yang memiliki rencana besar untuk menjadikan Papua sebagai Provinsi Sepak Bola. Di tengah keterpurukan sepak bola Indonesia, hadir secercah harapan dari Tanah Papua. Sebuah komunitas sepak bola didirikan di ujung timur Indonesia ini.
komunitas sepak bola itu menamakan dirinya Uni Papua. Uni Papua adalah sebuah gerakan sosial yang menjadikan sepak bola sebagai tempat bagi anak-anak untuk menyalurkan bakatnya. CEO Uni Papua, Harry Widjaja, menegaskan organisasinya ingin menggunakan sepak bola sebagai alat Tidak ada batasan bagi anak-anak yang ingin bergabung dengan Uni Papua. Bahkan jika mereka berprestasi, mereka harus siap dikirim ke luar negeri untuk mendapatkan pelatihan sepak bola dan ilmu pengetahuan. perubahan sosial. Tak tanggung-tanggung, Uni Papua langsung mendatangkan pelatih berlisensi dari luar negeri untuk memberi pengajaran bagi anak-anak. Namun mereka juga membuka pintu bagi tenaga pengajar andal yang ingin berpartisipasi.

Rata-rata yang bergabung anak usia 6 sampai 21 tahun, laki-laki maupun perempuan. Kami melihat sejauh mana mereka serius, jika sudah mengikuti enam bulan latihan, baru kita ikut serta di turnamen,” jelas Harry. “Kami di sini mengajarkan juga pada anak-anak untuk menjauhi minuman keras, kampanye HIV/Aids, perdamaian, sosial, dan segala hal yang menyangkut lingkungan.” (Harry Widjaja )

Uni Papua merupakan organisasi anggota dari Football for Hope. Bahkan mereka juga bekerja sama dengan One World Football untuk membagikan bola untuk daerah-daerah yang kurang mampu di Indonesia

Ke depan harus ada ekshibisi UNI PAPUA melawan Sekolah Sepak Bola (SSB) agar menjadi model dan sentuhan baru di turnamen serta kelola dengan baik supporternya,”  ( Imam Nahrawi ).

*/Adrian Indra/pm/2018/

Tinggalkan Balasan